Little Star

Little Star
Bersama Ardi.



"Bisa, tidak bahas aku terkunci di toilet?" tanya Sorin seketika mengagetkan Ardi karena ucapannya terlalu menyinggung perasaan Sorin.


"Maaf, Rin. Gak bermaksud singgung perasaan Lo. Gue tanya karna peduli sama lo. Gue gak terima Lo diperlakukan kaya gitu."


Sorin tidak menjawab penjelasan dari Ardi yang tengah berjalan bersamanya.


"Gue tau kok perasaan Lo. Gue bakalan cari tau dalang yang sengaja lakukan hal itu ke Lo." Lanjut Ardi menegaskan.


"Jangan repot-repot bantuin aku, Ar. Aku sudah baik-baik saja sekarang."


"Udah ya, Lo itu gue bantuin malah nolak. Lo yang sabar ya. Kalau ada apa-apa langsung bilang ke gue, Rin. Nggak perlu malu."


Mendengar penjelasan Ardi dengan sorot mata dan sikapnya yang meyakinkan. Hati Sorin luluh, Ia mengangguk memperlihatkan ke Ardi.


"Udah, gak perlu Lo pikirin lagi. Kan, gue nanya ke Lo, karna penasaran." Kata Ardi sambil menebak-nebak sendiri siapa dalang kurang adab tersebut?


"Hahaha.." Suara tawa Sorin terdengar, membuat Ardi yang ada disebelahnya kebingungan.


"Lo--, Kenapa tertawa?" Ardi kebingungan melihat Sorin yang tertawa memperlihatkan aura kecantikannya.


"Ardi lucu."


"Lucu?" Tanya Ardi semakin tak tahu tingkah teman barunya ini.


Sorin terlihat manis, apalagi suara tawa kecilnya yang khas, membuat dirinya sedikit malu.


"Lucu dari mananya? Gue bukan pelawak." Ceplos Ardi asal.


"Lucu kamu Ar. Kenapa sekeras itu memikirkan dalang yang sengaja ngunci aku di toilet? Hahaha .."


"Ya harus." Timpal Ardi penuh penekanan.


"Setiap keburukan yang disembunyikan, pasti akan terlihat sendiri. Jadi kamu gak perlu mencari terlalu keras."


"Ya juga. Tapi, menurutku kelamaan. Aku suka mencari tau, apalagi mencari tau kasus yang kaya gini ini."


"Detektif dong."


"Gak juga. Niatnya cuma bantuin lo." Ardi mengacak pangkal rambut Sorin yang menjadi kebiasaan seorang Ardi.


"Ardi ! Rambutku jangan diacak-acak!" Histeris Sorin dengan tangan jahil Ardi.


"Hahaha.." Ardi tertawa lepas.


***


Pukul setengah tujuh pagi. Sorin dan Ardi sampai di sekolah. Ia dan Ardi berjalan menuju kelas. Dua anak perempuan dari kelas lain melihatnya heran.


"Bukannya itu Ardi ya? Tumben banget berangkat bareng sama anak baru?"


"Mungkin mereka baru jadian kali ya." lirih suara kedua anak perempuan itu. Namun masih terdengar di telinga Sorin dan Ardi.


Ardi tak menghiraukan, malahan Ardi semakin enjoy merentangkan tangannya ke bahu Sorin. Semua yang melihat semakin melongo.


Berbeda dengan Sorin yang aneh dengan sikap Ardi. Ia sebenarnya risih tetapi memaklumi kondisi ini. Tetapi, hal itu tidak bertahan lama karena ada Genk Butterfly yang sengaja menghadang keduanya.


"Hai Ardi." Panggil Vika genit. Namun, tangan Ardi masih tetap pada posisi.


"Pacar baru Ar?" Ceplos Vika tepat sasaran ke Ardi.


"Kenapa Ka? Lo iri?"


Vika memanas mendengar jawaban Ardi. Vika tertawa diawal. "Apa? Iri sama Lo berdua?"


"Gak level." Ketus Vika berbalik sambil mengibaskan rambut panjangnya ke Sorin dan Ardi.


"Yuk, masuk guys! Jangan dengerin kata Ardi!" Perintah Vika si ketua Genk Butterfly menuju kelas.


Tatapan sinis semua anggota genk Butterfly ke arah Sorin sebelum mereka pergi.


"Dasar cewek sinting !" Ceplos Ardi kesal melihat tingkah perempuan yang sok menjadi jawara di sekolah.


"Gak perlu Lo pikirin cewek sinting kaya Vika." lanjut Ardi sambil menepuk bahu Sorin pelan.


