
Ardi memperhatikan intens keduanya tengah bercakap. Entah, Mengapa hati kecil Ardi sedikit merasakan sakit? Padahal diantara dirinya dan Sorin hanya sebatas teman dekat.
"Ada apa dengan gue?" Gumam Ardi bergelut dengan pemikirannya sendiri.
"Apa ada yang salah dengan gue?" Ardi berbalik arah menjauh dari pandangan yang menurutnya sangat menyesakkan.
Ardi mengacak rambutnya sendiri frustasi. "Kenapa perasaan gue nggak tenang. Setelah lihat Sorin dengan Henry?"
"Gue sama Sorin hanya sebatas teman, bahkan, nggak lebih." Lanjutnya kesal.
Tiba-tiba kesialannya datang.
BRUGH!
Lemparan botol minuman mengenai pelipisnya.
"CK.. Sial. Siapa yang kurang ajar buang botol minuman ini." Pandangan Ardi menoleh kesegala arah mencari pelaku yang siap diterkamnya.
"So-sorry.. Ar.Gue nggak sengaja." Caca mendekat merasa bersalah.
"Ish.. Maaf beneran nggak sengaja, sumpah!" Terangnya sambil memohon ke Ardi.
"Awas ya, Lo ulangi lagi. Sampah dibuang bukan ditendang, tau gak?" Komentar Ardi tidak terima sambil merintih kesakitan.
"Udah, Ar. Jangan marah dong, please!" Risih Caca melihat Ardi memarahinya.
"Gue obatin ya." Caca mendekat, lalu menarik Ardi ke tenda siaga (Tenda darurat jika terjadi hal yang tak diinginkan.)
Ardi mengikuti Caca ke Tenda yang letaknya tak terlalu jauh.
"Udah Lo duduk aja." Pinta Caca mengambil kotak obat yang tersedia.
Ardi duduk menurut perkataan Caca.
Caca duduk disampang Ardi, Ia pun mengobati perlahan pelipis Ardi yang luka akibat ulahnya menendang botol.
"Ck, kena sial apa gue diomelin Ardi. Udah bete' tambah bete' lagi." Cacai menghela napas panjang, karena kesalahannya sendiri.
***
"Makasih Ardi minumannya."
Sorin menerima minuman dari Ardi.
"Sama-sama."
Mereka pun berjalan mencari tempat duduk yang layak dan hanya beberapa menit, Sorin dan Henry menemukan tempat duduk yang disediakan pihak sekolahnya untuk beristirahat.
"Lombanya masih banyak?" Tanya polos Sorin.
"Tersisa 2 permainan lagi." Henry membalas pertanyaan Sorin.
"Wahh..semoga saja kelompok kita menang juara 1." Semangat Sorin terlihat masih membara. Padahal Sorin dan Oki tadi kalah.
"Aamiin." Kata Henry menimpali.
"Sorin, gimana pekerjaanmu?" Tanya Henry seketika membuat Sorin yang disebelahnya cepat menoleh.
"Baik Hen." Sorin tersenyum.
"Syukurlah."
Sorin tersenyum tipis. Suara Bu Devi lewat speaker membuat semua anak-anak berlari kembali ke tempat semula bersama Bu Devi.
"Kegiatan perlombaan sudah selesai, kalian boleh beristirahat. Kembali ke posisi sekarang ini, nanti pukul setengah delapan malam. Karena ada kegiatan jeritan malam + pentas seni."
"Baik Bu." Kompak semua murid yang berbaris perkelompok.
"Bubar barisan! Jalan!" Teriak Bu Devi lantang ke microfon yang dipegangnya.
"Siap Bu!" Jawab semua bersamaan.
Mereka bubar dengan kegiatannya masing-masing, namun dilarang untuk tidak terlalu menjauh dari lokasi.
"Ngapain pakai solasi segala?" Celetuk Bian yang melihat aneh Ardi.
Tatapan Ardi terlihat datar, Ia sedang malas menanggapi pertanyaan Bian yang baginya selalu ingin tahu.
"Itu dipelipis Lo." Tunjuk Bian masih bertanya kedua kalinya.
"Iya tadi jatuh." Timpal Ardi malas.
Bian yang mendengar jawaban Ardi, tertawa lepas. Namun, menurut Ardi ucapannya tidak ada yang lucu sama sekali.
"Hahahaha.. sejak kapan Ardi jatuh sampai pelipis? Memangnya Lo gak lihat kalau jalan, kalau seumpama di depan ada batu." Tawa Bian seakan meledeknya.
Bian yang melihat Ardi sedikit aneh, Ia pun bergegas mengikutinya. "Tunggu Ar!"
