Little Star

Little Star
Antara Henry dan Ardi.



"Sampai sekarang kamu belum tahu siapa dalangnya?" Sorin bertanya ke Henry yang masih terdiam.


"Iya." Singkat Henry dengan anggukan sebagai jawaban.


"Kamu juga. Kenapa bisa tertangkap?" Henry ingin tahu.


"Belum tau alasannya, tapi hampir sama dengan kamu, Hen. Membungkam hidungku dengan sapu tangan. Setelah aku pulang kerja."


Sedari tadi Henry berpikir secara cepat menemukan dalang penculik itu. Tetapi, mencari jeda waktu senggang masih belum ada.


"Aku punya ide." Oceh Sorin seketika Henry melihatnya.


"Kita cari tau sama-sama." Instruksi Sorin membuat Henry mendelik.


Tatapan Henry berubah suram. Ia sudah memberi tugas kepada orang suruhannya.


"Ngapain juga aku harus capek-capek cari tahu? Sedangkan, Gue sudah suruh orang buat cari tau." Grutu sendiri dalam hati.


"Henry?" Panggil Sorin yang tak mendengar grutuan Henry. Ia memanggil dengan ekspresi datar.


"Hen." Lambaian tangan Sorin ke Henry membuyarkan semua lamunannya.


Henry menatap tajam Sorin yang memanggilnya. "Hm."


"Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa kok."


"Untuk sekarang jangan berpikir hal apapun, kamu harus cepat sembuh dulu. Aku pulang ya."


Henry memilih kembali ke rumahnya. Ia memikirkan Sorin dan seharusnya dia beristirahat. Ia tidak ingin egois memikirkan dirinya sendiri.


***


Ardi sudah sampai ke rumah. Ia masih kesal dengan sikap Dika. "Sial ! Mimpi apa aku semalam!"


Ia mengoles dahinya yang terluka dengan minyak.


"Palingan Lo mimpi dikejar bencong." Timpal Bian nyelonong masuk ke dalam kamar Ardi.


"Ish.. Gue kira Lo sudah pulang. Pulang sana hust..hust.." ujar Ardi yang melirik Bian lalu mengembalikan minyak ke Almari putih.


"Wanjir, Lo kira gue kucing. Beruntung Lo hari ini, gratis gue anterin pulang, eh sampai rumah lo usir gue seenaknya."


Ekspresi Bian berubah datar sambil mengelus dada.


"Dasar perhitungan. Lo gak kasian gue. Lihat jidat gue ganti warna." Timpal Ardi menunjukkan lukanya ke Bian.


"Bunglon kali. Bukan salah gue." Ujar Bian tak terima.


"Gue gak salahin Lo, njir." Ardi terkekeh kecil mendengar perkataan sahabatnya itu.


"Ya udah, gue balik. Lo Istirahat sana ! Jangan bengong mulu gara-gara cewek. Jadi patung baru tau rasa lo." Ledek Bian berlari keluar dari kamar Ardi. Suaranya keras nan khas masih terdengar di gendang telinga Ardi.


"Bian sial**! Ketemu di sekolah, gue setrika mulut Lo!" Oceh Ardi gemas menimpali. Namun tak ada sahutan lagi dari Bian sahabatnya.


***


Sorin menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Ia menatap langit putih plafon tempatnya tinggal. Entah sampai kapan dirinya masih bertahan didalam masalah seberat ini. Pertanyaan itu yang muncul pada diri sendiri.


"Kapan aku bisa kembali ke kampung bertemu dengan bapak? Sedangkan bapak tak mempunyai alat komunikasi."


Kata-kata itu selalu terdengar di gendang telinga dan alam bawah sadarnya.


Bukan hanya itu, biaya yang dikeluarkan untuk kembali ke kampung juga banyak. Sorin menunda kembali ke kampung halaman.


Menghela napas panjang membuat Sorin semakin bertekad. Untuk lebih bekerja keras lagi mendapatkan uang. Ia mengingat kembali tentang tawaran Henry sebelumnya.


"Apa aku harus berhutang lagi? Tapi--."


Sorin berpikir antara maju menerima atau mundur tak mengambil tindakan.


Sebenarnya, Sorin sangat membutuhkan dana. Untuk memutar otak. Agar bisa mendapatkan biaya membuka usaha kecil-kecilan.


Sorin memejamkan mata sejenak. Suara dering handphone membuyarkan suasana hening.


"Ardi?" Panggil Sorin terkejut.


"Lo lagi ngapain, Rin? Sibuk ya?" tanya cowok disebrang.


"Keluar yok." Ajak Ardi bersemangat.


"Mau ke mana, memangnya?" Alisnya bertaut mendengar Ardi mengajaknya keluar.


