
Sorin dan Henry sudah berada di dalam mobil. Sorin telah selesai belanja secukupnya. Ia masih belum mengatakan deal ataupun menerima ide Henry. Karena menurut Sorin, Ia harus meminjam uang Henry untuk bisnis yang akan dibangunnya.
Antara yakin dan tidak, Sorin masih bingung. Namun, ia memilih tetap diam tak bersuara selama perjalanan pulang.
"Aku nggak akan memaksa. Kalau kamu mau terima, aku berikan." Kata Henry menoleh sebentar ke Sorin sambil menyetir.
"Henry tidak perlu repot-repot. Maaf, Aku belum bisa terima."
"Ouh.. Gak masalah ,Rin. Aku cuma memberi ide aja, barangkali kamu membutuhkan biaya." Henry menjelaskan pertanyaannya.
***
Sampai di depan rumah. Sorin membuka pintu lebar.
"Masuk dulu, Henry. Aku buatkan minum."
"Sudah, Sorin. Kamu nggak perlu repot buat minuman."
"Jangan menolak rezeki, Hen. Tidak baik menolak."
"Ya udah kalau gitu terserah kamu."
Sorin membawa minuman untuk Henry. Mereka berada di dalam rumah kost, kondisi pintu terbuka sekitar pukul setengah delapan.
"Ini minumannya."
"Iya." Henry menerima gelas yang diarahkan kepadanya. Tak lama ia langsung meminumnya.
"Henry." Panggil Sorin.
"Ya." Ia telah meneguk minumannya.
Sorin sengaja bertanya, "Henry kamu masih ingat tidak, kenapa kamu bisa tertangkap penculik saat itu?"
Henry menaruh minuman didekatnya.
Ia masih bertanya-tanya sendiri. "Tumben Sorin tanya tentang penculik itu?" batin Henry.
"Kamu lupa?" Sorin ingin tahu, kenapa bisa dia tertangkap dengan Henry? Kenapa tidak dengan anak lainnya, Ardi misalkan? Ini sebuah tanda tanya bagi Sorin dan tentunya untuk Henry juga.
"Aku lupa." singkat Henry, membuat Sorin mengedipkan matanya dua kali.
"Apa Henry?! Kamu lupa?" tanya Sorin terkejut.
"Ya. Aku lupa. Memangnya kenapa?" Henry memang terlihat cuek dan kaku. Tetapi, Sorin tau kalau Henry orang baik dan peduli.
Sorin paham. Mungkin dirinya mempertanyakan hal yang tak tepat pada waktunya. Ya, seperti sekarang ini.
"Besok ada pr nggak?" tanya Henry seketika.
Sorin menggeleng kepala, "Tidak ada pr sama sekali. Aman. Hehehe."
"Sorin. Apa kamu baik-baik aja?" Celetuk Henry.
Hal itu membuat Sorin semakin penasaran, Ia menjawabnya dengan cepat. "Iya, aku baik-baik saja."
"Apa ada yang salah denganku?" Sorin mengerutkan dahi.
"Bukan gitu. Maksudku, Kenapa kamu bisa ada di UKS bersama Ardi ? Kamu sakit?"
Seketika Sorin mengingat kejadian kelam, dimana ia harus terjebak di dalam salah satu toilet dan terkunci. Anehnya terkunci sendiri dari luar.
Sorin mendelik mendengar suara Henry mempertanyakan tentang UKS. Sorin merasa takut, kejadian buruk akan menimpanya lagi. Apalagi jika ia menceritakan pada Henry. Menurut Sorin Henry tidak perlu tahu.
"Hehehe---, Ya. Aku sedang sakit. Ardi tiba-tiba datang menolongku ke UKS." Jelas Sorin berusaha menyembunyikan kebenaran.
"Kamu nggak lagi bohong kan?" tanya Henry penuh selidik.
"Ya." Kata Sorin sambil mengangguk pelan. Degupan jantungnya semakin memburu. Ia berharap tidak ada yang tahu soal dirinya terkunci di kamar mandi sekolah.
"Hehehe--- , Kenapa kamu suka sekali bertanya? Apa kamu nggak capek bertanya dari tadi?" Sorin mencari pembicaraan lain.
"Memangnya kenapa? Kamu takut? Kalau aku nggak bisa dipercaya?" Henry semakin menantang, karena Sorin terlihat menyembunyikan sesuatu dari sudut pandangnya.
Sorin menghela napas panjang. "Bukan gitu, Henry. Aku tidak takut apapun. Aku benar baik-baik saja." Sorin menegaskan ke Henry yang masih melihat tajam ke dirinya.
Henry tak mengeluarkan sepatah kata pun sama sekali. Ia melihat Sorin sedang berbohong.
