Little Star

Little Star
Diantara dua pilihan.



"Ya. Syaratnya Lo seminggu harus sama gue, termasuk berangkat sekolah bareng." Ceplos Ardi serius ke Sorin. 


Ardi melipat kedua tangannya ke depan menunggu jawaban dari Sorin yang masih mematung.


"Bagiku syaratnya sangat sulit. Bagaimana dengan Henry nanti?" Sorin terdiam karena Ia sedang menimbang-nimbang perasaan Henry. Jika tidak menolak, ia sama saja tidak memikirkan perasaan Henry. 


Henry bagi Sorin adalah penyelamat hidup sama dengan sayap pelindung bagi Sorin. Tanpa Henry, Sorin juga tidak bisa bersekolah cepat. Apalagi di sekolah favorit. Tetapi, disisi lain Sorin juga tidak ingin bisa membiarkan Ardi memendam masalah sendirian.


"Gimana? Lo setuju, nggak?" Tanya Ardi menunggu kepastian.


"Hehehe.. Maaf Ardi, Aku nggak bisa jawab hari ini." 


 


"Kenapa?" Timpal Ardi menggas.


"Iya. Aku lapar. Hehehe…"


Sorin menjawab hal yang menurutnya realistis.


"Ya ampun! Sorin! Kenapa Lo baru bilang kalau belum makan. Yuk, makan. Gue juga laper!" Ardi yang awalnya terkejut kini mengajak.


Sorin lega karena telah mengalihkan perhatian karena makanan. 


"Tenang gue yang bayarin." Ardi antusias. 


Sorin menoleh. "Jangan, Ar. Biar aku yang bayarin." 


"Santai. Biar gue yang bayarin Lo. Kita makannya di warteg langganan gue, gak papa kan?" Pinta Ardi.


"Terserah kamu Ar."


"Oke. Siap." 


Mereka berdua bersemangat berjalan menuju warteg. Walaupun jarak yang ditempuh sangat jauh. 


***


Ardi tengah merangkul batu nisan yang ada dihadapannya. Ia merasakan kehangatan tubuh mendiang mamanya. Bulir air mata turun bagai hujan deras. Ia merindukan kehadiran malaikat cantik yang melahirkannya.


"Mama.. Henry kangen sama mama. Henry pengen mama perhatikan Henry seperti dulu." Henry menangis tersedu-sedu. 


Ia mengusap air matanya. "Mama. Sampai kapanpun gak ada yang bisa gantikan mama dihati Henry. Sikap papa sama seperti dulu, Ma." 


"Henry kangen sama mama. Mama.." 


Suara langkah terhenti didekat Henry. Ia mendongak ke sebelahnya. 


Ia melihat Arya. Henry terjingkat dari posisinya. 


"Papa?!" 


"Kenapa papa bisa di sini?!" Henry terkejut. Apalagi ia melihat Arya tidak sendirian, Beliau membawa perempuan yang akan menggantikan posisi mamanya.


"Papa ingin bertemu dengan mamamu." Lembut Arya sambil salah satu tangannya masih melekat dengan tangan perempuan yang ada disampingnya. 


"Kenapa perempuan ini ke sini, Pa?" Telunjuk Henry mengarah ke perempuan di samping Arya.


Henry mendengus kesal melihat kedekatan mereka berdua. 


"Papa, Jangan pernah bawa perempuan ini ke mari !" Suara keras Henry tak terima.


"Cukup Henry ! Kamu memang gak sopan sama mama kamu sendiri !" Arya tak kalah terima dengan nada meninggi.


"Henry gak sudi punya mama seperti dia." Henry menunjuk kedua kali ke perempuan itu.


"Henry! Kamu pergi dari sini !" Perintah Arya marah dengan sikap kasar ke Henry.


"Harusnya papa yang nggak ke mari. Aku ingin muntah liihat perempuan ini, Pa." Teriak Henry keras.


"Papa dengar kamu bicara kasar lagi sama mamamu, papa akan blokir semua akses keuanganmu."


"Papa! Papa gak berhak memblokir aksesku! Tanpa Mama, papa gak akan bisa seperti sekarang! Karena semua harta milik mama, bukan milik papa!" Ketus Henry.


Henry geram dengan sikap Arya yang membuat dirinya semakin sakit hati. Henry lantas pergi tak ingin melihat keberadaan Arya dan nenek sihir itu. Lebih baik mengalah daripada harus ribut didepan makan mamanya.


***


To be Continue..