Little Star

Little Star
Beraksi.



Sorin yang melamun, membuat Guru matematika datang menghampirinya. "Tolong Sorin, kamu selesaikan soal yang saya berikan di papan tulis."


Sorin dengan santainya mengangguk tanpa berbicara apapun. Ia pasrah dengan hukuman yang diberikan guru matematika tersebut.


Melihat sikap Sorin, Vika mempunyai ide untuk menjahili Sorin. Ia mengkode dengan lirikan mata ke Disty dari samping.


Disty sengaja merentangkan kakinya ke tengah saat Sorin berjalan ke depan kelas. Sorin yang tak bisa menyeimbangkan badannya sendiri, jatuh tersungkur.


Seisi kelas terkejut mendengar benturan keras tersebut. Semua pandangan ada pada Sorin yang masih tak menyangka dirinya terjatuh.


Ia pun beranjak bangun sendiri. Sebelum akhirnya Guru matematika menegur.


"Ada apa ini?! Sorin, kamu kenapa?! Kamu mengantuk?" Beliau bertanya sebelum akhirnya membuat keputusan.


"Sorin kamu keluar dari kelas." kata tegas Guru matematika yang tidak mau tahu.


"Rasain Lo." Batin Vika memiringkan senyum ke Sorin yang memohon.


Personil Genk butterfly terlihat sangat puas


"Bu, Jangan suruh saya keluar. Saya tidak mengantuk, Bu." Sorin menjelaskan jujur.


Semua teman-teman lainnya diam seribu bahasa dan tak ingin dihukum seperti Sorin.


Henry mencurigai sikap Vika dan genknya. Ia pun beranjak dari tempatnya ke hadapan Bu guru.


Pelajaran matematika terhenti sejenak. Tak lama Henry kembali ke tempat semula ia duduk.


"Tolong maju ke depan Vika, Disty, Yista dan Alya, kerjakan soal di papan tulis. Untuk semuanya jangan ramai, ibu akan keluar sebentar. Setelah ibu kembali Pr-nya kemarin, dikumpulkan di meja saya ya."


"Siap Bu." Ucap semua murid yang ada di kelas.


Tak lama Guru matematika keluar ruang kelas menuju kantor. Sementara, Sorin hanya bisa duduk di samping kelasnya.


Ia menghela nafas panjang, "Huft.. Ardi. Sebenarnya kamu ke mana?" Pikiran Sorin bukan ke dirinya sendiri melainkan ke Ardi yang sampai sekarang belum menghubunginya kembali.


"Kenapa Ardi belum telephone ya?" Grutu Sorin yang masih menunggu kabar Ardi.


Ia diam. Namun perasaannya berkecamuk. Sorin tak bersemangat dan Guru matematika yang akan kembali ke kelas melihat Sorin termenung kepalanya menunduk.


Guru matematika menghampiri Sorin yang tengah duduk dengan pandangan kosong. "Sorin, masuklah ke kelas." pinta beliau kepada Sorin.


Sorot mata Sorin berubah melotot. "Saya boleh kembali masuk, Bu?" tanyanya sekali tak percaya.


"Iya."


Beliau masuk, semua murid di kelas bergemuruh kembali ke seperti sedia kala.


Semua melihat Sorin kembali ke bangkunya. Sementara Genk Butterfly yang masih di depan kelas tak menyangka.


"Ish, kenapa Sorin kembali masuk ke kelas?!" Gumam Vika tak suka sambil menatap soal matematika.


"Apa kalian berempat sudah selesai? Tanya Guru matematika kepada Vika, Disty, Yista dan Alya, Beliau masih memperhatikan keempat anak didiknya dari belakang.


"Belum Bu." Vika, Disty, Yista dan Alya berbalik arah ke Beliau bersamaan.


"Ya sudah akan saya tunggu sampai selesai. Untuk yang lainnya sudah dikumpulkan pr-nya?" Tegas Beliau.


"Sudah Bu." Jawab kompak murid satu kelas.


Bel istirahat berbunyi membuat semuanya bersorak senang. Guru matematika yang mengetahui Vika, Disty, Yista dan Alya akan keluar kelas menghentikannya dengan cepat.


"Tunggu!" Lantang Beliau ke arah empat muridnya.


"Kalian berempat jangan istirahat dahulu. Ikut ibu di kantor."


Semua melongo mendengar kata ikut ibu ke kantor. Salah satu dari mereka berucap. "Ada apa Bu? Kenapa kita gak boleh istirahat?" tanya Yista curiga.


Dari kejauhan Henry yang akan beranjak dari tempatnya mengamati Genk Butterfly. Ia terlihat puas. "Lo kira gue bakalan diam aja, nyakitin Sorin yang gak tau apa-apa. Dasar sinting!?" Gumam Henry sendiri.


"Sorin. Lo nggak ke kantin?" Henry bertanya kepada Sorin yang terlihat tak bersemangat.


Posisi Sorin sedang meletakkan kepalanya di atas meja tak menjawab ucapan laki-laki yang sudah berdiri disamping mejanya.


Henry menepuk pelan bahu Sorin. Karena Sorin tak bereaksi sama sekali. "Sorin." Panggilnya.


"Ya. Maaf Henry aku tidak istirahat di kantin."


Sorin lemas.


"Kenapa? Lo lagi gak enak badan?" Henry masih menunggu Sorin mengatakan iya.


"Enggak." balas Sorin tak bertenaga dengan posisinya yang masih sama menyandarkan kepalanya di meja.


Sementara, Guru matematika keluar ruangan. Genk Butterfly melirik Henry dan Sorin yang hanya mereka berdua yang belum keluar ruang kelas.


"Hih, Kenapa itu anak semakin genit ke Henry?!" Lirih Vika masih terdengar ditelinga teman-temannya.


"Sabar, Vik. Sebentar lagi kita balas perlakuan Sorin ke Lo." Geram Alya terdengar jelas di telinga ketiga temannya.


***


To be continue..