
Situasi di dalam kelas sangat hening. Semua sedang sibuk menyelesaikan tugas dari Bu Titik. Entahlah, Henry sama sekali tidak bisa konsentrasi mengerjakan soal bahasa Indonesia. Tangan dan pemikirannya tidak sejalan. Ia terpikirkan Sorin yang belum kembali ke sebelahnya.
"Sorin ke mana ya? Kenapa sampai sekarang belum kembali?" Batinnya sendiri.
Ia melihat bangku Ardi kosong. "Sebenarnya itu anak ke mana lagi ? Apa mereka janjian ? Tapi, buat apa coba?"
Pemikiran negatif Henry muncul membuat dirinya tidak tahan meninggalkan pelajaran yang sudah dimulai.
Tetapi, beranjak dari bangku pun Henry berat karena tatapan Bu titik tengah melihat dirinya yang sedang melamun.
Tatapan Henry kembali ke buku tebal berisi soal sesuai perintah.
"Hampir mati gue." Batinnya sendiri berkecamuk. Ia memulai menyelesaikan soal.
KRINGGGG.. KRINGGGG. Bel berbunyi membuat semuanya bersorak gembira.
"Tugasnya dilanjutkan besok ya." Bu Titik tersenyum ramah ke semua yang ada di kelas.
Semua murid kompak mengiyakan. Setelahnya Bu Titik keluar dari ruang kelas.
Henry sigap memasukan buku tebal ke tas dan berniat mencari keberadaan Sorin.
***
Suara dering sekolah sudah terdengar. Namun, Sorin masih terbaring di UKS.
Ardi setia menunggu disisi Sorin.
"Kenapa Lo bisa kaya gini, Rin?" lirihnya sambil memandangi Sorin yang tak merespon.
"Apa ada orang yang sakitin Lo?" Ardi mempertanyakan lagi ke Sorin.
"Gue yakin Lo kuat. Tapi, gue harap Lo bisa jujur ke gue. Siapa yang sengaja nyakitin Lo?" Ardi melanjutkan lagi pertanyaannya.
Binar mata Ardi berharap Sorin lekas membuka mata, menjawab semua pertanyaannya yang terkesan sedikit memaksa.
Seakan Ardi ingin segera mengetahui jawaban dari Sorin, setelahnya ia akan mencabik semua badan orang yang telah merencanakan hal keburukan itu pada Sorin.
Tidak lama Sorin bangun, Ia mengangkat tubuhnya duduk melihat kehadiran Ardi. "Aku ada di mana?"
"Tenang. Sekarang Lo aman di ruang UKS."
Sorin mengamati Ardi sejenak. Lalu, Ia memeluk Ardi erat.
Seketika Ardi mematung melihat Sorin yang tengah memeluk erat tubuhnya.
Sorin menangis di pelukan Ardi. Baginya Ardi sangatlah baik.
Sebenarnya Sorin merasa trauma dengan sikap bullying yang selalu dialaminya. Ia mengira di sekolah lamanya saja, ia dapat merasakan sakit. Namun, perkiraannya salah. Di sekolah baru pun sama saja tidak ada perubahan, malahan lebih kejam lagi daripada sekolah di desa.
Ardi tau perasaan Sorin sekarang. Ia ingat betul, wajah Sorin ketika melihatnya saat selesai mendobrak pintu. Rasa ketakutan dan lelah, terlihat jelas di penglihatannya.
Ardi melingkarkan tangannya membalas pelukan gadis itu. "Sama-sama Rin. Tenangin diri Lo ya."
Perlahan Sorin melepaskan pelukannya. Ia terlihat murung, berbeda dengan sebelum musibah ini terjadi.
"Rin. Kenapa Lo bisa kekunci di toilet? Coba Lo ceritain ke gue pelan-pelan."
Sorin hanya menatap Ardi yang tengah dilanda ingin tahu.
"Ayolah, Rin. Jawab pertanyaan gue. Siapa yang tega berbuat kaya gini ke Lo?"
Sorin diam karena Sorin ketakutan. Ketakutan akan peristiwa yang lebih parah, belum lagi Ardi akan melaporkan ataupun mengviralkan kejadian ini.
Sorin lebih memilih menyimpannya sendiri dan berusaha tak bercerita semuanya. Ia menggeleng kepala, "Aku baik-baik saja sekarang, Ar."
"Serius? Kamu gak ingin cerita?" tanyanya sekali lagi.
"Iya. Ardi tidak perlu khawatir. Lihat saja aku sudah sadar kan? Hehehe."
Sorin menyembunyikan semua perasaannya. Karena ia juga takut merepotkan Ardi. Ia tahu Ardi ada masalah dengan ibunya. Lebih baik Sorin menyelesaikan masalahnya sendiri.
Sorin memilih menampilkan senyuman manis.
Ardi melihat tingkah Sorin seperti banyak keanehan. Ia menyimpulkan bahwa Sorin diam-diam menyembunyikan sesuatu. Namun, Ardi menyadari bahwa Sorin sangat lelah.
Ardi masih berdiri tepat disisi Sorin. Ia membalas senyuman Sorin dengan mengelus puncak rambut Sorin pelan.
"Lo banyakin istirahat ya. Gue tau Lo pasti capek. Tenang, semua bakalan baik-baik aja kok." Ucap Ardi lembut.
Ucapan Ardi membuat Sorin mematung.
Tanpa keduanya sadari Henry sudah ada di antara mereka berdua.
"Sorin?!" Henry memanggil.
***
To be continue...