"Iya." Sorin menaruh rasa curiga dengan sikap Vika dan teman-temannya. Apalagi tatapan tak suka terlihat dari sorot semuanya. Namun, Sorin berusaha tak berpikir negatif tanpa bukti sendiri.


"Ayo masuk kelas. Jangan bengong disini." pinta Ardi melihat Sorin dalam dekapnya.


"Oke."


Mereka pun masuk dan kembali ke tempat duduknya masing-masing.


Sorin melihat Henry sudah ada di sebelahnya dengan kebiasaan membaca buku bersama headset yang terpasang ditelinga.


"Henry sudah datang." Batin Sorin keheranan.


Sorin mengambil buku di dalam tas, menaruh di meja. Seketika Henry menoleh, melepas headsetnya.


"Baru sampai?" lirih Henry ke Sorin.


"Jam enam pagi. Sorin berangkat sendiri?" tanya Henry santai sambil memandang Sorin yang terlihat semakin segar dari hari ke hari.


"Aku berangkat sama Ardi, Hen."


"Oh. Naik apa diantar naik apa?" Henry kembali bertanya sambil menahan rasa malasnya.


"Jalan kaki."


"Apa? Lo jalan kaki." Henry terkejut mendengar jawaban Sorin. Namun, Sorin sama sekali tidak kelelahan.


"Kamu gak capek jalan kaki?" Henry terheran melihat Sorin yang nampak sumringah tanpa lelah.


Jarak antara rumah Sorin sampai ke sekolah lumayan jauh. Henry curiga, sedekat apa antara Ardi dan Sorin. Sehingga tidak ada apapun keluhan dari mulut Sorin.


"Henry. Ada yang salah, kalau jalan kaki?"


Henry menggeleng, "Enggak ada." jawabnya singkat lalu tak mengatakan hal apapun lagi.


Sorin hanya memandang heran dengan tingkah Henry.


Bel masuk berbunyi. Awal pelajaran matematika membuat semua murid yang tak menyukai pelajaran tersebut terasa tegang sampai tulang.


***


"Rasanya gue pengen cepat - cepat jam istirahat." Vika menghela napas berat, karena pelajaran yang dibencinya datang lagi.


"Baru aja masuk, Vik. Gila aja minta istirahat." lirik Alya yang duduk disebelahnya.


"Ah, gak asik." grutunya masih didengar Alya.


Alya sekarang duduk di sebelah Vika. Karena, anggota Genk Butterfly selalu bebas duduk dengan siapa saja.


Jangan tanya selain anak Genk Butterfly. Pastinya tidak seenaknya sendiri.


"Lo liat mereka berdua cocok gak?" Alya meminta Vika melihat ke bangku Sorin dan Henry.


"Minta dijambak Lo, Al." Sengit Vika tak terima.


"Gue nanya doang? Apa salahnya?"


"Salah." ketus Vika.


Mereka berdua berselisih sendiri membuat suara bisa terdengar di depan kelas.


BRAKKK!


Gertakan keras penggaris yang dipukulkan kuat ke meja, membuat seisi dalam kelas terkejut.


"VIKAA! ALYAA!"


"Kalian bisa diam tidak?!" Suara tegas, dan keras serta pandangan kejam beliau tepat ke arah Vika dan Alya dari depan kelas.


Seisi kelas menjadi tegang. Sorin melihat kedua temannya yang sudah diperingati melakukan kesalahan kedua kalinya.


"Vika Vika.. Gak ada capeknya buat ulah." Kata Henry yang didengar Sorin.


"Bisa Bu." Jawab Vika dan Alya berusaha tenang.


"Oke. Tolong diperhatikan ya semua." perintah beliau.


"CK.. Apes apes apes." Kesal Vika dalam hati.


"Gara-gara Lo, Al. Gue kena lagi." Celetuk Vika pelan.


"Gue.. Lagi." Alya menghela napas pasrah menerima kesalahan yang bukan hanya dia yang melakukannya.


Jam pelajaran matematika berlalu. Sorin yang masih membereskan bukunya sudah dihampiri Ardi.


"Ayo Rin. Kita ke kantin."


Sorin akan menjawab sudah didahului Henry.


"Sorin nggak ke kantin. Dia sudah delivery makanan." Henry berusaha santai. Meskipun dirinya ingin sekali memulai pertengkaran.


"Lo gak berhak ngatur hidup Sorin. Karena Sorin sekarang mau sama gue ke kantin." Kata Ardi menggandeng tangan Sorin paksa.


"Maaf Hen." lirih Sorin.


Sedangkan Henry mematung melihat aksi Ardi ke Sorin.


Sorin tak bisa menolak permintaan Ardi. Ia sudah terikat perjanjian yang dibuatnya dengan Ardi. Ia pun mengikuti Ardi ke kantin.


***


To be continue..