Little Star

Little Star
Draft



Henry menunggu jawaban Arya. Hati dan pikirannya kesal, Ia merasa tak dianggap oleh papanya sendiri. Semenjak kehadiran Ibu tiri dikehidupan Henry.


Henry merasa semesta tak adil, karena kehilangan sosok ibu. Kini raganya telah hilang. Akibat, sakit yang diderita.


"Pa. Jawab pa?" Henry meminta.


"Papa ingin memberi kejutan."


Henry tak percaya dengan jawaban itu. Papa kembali ke rumah, selalu ada tujuan, tidak mungkin tanpa alasan.


"Kejutan, kata papa? Itu namanya nggak kejutan, Pa." Timpal Henry mengotot.


"Ya maaf. Papa memang tidak jago berbohong. Apalagi sama anak sendiri."


"Papa, bisa serius?" Henry masih tidak terima dengan ucapan Arya.


"Papa kembali dengan nenek sihir lagi?" tanya Henry serius.


Seketika Arya menegaskan. "Henry. Kalau bicara yang beretika. Dia ibu kamu. Sudah dulu, nanti kalau papa sudah sampai. Papa hubungi kamu lagi."


"Ish, terserah papa!" nadanya meninggi mendengar Arya mengucapkan dia ibu kamu. Kegeraman dirasakan Henry setelah mematikan sambungan telephone genggamannya.


Kalau membunuh hal yang lumrah. Mungkin Henry sudah membunuh ibu tirinya sendiri. Ia masih tidak terima ibu kandungnya tergantikan orang lain. Dan tak segampang itu menerima ibu tirinya dengan mudah.


Ia memilih pergi dari rumah menggunakan mobil kesayangannya.


Henry fokus menyetir. Semua mobil berhenti karena rambu lalu lintas menjadi merah.


Henry melihat taman yang begitu ramai di sebelah kiri jalan dari dalam jendela mobil.


Tak disangka, Ia melihat Sorin dan Ardi duduk bersama di tengah keramaian.


"Mereka jalan berdua lagi?" Celetuk Henry.


Henry terdiam melihat keakraban Sorin dan Ardi. Perbedaan yang jauh saat berbicara dengan dirinya.


Klakson keras dari arah belakang mobil Henry, membuatnya tersadar, rambu telah berubah hijau. Ia tak sadar membuat keributan kecil dari luar.


Tentu Ia panik, tetapi menancap gas cara cepat menyelesaikan semua. Niat ingin ke rumah Sorin, Ia urungkan kembali memutar arah ke tempat lain.


***


Sepertinya ada masalah yang kamu pendam, ya?" Sorin bertanya kepada Ardi yang tengah terdiam di sampingnya. Sorin menebak isi hati Ardi.


Ardi membalas dengan senyuman palsu. Ia enggan bercerita. Menurut Ardi keluar bersama seseorang disampingnya sudah lebih dari cukup.


"Sepertinya kamu berbohong. Ceritakan ke aku. Aku akan jadi pendengar yang baik." 


Mata sorin terlihat berbinar menunggu tanggapan Ardi. Walaupun sebenarnya sorin telah mengetahui sedikit masalah Ardi.


Ia berniat untuk menghibur Ardi, agar tidak menanggung sendirian.


"Gue nggak bohong, Rin." Jawab Ardi santai.


"Lihat wajahmu penuh kebohongan. Ayo cerita, atau lebih baik aku pergi saja." Sorin merengek ke Ardi diakhiri dengan ancaman.


Bibir Sorin menciut, terlihat sangat imut. Membuat Ardi semakin ingin menggoda.


"Enggak Rin."


"Ayolah.. please, percaya sama aku. Aku tidak akan cerita ke siapapun." Kedua jarinya diangkat seperti gaya foto pada umumnya.


"Hahaha.. Sorin.. Sorin. Gue pengen tertawa keras lihat tingkah Lo kaya gini." Batin Ardi menahan tawa.


"Gue akan cerita kalau ada syaratnya." Ardi melayangkan syarat yang membuat Sorin bergidik merinding.


"Apa syaratnya?" Sorin langsung terdiam, melihat ekspresi sengit Ardi yang membuatnya curiga.


"Ish, Kenapa harus memakai syarat ?" Batin Sorin sedikit pasrah, setelah melayangkan balasan itu.


"Ya harus dong. Ini privasi. Hanya Lo dan gue yang tau, Rin."


"Iya. Apa syaratnya? Cepat!" Sorin tak sabar.


"Hahaha…" Ardi sengaja tertawa kecil.


"Ardi !" Suara nyaring Sorin terdengar hebat, membuat Ardi gelagapan.


"Iya. Syaratnya Lo seminggu harus selalu sama gue."


DEGH!


***


To be continue...