Little Star

Little Star
Ikatan.



"Tuhan tau yang terbaik untuk kamu, Ar. Kamu harus yakin, bisa melewati semua dengan mudah."


"Coba kau nikmati dan utarakan apapun. Aku siap jadi pundak untuk bercerita. Aku yakin mamamu pasti bisa berubah." Sorin mengatakan dengan semangat ke Ardi.


Kata keyakinan itu terlontar dari mulut Sorin. Seakan daya baterai Ardi menaik dan membaik.


Sorin percaya badai kehidupan Ardi pasti menghilang, sama seperti dirinya yang harus selalu kuat melakukan kegiatan yang melelahkan demi masa depan. Suatu saat Sorin yakin kebahagiaan akan datang bagi orang yang mau berjuang.


"Jangan sedih ya, Ar. Aku yakin kamu kuat sampai titik terakhir."


Ardi menoleh ke Sorin, sambil mengangkat jari kelingking. "Lo juga janji ke gue selalu ada buat gue."


Kelingking Sorin menyatu dengan Ardi, keduanya berjanji bahwa akan selalu ada. "Iya Ardi. Janji."


Senyuman keduanya memekar sempurna seperti bunga.


***


Keesokan hari, Sorin libur bekerja. Ia sengaja bangun pagi, berencana ke pasar. Ia telah bersiap keluar rumah membuka pintu, tak disangka Henry sudah ada didepannya.


"Henry?!" Intonasi terkejut nampak di raut wajah Sorin. Ia menggeleng tak menyangka. 


"Sejak kapan sudah ada di depan pintu? Hampir saja jantungku lepas." Sorin berkata sambil mengelus dada. 


"Baru aja." Ucap Henry sambil mengamati Sorin dari atas sampai ke bawah. 


Sementara Sorin hanya diam melihat tingkah Henry.


"Kenapa pandanganmu seperti itu? Ada yang salah denganku?" Tanya Sorin ingin tahu. 


Henry menggeleng. "Kamu mau ke mana?" 


"Owh. Aku mau ke pasar." Sorin mengatakan ke Henry.


"Ayo, aku antar." 


Sorin diam sambil menatap Henry. "Ayo. Kenapa melamun!"


"Gue anter." tegas Henry.


"Ya." Sorin mengangguk pasrah.


Keduanya berada di dalam mobil. Kecanggungan masih terasa karena beberapa hari Sorin tak berkomunikasi dengan Henry sama sekali. Karena, Ia menghabiskan waktu dengan Ardi.


"Lo sama Ardi, pacaran?" celetuk Henry memulai percakapan dengan Sorin.


"Kenapa malah ketawa? Memang pertanyaanku lucu."


"Iya, lucu. Aku sama Ardi hanya berteman baik. Kenapa pertanyaanmu seperti itu?" Sorin menjelaskan santai ke Henry. Namun, dibalas Henry tanpa ekspresi. Sorin menerima ekspresi datar yang menegangkan.


Sorin tetap santai. Ia polos dan tak menyadari bahwa Henry tidak ingin melihat kedekatan mereka berdua.


"Kamu mau beli apa di pasar?"


Henry tak ingin larut dalam kekesalannya sendiri. Ia lebih mengutamakan kenyamanan saat bersama Sorin.


"Belanja. Buat masak." Timpal Sorin melihat arah lain.


"Masak sendiri?" tanya Henry kedua kali.


"Iya Hen."


Pertanyaan Henry seperti mengintrogasi. Sorin memang tidak menyadari Henry sangat protektif kepadanya. Sorin menjawab apa adanya.


Henry tetap berarti dimata Sorin. Karena Henry sangat membantu dirinya dari awal. Seperti hutang budi yang selalu Sorin catat setiap hari.


Mereka berdua sampai di pasar. Henry mengikuti Sorin dan membantu membawa apapun kebutuhan yang diperlukan Sorin.


"Lo makan sendiri?"


"Iya, aku tidak belanja terlalu banyak."


"Belanja yang banyak sekalian. Apa kamu nggak ingin mendapatkan uang tambahan?"


"Maksudmu?" Sorin melongo mendengarnya.


"Iya. Kamu nggak ingin jualan. Buat tambahan jajan atau tabungan."


Henry memang peka mengenai masalah perekonomian. Karena, Henry sudah banyak belajar dari mendiang mamanya.


"Ah, iya juga ya. Kenapa aku tidak punya ide seperti itu?!" Sorin malu sendiri, karena Henry memberikan masukan ide yang sebelumnya tak terpikirkan.


"Tenang Rin, aku bakalan kasih kamu uang modalnya." Henry melirik Sorin yang masih berpikir keras.


Sorin lebih memilih berjalan mendahului Henry. Henry berusaha mengikuti dari belakang.


***


To be continue...