"Udah, ikut gue aja. Gue lagi bosen di rumah dan gak ada teman ngobrol. Tenang, Gue jemput Lo ke kost."


"Boleh. Tapp—"


Tuuuttttttt. Ucapan Sorin terhenti, karena Ardi sudah cepat mematikan sambungan telephone.


"Gimana ya? Kondisi kakiku lebam seperti ini?" Sorin kebingungan ia menjatuhkan benda pipih di sampingnya sambil mencari cara agar tidak mengecewakan Ardi.


"Kalau nolak, tidak baik juga." Sorin menghela napas berat lalu membuangnya secara perlahan.


"Kasihan Ardi. Tapi,--- kondisiku tidak memungkinkan untuk berjalan." Gumam Sorin membalikkan tubuhnya seperti gaya berselancar.


Ting! Notifikasi terdengar, jemari Sorin dengan cepat menekan tombol pesan masuk.


"Sorin. Rumah makan saya hari ini dan besok masih tutup. Bapak sudah sampai di rumah. Bapak rehat, dua hari dulu ya."


Sorin membaca kata demi kata pesan dari pak Sholeh. Dalam hati kecil Sorin sedikit sedih, karena Ia memikirkan upah yang akan diterimanya akan berkurang. Sedikit senangnya, Ia bisa menggunakan waktu kosong tersebut dengan hal lain yang tidak merugikan.


"Yeahh, Aku libur lagi." Menghirup napas panjang dan mengeluarkan pelan.


Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu mengagetkan Sorin yang segera bangun dari posisi rebahannya.


"Sorin!" Ardi memanggil Sorin sambil mengetuk pintu.


Sorin yang berusaha jalan membuka pintu. Ia melihat seorang yang memakai kemeja flanel kotak-kotak hitam biru muda berdiri didepan pintu. "Ardi sudah rapi."


Sorin menatap Ardi intens. Ia melihat Ardi tak seperti biasanya. Tidak hanya itu, aroma wewangian semerbak tercium segar.


"Kenapa Lo lihat gue kaya gitu? Ada yang aneh?" Ardi polos tak menyadari dirinya yang keren.


Sorin memalingkan wajah ke arah lain. "Ardi. Kita mau ke mana?" tanya Sorin masih berdiri didepan pintu.


"Ajak Lo jalan-jalanlah." Dahi Ardi berkerut melihat Sorin yang tak melihat dirinya ketika berbicara.


"Kenapa Lo belum ganti baju?" Tanya Ardi yang masih melihat gadis itu tepat berdiri di hadapannya.


"Maaf, Ar. Bukannya aku gak mau. Tapi, Kakiku masih sakit." Sorin memperlihatkan kakinya yang lebam.


Ardi melotot melihat kaki Sorin yang tiba-tiba saja sakit.


"Lo habis jatuh? Gue tau tadi lihat Lo gak apa-apa." Khawatir Ardi yang seketika menekuk kaki panjangnya, melihat luka di kaki Sorin.


Sorin diam seakan terhipnotis dengan sikap Ardi yang begitu peduli padanya.


"Iya, tadi pulang tersandung." Sorin menjawab apa adanya meskipun dengan jantung yang berdebar.


"Pasti karna Lo lari kan? Sini gue obati." Ardi memegang kaki Sorin perlahan.


Tanpa diketahui Ardi pipi Sorin memerah membuatnya sedikit berkeringat.


"Tadi sudah diobati, Ar." celetuk Sorin yang membuat Ardi berdiri seperti semula.


"Syukurlah." Ardi bernapas lega melihat Sorin yang menurutnya luka lebamnya tidak terlalu parah.


"Kalau gitu Lo coba jalan dulu." pinta Ardi ingin melihat kondisi Sorin berjalan.


Sorin membalas anggukan dan kakinya ia paksa untuk berjalan meskipun sedikit terasa sakit.


"Pelan-pelan aja. Menurut gue sakitnya gak terlalu parah. Coba tahan sedikit rasa sakitnya. Pelan-pelan angkat kaki Lo buat jalan." Ardi mundur tiga langkah keluar dari pintu rumah Sorin.


Ardi menjelaskan ke Sorin. Walaupun Sorin sedikit terhuyung akan jatuh. Sorin menurut perkataan Ardi.


"Ya.. Terus.. Pelan-pelan jalan.."


Ardi meyakinkan Sorin agar Sorin bisa cepat jalan seperti semula sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah Sorin.


Sorin berusaha menahan sakit saat melangkah dan rasa sakit itu hilang. Ketika langkah Sorin sudah tepat dihadapan Ardi.


***


To be continue..