
Ardi tersenyum lebar sebelum berbicara.
"Kalian ngapain di dalam? Gak asik banget. Mendingan kalian keluar menghirup udara segar." Ucap Ardi bersemangat.
"Terserah gue sama Sorin dong, kita lagi santai didalam." Balas Oki sambil memakan jajan yang ada didepannya.
"Ya, gue cuma bilang aja." Celetuk Ardi pelan, masuk ke dalam tenda Sorin dan Oki, lalu duduk disebelah Sorin.
"Hehehe, iya Ar. Nanti kita ya bakalan keluar." Lirih Sorin, lalu tersenyum tipis.
"Ar, Lo tadi tau engga, ada orang yang masuk ke tenda gue sama Sorin." Oki bertanya sampai menceritakan awal mulanya.
"Gue gak tau. Barusan gue sama Bian sampai tenda. Ada barang Lo yang hilang, nggak?" Ardi terkejut lalu menjeda pembicaraan Oki yang bercerita panjang kali lebar.
"Engga ada, ya kan Rin?" tanya balik ke Sorin.
Sorin mengangguk, "Iya, tadi aku cek barang bawaanku tidak ada sama sekali barang yang hilang."
"Cuma tempat ini dikotori."terang Sorin.
"Dikotori gimana maksudnya?" Ardi semakin penasaran.
"Dikasih cacing panjang banyak." Timpal Oki mendengus kesal mengingat kejadian tenda dalam yang berantakan.
"Ya, udah gue dan Sorin bersihkan, cacingnya gue buang sekalian." Lanjut Oki.
"Kurang kerjaan banget ya itu anak." Dahi Ardi berkerut membuat dirinya penasaran.
"Kalau menurut gue, Ar. Ini ada hubungannya dengan Genk butterfly. Karna mereka gak begitu suka dengan Sorin. Apalagi Sorin dekat dengan Henry."
Ardi terdiam mendengar ungkapan Oki, seakan ucapan itu ada benarnya juga, belum lagi peristiwa lalu, dimana Sorin terkunci sendiri di dalam toilet.
"Ini pelaku sama seperti sebelumnya, gak mungkin juga orang yang beda." Batinnya menggerutu.
Sorin menepuk pundak Ardi pelan, berusaha menyadarkan Ardi dalam diam.
Bugh!
Bugh!
"Hey, Ar, kok melamun! Diceritain melamun." Mata Oki menyipit melihat kelakuan Ardi yang menyebalkan.
"Ah-hiya sorry.. " ucapnya sambil menggaruk tengkuknya.
"Ardi..Ardi sepertinya kamu lagi haus." Lirih Sorin yang menutupi mulutnya sambil tertawa.
"Nih, minum biar konsen." Timpal Oki menyodorkan botol air mineral.
Ardi menerima, kemudian meminumnya. "Makasih anak manis."
"Minta ditinju!" Teriak Oki mengangkat tangannya yang mengepal ke arah Ardi.
Sorin larut dalam tawanya.
***
Pukul 20.00, Acara pentas seni dimulai diantara para murid, ada yang berpentas menari, dance, komedi, Menyanyi akustik, dan memainkan musik gitar.
Tak disangka salah satu diantara mereka yaitu Ardi yang memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu.
Semua bersorak tepuk tangan antusias. Jeritan-jeritan setiap kelas tak kalah bergemuruh, karena memang Ardi tak kalah menarik dengan Henry. Mereka sama-sama tampan tapi sayang tak semua hati bisa memilikinya.
"Selamat malam semua."
"Malam.." teriak keras bersamaan terdengar jelas dipendengaran.
Ardi duduk di kursi yang sudah disediakan panitia acara pentas. Ia akan bersiap memulai memainkan musik.
"Sudah siap semua?" Tanya Ardi membuat semuanya bersorak.
"Siaaappp!"
Jari tangan Ardi memetik senar gitar yang dibawanya. Semua perlahan mulai menikmati alunan musik gitar Ardi.
"Perahu kertasku kan melaju."
"Membawa surat cinta bagimu."
"Kata-kata yang sedikit gila tapi ini adanya."
"Perahu kertas mengingatkanku, betapa ajaib hidup ini."
"Mencari-cari tambatan hati, ku sahabatku sendiri."
"Hidupkan lagi mimpi-mimpi cita-cita."
"Yang lama ku pendam sendiri."
"Ku bahagia. Kau telah terlahir didunia."
"Dan, Kau ada. Diantara milyaran manusia, dan ku bisa dengan radarku, menemukanmu..uu."
