Little Star

Little Star
Merencanakan sesuatu.



Sorin dan Ardi telah sampai di tempat warteg. Suasananya mengasyikkan. Ia mempunyai pengalaman pribadi bersama bapak, makan di warung dekat rumah.


Makanan yang tersedia juga hampir sama. 


Ada gorengan dan macam-macam jajanan tradisional. Memori bersama bapak masih melekat dipikiran Sorin. 


"Lo mau makan apa?" Tanya Ardi bersemangat.


"Emm.. Ada menu apa saja?" Sorin kebingungan memilih makanan yang dia inginkan ini


"Banyak." Ardi menunjuk makanan yang ada didalam etalase. 


"Ada Nasi pecel, Nasi campur, Sayur lodeh, Krengsengan tahu tempe, lihat deh banyak banget lauknya, terserah Lo mau yang mana. Entar gue pesenin." 


Sorin menggaruk tengkuk kebingungan, "Ardi pesan apa?" 


"Gue pesan nasi campur ikan ayam, seperti biasanya." 


"Ouwh.."  


"Lo bingung, Rin?" Ardi menatap Sorin yang masih melihat makanan yang super banyak dan tentunya bermacam-macam.


Ia merasakan kekenyangan hanya dengan melihat saja. Konyol, bukan? Padahal Ardi sudah terlihat kelaparan.


"Rin, masih lama pilihnya?" Memelas Ardi.


"Hehehe…" Sorin terkekeh kecil. Karena merasa lama memilih makanan.


"Samain aja, tapi lauknya telur dadar." Keputusan Sorin yang menggelitik membuat Ardi mengelus dada. Bagaimana tidak? Ia di buat Sorin geleng kepala ada enam menit Ardi menunggu.


"Iya." Akhirnya keputusan Sorin didengarnya.


Ardi tancap gas memesan makanan ke ibu penjual. Sementara Sorin duduk ditengah keramaian di dalam warung. Ia tak sengaja melihat salah satu pembeli seorang bapak dengan anak perempuannya. Anak itu terlihat ceria sambil mengunyah makanan. Namun, di satu sisi, Bapak itu hanya membantu menyuapi anak perempuannya.


Teriris hati Sorin, saat ia mendengar anak itu meminta bapaknya untuk memakannya juga. Bapak itu hanya tersenyum dan mengatakan, "Ayo nak, dihabiskan." 


Mata Sorin berkaca-kaca menyaksikan langsung tanpa jeda. Ia sudah lama tidak menanyakan kondisi bapak di kampung. Karena menurutnya hal itu belum tepat. Tabungan Sorin belum terisi penuh. Tetapi, sampai kapan Ia bisa kembali 


"Kangen sama bapak di kampung." Gumamnya pelan.


Sorin menghela napas panjang. Tangan kanan Ardi mengacak rambut hitam secara tiba-tiba.


"Lagi mikirin apa Rin, kelihatannya berat amat?" 


"Salah lihat kali, Ardi. Aku lagi nunggu makanan." 


Setelah Sorin mengucapkan hal itu, makanan pun datang. Mereka berdua dengan giat memakan makanan yang dipesan.


Di kamar yang luas penuh fasilitas, Ia duduk sambil komunikasi lewat telephone seluler. "Sekarang kalian harus segera ke mari. Ada hal penting yang mau gue sampaikan." 


Henry memerintah salah satu dari bodyguardnya. 


"Siap tuan." Terakhir kali ucapan itu terlontar dari panggilan yang sebelumnya diputus Henry.


PYARR!


Dilihatnya batu berukuran sedang beserta jendela kaca yang berserakan.


"Siapa yang melakukan hal ini?" Henry keluar ke balkon. Ia melihat seseorang berbaju hitam telah memanjat turun dari rumah Henry.


"CK.. Siapa orang itu?! Gak salah, dia yang melakukan hal seperti ini." Mata tajam dan kening Henry berkerut, ia marah kaca jendelanya pecah ulah seseorang.


"Sial !" Henry tak terima.


"Berani-beraninya lempar sembarangan ke rumah gue! Gue harus kasih dia pelajaran!" 


Henry sigap menelphone bodyguardnya untuk segera menangkap pelaku tersebut.


Pintu tiba-tiba saja terbuka, Ia menoleh melihat kehadiran Perempuan yang dibencinya. 


Henry berubah sengit, Perempuan itu semakin mendekat siapa lagi kalau bukan Wenny, perempuan yang akan jadi mama Henry. Keduanya benar-benar terlihat tegang. 


Apalagi keduanya memang tak saling akur.


"Ngapain lancang masuk ke ruangan gue!" Henry memulai pembicaraan dengan pedas. Karena, Nenek sihir tidak pantas masuk ke ruangan pribadi.


"Ini rumah punya suami saya. Terserah saya. Kamu harusnya tak pantas tinggal disini." 


Nenek sihir melipat tangannya ke depan, sambil melirik setiap ornamen ruangan Henry.


Henry mematikan sambungan telephone. Lalu memasukkan ke dalam saku. "Ck.. dasar gak tau diri. Lo itu orang baru di rumah ini, Apalagi kelakuan muka dua. Gak sepantasnya hidup di rumah gue!" Penekanan Henry terdengar jelas menggertak.


"Orang baru seperti nenek sihir, harus diberi pelajaran." Batin Henry memiringkan senyum.


"Kecoak!"


"Kecoak!"


"Kecoak ada dibawah Lo!" Teriak Henry sambil menunjuk ke bawah Wenny.


Wenny histeris ketakutan, Ia memilih keluar dari kamar Henry.


"Rasain Lo! Dasar nenek sihir! Sejak kapan nenek sihir takut kecoak." Batin Henry puas sambil menutup pintu kamar.


Setelah dirasa semua selesai, Henry memilih keluar rumah. Ia akan ke suatu tempat dengan kecepatan penuh. Tak lama Henry berhenti di sebuah toko mainan.


Ia berjalan bak Raja di sebuah istana. Salah satu pegawai menyambut penuh ramah.


"Bisa saya bantu?"


Henry menoleh, lalu menghadap ke pegawai yang memanggil kehadirannya. "Ya kak. Ada boneka?" Dengan percaya diri Ia bertanya.


"Sebelah sini pak." Pegawai perempuan itu menunjukkan tempat boneka yang dijualkan. Semua macam boneka sudah terlihat.


"Owh iya terima kasih."


***


To be continue..