Little Star

Little Star
Kebersamaan.



Bian naik ke pohon guna mengambil bendera merah yang tertancap jauh. 


"Yeah, gue dapat benderanya!" Teriakan antusias Bian membuat Oki cemberut.


"Buruan turun! Jangan teriak keras kaya anak kecil ! Alay tau nggak!" Cerewet Oki menyuruh Bian segera turun. 


Pandangan malas terlihat dari Henry. Ia harus menerima bendera yang dilemparkan Bian kearahnya.


"Tangkap Hen. Jaga baik-baik, gue mau turun." Pintanya setelah melepas bendera yang dilempar.


"Ehh, A-appaan itu." Tunjuk Sorin melihat sesosok hitam dan tinggi mulai mendekat ke arahnya.


Semua pandangan ke arah yang ditunjuk Sorin kecuali Bian yang masih berusaha turun dari pohon.


"LARII !" Perintah Oki ketakutan, ia memilih berlari sendiri.


Sorin yang melihat hal itu juga bersama Henry dan Ardi. Sorin menarik salah satu tangan Henry dan Ardi untuk cepat berlari jugasebelum tertangkap.


"WOYYY! Tungguin gue!" Teriak Bian yang tak mengerti jika kehadiran sesosok hitam tinggi tersebut sudah ada disebelahnya.


Bian menoleh dan—-. "Hwwwaaaaa! Mamakkk!" Ia berlari kencang menjauh tak memperdulikan keadaannya, yang terpenting dirinya selamat.


Satu bendera didapatkan kelompok Henry. Oki berhenti tepat diikuti yang lainnya.


"Mana petanya Hen." Pinta Oki ke Henry. Henry membuka peta yang masih dibawanya. 


"Syukurlah, jarak bendera yang kedua, nggak terlalu jauh dari sini."


"Kita ke kanan atau ke kiri?" Tanya Ardi setelahnya. 


"Kita ke kiri. Ayo jalan lagi." Henry memberikan arahan.


"Tunggu Bian dulu, teman-teman." Sorin mengingatkan anggota formasinya tidak lengkap.


"Ish, Bian lemah amat!" Gemas Ardi yang belum melihat kehadiran Bian.


"Siapa dulu sohibmu, Ar!" Oceh Oki menimpali.


"Hahaha.. ayang bebeb Ardi." Sahut Henry menahan tawa kecil. 


Mata Ardi menyipit seolah enggan, menimpali lagi. Namun, dirinya masih tak terima. 


"Diam!" Ketus Ardi ke Henry.


"Ini mulut gue." Timpal Henry penuh kecepatan.


Bian muncul mengatur napas yang tersengal. "Hufftt.. Ka-kamprett Lo semua ninggalin gue sendirian! Hampir aja gue mau dibawa." 


"Tarik napas buang perlahan, Bian." Kata Sorin melihat Bian kasihan. 


"Sorry, Bi. Gue refleks beneran nunjuk setan." Ceplos Oki sebenarnya.


"Iya Bian, semua juga lihat setannya. Oki kan nunjuk." Jelas Sorin mengulang cerita yang sudah terjadi.


"Jangan lama-lama, Ayo kita ambil bendera ke duanya, keburu kelompok lain pemenangnya."


"Iya juga ya, Hen." Oki menimpali.


"Gue baru aja datang, ogeb!" Cergas Bian lalu membuang pandangan ke arah lain.


Henry tak bersuara berjalan mendahului semuanya. 


"Semua juga capek Bi. Gue susul Henry yak. Byee." Oki semakin bersemangat mengikuti jejak henry.


Sementara Sorin mendekat ke Bian memberi transfer semangat.


"Semangat Bian!" Lalu Sorin berjalan mengikuti Oki.


"Sabar ya bro!" Ardi mengelus bahu Bian pelan, lalu berjalan sendiri tanpa rasa bersalah.


"Woy! Tungguin gue, njir! Katanya harus sama-sama. Kenapa gue ditinggalin!" Teriak keras Bian, yang kemudian mengikuti Ardi yang semakin jauh.


***


Beberapa jam kemudian, empat bendera sudah di tangan Ardi. Tinggal satu lagi mereka harus menyelesaikan sebelum adzan berkumandang.  


"Ayo tinggal satu lagi, semangat!" Teriakan semangat dilayangkan Ardi kepada teman-temannya. 


"Kakiku rasanya pegal banget." Oki bersuara lirih menahan rasa lelah.


"Sama aku juga." Jawab Sorin kelihatan kelelahan.


"Gue gendong gimana, Rin?" Tawar Ardi melihat Sorin sudah mulai lemas.


"Ada ada aja Lo, Ar." Tawa kecil Oki.


"Namanya aja bentuk perhatian, terserah Ardi dong, Ki. Lo iri ?" Goda Bian ke Oki yang nampak datar mendengar perkataan Bian.