***
"Vika. Rencana Lo selanjutnya apa? Ngerjain si cewek genit itu?" Ucap Alya dengan nada manja.
"Iya. Rencana kita berhasil ngunci dia di toilet. Rasanya gue puas!" Disty menyela pertanyaan Alya bersemangat.
Semua tertawa mendengar ucapan Disty. "Iya, gue juga!" balas semua sama.
Vika tertawa seraya mencari cara. Agar, Sorin tak mendekati Henry lagi.
"Cara mudah atau yang susah, menurut Lo semua?" tanya Vika balik melebarkan senyum sinis.
"Sekalian aja yang susah." Geram Disty sambil mengepalkan tangan kuat.
Mereka semua serius merencanakan hal buruk.
***
Setelah Henry kembali pulang dari rumah Sorin. Sorin sangat lega. Karena dirinya telah diintrogasi Henry teliti.
Henry pandai menebak isi hati seseorang. Apalagi tak ada yang memberi tahu dirinya sama sekali. Tetapi, kemungkinan Henry mencari tahu sendiri. Entahlah, belum pasti. tetapi, terlihat Henry ingin tahu.
"Maaf Henry. Aku merahasiakannya dari kamu. Bukan karna tidak menganggapmu sebagai teman yang baik. Tapi, menurutku ini menyakitkan untuk diceritakan."
Perlahan ritme memutar kejadian sebelumnya terulang kembali. Sendirian, kesepian, kelaparan dan tidak ada yang mengetahui. Walaupun dengan cara berteriak kencang meminta tolong. Hal itu membuat Sorin trauma.
Keberuntungan Sorin datang tepat Ardi sedang ke toilet, meskipun secara tak sengaja. Setelah kejadian itu terjadi membuat Sorin semakin waspada kepada teman-teman yang ada di kelasnya.
Tangan Sorin gemetar hebat, keringat dingin menetes dipakaiannya. Padahal Ia sedang berada di dalam kost. Ia berusaha tetap tenang. Perlahan menghembuskan napas lalu membuangnya.
"A-aku kuat. A-aku baik-baik saja." Nadanya terbata-bata, seolah berusaha tak ada kejadian apapun yang menimpanya.
Ia pun tak bisa membendung lagi perasaan pedih yang dirasakan Sorin. Kehidupan keras membuatnya sampai ke jalan persimpangan yang terlihat mulus, ternyata penuh lubang dan terjal. Bertemu dengan Henry dan didaftarkan gratis, baginya sebuah keajaiban. Namun, setelah berjalannya waktu seketika tak semudah yang dibayangkan.
Sorin menangis, menumpahkan semua rasa penatnya. Ia berharap usahanya cepat berbuah.
"Hiks.. Hiks.. Apa salahku? Sampai kapan aku bisa menemukan kebahagiaan demi bapak!"
Air mata Sorin jatuh mengalir deras. Sesak rasanya harus berjuang sendiri, tidak ada kehadiran kedua orang tua yang menyayangi Sorin saat ini. Belum lagi lingkungan sekolah yang tak bersahabat.
Ia hanya perlu mengumpulkan sisa tenaga dan semangat kembali untuk hari selanjutnya.
Sorin pun memilih membaringkan tubuh, setelah ia menumpahkan rasa khawatir dan lelah akan masa depannya sendiri.
***
Pagi sebelum berangkat ke sekolah. Ardi telah menunggu Sorin beberapa menit. Ia berangkat bersama seperti janji yang dibuat sebelumnya.
Mereka sengaja berangkat lebih pagi, karena berjalan kaki ke sekolah.
"Hari ini nggak ada PR?" tanya Ardi memastikan.
"Enggak ada Ardi. Aman. Hahaha.."
"Oke.." singkat Ardi bersemangat.
Sorin balas senyum sumringah ke Ardi. Ardi mengawali pembicaraan.
"Rin, sebenarnya Lo tau gak? biang masalah yang sengaja ngunci Lo di toilet ?" Celetuk Ardi melirik Sorin di sebelahnya sambil berjalan santai.
"Enggak tau, Ar. Aku kan lagi kencing." Sorin berkata yang sebenarnya terjadi.
"Gue heran. Berani banget itu anak. Ada bukti gue laporin ke hadapan kepala sekolah." Ucap Ardi tegas mengingat kejadian tak disengaja saat itu.
"Beruntungnya gue temuin Lo, Rin." lanjut Ardi.
"Hm." Sorin hanya berdehem tanpa ada kata lagi.
"Sorry. Kalau gue telat tolongin Lo." Rasa sesal Ardi masih ada. Karena, Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Sorin sudah dalam kondisi lemas.
***
To be Continue...