Little Star

Little Star
Gejolak hati.



Sorin sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Ia membawa tas ransel keluar rumah dan pintu sudah rapat terkunci.


Ia terlihat semakin bersemangat melanjutkan sekolah berkat kebaikan Henry. Belum berjalan jauh dari rumah, Henry datang membawa mobil mewahnya.


Henry turun dari mobil, karena ia melihat Sorin berjalan sendirian.


"Sorin. Cepat masuk." pinta Henry yang melihat Sorin terheran.


"Henry? Kenapa dia kemari?" Pertanyaan muncul di otak Sorin yang sedang bergumam sendiri.


Sorin memilih masuk ke mobil, daripada harus menolak kebaikan Henry.


***


Selama perjalanan keduanya belum ada yang memulai percakapan. Henry masih kebingungan melayangkan pertanyaan. Sedangkan, Sorin masih nyaman memandang pemandangan pagi disebelahnya.


Keduanya canggung, karena tidak jadi mengerjakan tugas bersama. Satu hal, mereka merencakan mengerjakan pr setelah Sorin pulang kerja. Itu pun sebenarnya sudah sangat malam.


"Sorin. Lo sudah sarapan belum?" Tanya Henry membuat Sorin termenung dipandangan Henry.


"Sudah Henry." Sorin menjawab singkat, karena menurutnya itu hal yang tidak penting untuk ditanyakan. Apalagi Sorin sedang mengatur pengeluaran hariannya. Ia terpaksa berbohong.


"Sorin, kamu marah sama aku?" Tebak Henry sambil sesekali melirik Sorin yang ada disampingnya.


"Untuk apa aku marah? Hehehehe.." Sorin melayangkan pertanyaan kembali dengan santai, sambil tertawa diakhir ucapannya.


"Aku kira kamu marah." Balas Henry sambil melajukan mobilnya.


"Hanya karena tidak jadi saja marah. Itu bukan sifatku." Sorin menjelaskan diakhiri senyuman lebar ke Henry.


"Sebelum kita ke sekolah. Aku mampir beli makanan dahulu, ya?"


"Boleh."


***


Bu Lena berjalan menuju ruangan Ardi di rawat, setelah ia bertanya ke pihak administrasi rumah sakit yang letaknya berada di depan pintu utama.


Tatapan elang dengan dahi yang berkerut Bu Lena membuka pintu ruangan Ardi. Beliau melihat Ardi yang masih tak sadarkan diri di atas kasur perawatan.


Luka Ardi nampak serius. Tetapi, Bu Lena sama sekali tidak merasa bersalah ataupun kasihan kepada anaknya sendiri.


Bisakah Bu Lena dikatakan ibu kandung yang baik? Sementara, Ardi selama ini masih menganggap Ibunya baik sekali. Ardi selalu tertutup, apalagi soal sikap ibunya kepada dirinya.


"Ardi, bangun kamu sekarang! Kamu harus sadar. Kamu tidak punya biaya perawatan !" Bu Lena berusaha menggoyangkan tubuh Ardi secara paksa.


Hal yang di lakukan Bu Lena justru membuat Suster dan Dokter yang akan melihat kondisi Ardi menjauhkan Bu Lena dari Ardi.


Suster membawa paksa tubuh Bu Lena yang enggan keluar dari ruangan.


"Tolong Ibu tunggu di luar dahulu. Kondisi anak ibu akan diperiksa lagi oleh dokter. Jangan memaksa pasien untuk cepat sadar Bu." Kata Suster yang membawa Bu Lena keluar ruangan.


"Dia bukan anak saya suster. Saya akan bawa pulang anak itu. Anak itu harus sadar." Ketus Bu Lena kepada suster yang ada dihadapannya.


"Ibu, Saya mohon jangan membuat keputusan yang membuat pasien menjadi drop. Kamu selalu pihak rumah sakit berusaha agar pasien bisa kembali pulih. Saya tinggal dahulu Bu." Jelas Suster kepada Bu Lena yang sinis.


"CK.. Merepotkan sekali." Gerutu Bu Lena gemas.


***


Pelajaran matematika sudah di mulai sejak pagi. Sorin tak konsentrasi, karena ingin mengetahui Ardi yang entah tak mengabarinya sama sekali.


Sebelum pelajaran pertama dimulai Ia sudah menghubungi Ardi. Namun, nomer handphonenya tidak aktif.


"Ardi, ke mana ya? Di hubungi tidak aktif." Sorin hanya bisa membatin dalam hati.


Hati kecil Sorin khawatir, takut terjadi hal yang tidak diinginkan setelah pulang dari rumahnya kemarin malam.


***


To be continue..