"Jangan ikuti gue!" Teriak Ardi mengusir keberadaan Bian yang terus mengikutinya.
Sementara, Sorin memilih bersama Oki, dan Henry pergi ke toilet untuk buang air kecil.
"Rin, gue lihat-lihat ya, Genk butterfly itu gak suka banget sama keberadaan Lo?" Celetuk Oki asal membuat Sorin terkejut mendengar ucapan Oki.
"Hustt, Oki. Jangan bilang kaya gitu."
"Ya ampun, Lo gak ngerasa Rin?"
Sorin menggeleng cepat. "Engga, Oki."
"Jangan marah, itu menurut pendapat gue. Karena Lo kan dekat sama Henry ataupun Ardi?"
"Masalahnya apa? Aku bukan pacarnya Henry ataupun Ardi." Sorin menjelaskan apa adanya.
"Iya secara dia kegenitan banget ke Henry kalau di kelas. Apalagi Lo sebangku sama Henry."
Oki memang serius mengatakan hal itu kepada Sorin. Sorin terlampau polos, hingga membiarkan siapapun melukai dirinya sendiri. Kalau orang lain sudah bakal caci maki kembali. Sorin sendiri lebih menerima, namun ia sedih dengan tindasan dan perkataan yang menyakitkan.
"Ah, iya benar, Ki. Vika memang menyukai Henry."
"Berarti Vika iri ke Lo. Lebih baik sekarang Lo harus lebih hati-hati, karena gue takut Vika sama genknya—."
Ucapan Oki terhenti, karna Sorin menghentikannya. Ia tak ingin larut dalam kekhawatiran.
"Jangan diteruskan Ki. Makasih perhatiannya." Ucap Sorin cepat berusaha menghilangkan kecemasannya.
"Maaf Rin, gue gak bermaksud untuk nakutin Lo." Oki merasa bersalah dengan ucapannya ke Sorin.
"Aku yang makasih banyak ke kamu, Oki. Kamu tidak perlu minta maaf."
"Kalau gitu, kita kembali ke tenda yuk." Ajak Oki senang.
"Ayuk." Antusias Sorin menggandeng tangan Oki menuju tenda.
Sesampainya di tenda. Keduanya melotot tak percaya setelah masuk ke dalam.
"Astaga, Sorin!" Ceplos Oki berteriak.
"Ya ampun!" Kata Sorin sambil menutupi mulut dengan tangannya.
Mereka melihat tendanya penuh dengan cacing panjang yang entah siapa yang sengaja melakukan rencana buruk kepada mereka berdua.
"Kelakuan siapa coba?! Iseng banget hidupnya!" Oceh Oki yang langsung pergi dari tenda meminjam sapu. Untuk mengumpulkan cacing-cacing itu sebelum dimasukkan ke dalam plastik.
Sementara Sorin mengambil kantong plastik didalam tas. Oki datang kemudian menyapu cacing panjang itu, sedangkan Sorin yang mengambilnya secara bertahap menggunakan plastik yang sudah membungkus tangannya.
Beberapa menit kemudian, Mereka menghela napas panjang, sedikit kelelahan.
"Gue yakin kalau pelakunya Genk butterfly. Karena siapa lagi kalau bukan mereka." Tebak Oki percaya diri.
"Kalaupun iya, kita belum ada bukti." Jawab Sorin memberi masukan.
"Iya benar juga katamu Rin, Tadi belum gue rekam, karna bisa jadi bahan bukti."
"Untuk selanjutnya, kita harus rekam kalau kejadian seperti ini terulang lagi." Oki memberi ide dengan ekspresi serius.
"Iya." Kata Sorin sambil mengangguk.
"Lo juga harus hati-hati, Rin." Oki mengingatkan karena khawatir dengan Sorin.
Mereka pun bersantai seraya mengeluarkan jajanan yang dibawanya masing-masing untuk dimakan bersama.
Ting!
Notifikasi masuk membuat Oki mengingatkan Sorin untuk mengecek handphonenya. Karena bukan Oki yang mendapatkan pesan singkat itu melainkan Sorin.
"Sorin, di mana kamu sekarang?" Pertanyaan yang telah dibaca Sorin dari Henry.
Henry datang, setengah badannya masuk ke dalam tenda Sorin dan Oki sambil memegang handphonenya.
Setelah membaca notifikasi tatapan Sorin mendongak melihat keberadaan Henry yang mengagetkan dirinya dan Oki.
"HENRY?! Sorin dan Oki melongo. Lalu, menaruh handphone miliknya ke dalam saku.
"Henry?! Teriak Oki bersamaan dengan Sorin.
***
To be continue…