"Ooo..ooo..tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku cintaku padamu."
"Ku bahagia. Kau telah terlahir didunia."
"Dan kau ada. Diantara milyaran manusia, dan ku bisa dengan radarku, menemukanmu."
Suara tepuk tangan meriah setelah Ardi selesai menyanyikan lagu dengan merdu. Membuat Genk butterfly salah satunya bertepuk tangan.
"Al, Lo ngapain sih pakai tepuk tangan segala?!" Tanya Yista mengerutkan dahi.
"Suara Ardi merdu Yis."
"Memangnya salah ya?" Ucap Alya mempertanyakan.
"Alay iya. Enakan juga suara gue. Yista percaya diri dengan suaranya sendiri.
"Hahaha.. beda jauh. Wekgh." Timpal Alya menjulurkan lidah ke Yista. Yista cemberut mendengar kejujuran Alya dan kembali pandangannya ke panggung.
Selesai bernyanyi Ardi kembali ke tempatnya. Disebelah kiri Sorin, disebelah kanan Sorin ada Henry,dan di sebelah kiri Ardi Ada Bian, setelah itu ada Oki.
"Ciee, suara merdu. Buat siapa nih Yee?" Celetuk Bian lalu ditimpali Oki.
"Iya nih, siapa yang Lo maksud nih?"
Ardi engga. Menyahuti kedua temannya yang menurut dirinya sangat berisik.
"Diam woy, gue cuma nyanyi bukan buat seseorang."
"Pret!" Usil Bian tak percaya. Bian melihat sorot mata Ardi yang mengelak pertanyaannya dengan Oki.
"Iya Ar. Siapa cewek yang kamu sukai?" Sorin menambahkan pertanyaan yang membuat Ardi semakin terdiam.
"Gue juga engga tau, Rin. Nggak tau kenapa gue pengen nyanyi lagu perahu kertas." Batin Ardi berkata.
"Semua jangan salah paham. Itu hanya sekedar lagu." Alibi Ardi.
"Menurut gue itu ungkapan hati." Bian percaya diri menebak.
"Hahaha betul sekali, gue kali ini setuju kata Bian." Omel Oki sambil tertawa.
"Hey! Kalian bisa diam nggak?!" Henry tak terima, ia memperhatikan penampilan yang sedang berlangsung di atas panggung, namun terdengar suara ocehan teman-temannya yang menurutnya mengacaukan konsentrasi.
"Enggak, Hen. Kita masih pengen ngobrol." Timpal Oki tak merasa bersalah.
"Berisik kalian." Henry tak suka teman-temannya memuji laki-laki yang menurutnya menyebalkan menjadi teman, sahabat ataupun lawannya yaitu Ardi.
"Biarin lah Hen. Kamu nggak perlu melarang kaya gitu." Celetuk Sorin membantu Oki dan Bian.
"Iya." Henry pasrah mengiyakan ucapan Sorin daripada harus menambah keributan lagi.
"Emang enak." Gerutu Ardi sendiri seraya tersenyum puas.
Sementara Oki dan Bian menahan tawa agar tak terdengar Henry.
***
Jeritan malam di mulai pukul 21.30. Semua murid telah berkumpul di tempat semula seperti yang diinformasikan Bu Devi sebelumnya.
Hari semakin malam, menambah adrenali setiap kelompok. Setiap kelompok diwajibkan membawa lilin dan senter lampu. Senter lampu, masing" anak sudah membawa sendiri. Sementara lilinnya sudah disiapkan dari sekolah. Bu Devi dan guru lainnya sudah membagikan lilinnya.
Menghela napas panjang Genk butterfly, kelompok yang pertama kali berjalan mencari sesuatu yang diminta oleh Bu Devi, dan yang membawa petanya, Vika.
"Gue belum apa-apa kok ciut ya." Alya terus terang.
"Fokus guys ke permainan ini. Kalau kata Bu Devi kita berhasil bakal dapatin hadiah." Vika menjelaskan lagi perkataan Bu Devi dengan penekanan.
"Menurut gue ini permainan gak asik, Vik." Ucap Disty mengomel pelan.
"Lo mau gak dibolehin ikut ujian akhir?"
Vika memberi pilihan yang tak seru menurut Disty.
"Gue yakin kita bisa!" Vika meyakinkan ke anggotanya.
"Tapi, jangan gue duluan, Lo aja, Yis." Ucap Vika,membuat semua anggotanya melotot.
"Njir, sama aja bohong Vik!" Timpal Yista cemberut.
***
To be continue..