Sorin menggeleng. "Hehehe.. tidak Ardi, badanku berat. Kamu tidak akan kuat." 


"Kata siapa? Gue kuat kok." Ardi meyakinkan diri ke Sorin. Tetapi, Sorin masih menolak. Ia tidak ingin merepotkan siapapun. Termasuk Ardi.


"Aku tidak ingin merepotkan kamu." Ucap Sorin, lalu tersenyum tipis.


"Lo dengar sendiri?! Dia nggak mau digendong sama Lo!" Sahut Henry.


Henry menarik pelan tangan Sorin, seraya kembali berjalan mendahului semuanya.


"Ayo kita jalan duluan." Lirih Henry mengajak Sorin.


Sorin mengiyakan. Mereka pun berjalan beriringan. "Kamu nggak ada hubungan spesial sama Ardi, Rin?" 


"Aku tidak ada hubungan apapun, Hen, dengan Ardi." Sorin melihat sudut mata Henry yang tidak bisa diartikan. Namun langkah ke duanya masih terus berjalan.


Brugghh! 


"Awhhh.." Kaki Sorin tersandung. Ia jatuh tersimpul ke tanah, sambil kesakitan menutup lutut dengan tangannya.


"Akhhh.."


"Sorin?! Kamu nggak apa-apa?" Henry yang mengetahui kejadian itu panik.


"Perih, Hen." Balas Sorin apa adanya. 


Henry tanpa ragu menolong Sorin. Menarik tangannya dan melingkarkannya ke leher. "Ayo, aku bantu."


"Tapi Hen.." 


"Udah gak perlu pakai tapi. Lihat kondisimu sekarang." Langkah cepat Henry seolah segera membawa Sorin ke tenda siaga.


Sorin menghela napas panjang perlahan mengeluarkannya melalui mulut. Tidak ada pilihan lagi selain harus menerima bantuan Henry.


Dalam diamnya ia masih bisa melihat Henry yang mengkhawatirkan kondisinya. 


"Sikap Henry masih sama seperti awal pertama bertemu. Tidak ada satupun sikapnya yang berubah." Pikir Sorin sendiri.


"Dia tidak jelek sama sekali." Lanjutnya dalam pikiran Sorin.


Lamunannya terhenti karena ada yang memanggil namanya dari belakang.


"Sorin Henry tunggu!" Teriak Oki dari belakang.


Langkah Henry terhenti dan berbalik ke arah suara. 


"Sorin, Lo kenapa?" Oki mendelik melihat Sorin yang lemas belum lagi, lukanya terlihat.


"Lo nggak papa, Rin?" Tanya Oki khawatir.


Senyum Sorin menurun, Ia menggeleng sebagai jawaban. "Aku habis jatuh, Ki."


Ia terpaksa harus jujur ke Oki, karena kondisinya sekarang tidak memungkinkan. Apalagi ia sedang dibantu Henry.


"Mana lihat luka Lo?" Mata Oki mencari luka Sorin. Karna Sorin terlihat menahan sakit.


"Udah Ki. Biar gue yang urus Sorin. Lo lanjutin permainan ya."


"HA?! Apa boleh?" Oki terkejut mendengar perkataan Henry.


"Jangan Hen. Kita lanjutkan aja, tinggal satu bendera aja."


"Mana petanya gue mau lihat." Oki gerak cepat meminta Henry.


Henry memberikan petanya ke Oki. Oki melihat sekitar. "Kita sudah sampai di tempat bendera, tapi mana ya benderanya?"


"Ah, iya kah Ki?" Sorin tak menyangka, dia sudah tepat ada di lokasi bendera terakhir.


"Iya Rin." 


"Gue cek bentar ya." Oki mencari bendera dengan lampu kecil yang ada ditangannya menelusuri  pohon yang tak begitu banyak. Hanya bisa dihitung dengan jari.


Sementara Henry melihat darah dilutut Sorin masih terus mengalir. Ia kebingungan harus diobati dengan apa luka Sorin, posisi mereka hanya membawa peta, lampu ataupun lilin saja.


Perih luka yang dirasakan Sorin masih terasa, belum lagi perasaan didalam hatinya sedang berkecamuk. Pikirannya menjadi campur aduk. Tiba-tiba ia memikirkan kondisi bapak yang sendirian di kampung.


Ia berusaha menahan diri untuk tidak terlalu khawatir terhadap kondisi bapaknya, positif thinking yang harus ia pegang teguh dengan kondisinya sekarang.


"Bapak. Sorin kangen sama bapak. Maafin Sorin karena belum bisa kembali ke rumah." Batin Sorin terasa teriris.


Air mata Sorin seketika menetes. Seakan ia tak mampu melewati ujian kehidupan selanjutnya. 


***


To be Continue…