
"Ayo Vika, kamu duluan ya, sebagai ketua. Teman-temanmu mengikuti dari belakang."
Bu Devi mengatakan hal itu kepada Vika yang ada dihadapannya. Vika dan teman-teman pun berjalan sambil membawa peta memulai tantangan jeritan malam.
"Guys, peta gue pegang ya. Sekarang kita jalan dulu." Kata Vika berjalan berusaha percaya diri.
"Iya." Ucap kompak anggotanya.
Teman-teman yang lain berusaha membuang rasa takut. Mereka memulai permainan.
Setelah kelompok Vika, kelompok lain pun siap berjalan sesuai dengan peta yang dipegang masing-masing ketua kelompok.
Termasuk kelompok Henry.
Langkah Henry terhenti diikuti lainnya. Henry membuka lembaran kertas bergambar setiap lokasi. Ardi, Sorin, Bian, Oki ikut melihat kertas yang dibuka Henry.
Mereka melihat lokasinya sampai ke lokasi lain. "Kita disini, jalan sampai ke sini. Benderanya ada di lokasi ini." Telunjuk Henry menjelaskan ke anggotanya yang diam memperhatikan ucapan beserta petanya.
"Semua kalau ada apa-apa, jangan meninggalkan satu sama lain ya." Kata Henry serius.
"Engga akan." Celetuk Bian.
Semua mengangguk, dan berjalan bersama-sama.
Beberapa jam kemudian. Kelompok Henry, Vika dan lainnya saling terpisah dengan kegiatannya masing-masing.
Titik lokasi pada peta semua berbeda. Namun, yang pasti setiap tim yang cepat menyelesaikan yaitu pemenangnya.
"Lokasinya lumayan jauh juga ya." Kata Sorin memulai pembicaraan saat berjalan,mengusir ketegangan, sambil memegang lampu yang dipegangnya.
"Gue dengar dari kelompok lain. Peta dan letak lokasinya beda." Jawab Bian memberi informasi ke timnya.
"Serius?" Timpal Oki terkejut.
"Iya."
Mereka berlima masih berjalan melewati jembatan yang sungainya mengalir deras. Suara air terdengar di gendang telinga, Oki menarik jacket Bian, sementara Sorin berjalan sejajar dengan Henry.
Sorin memandangi sekilas Henry yang berada disebelahnya. Ia sadar bahwa Henry sangat mengagumkan. Hingga suara Ardi mengagetkan dirinya.
"Sorin. Mundur sini di sebelah gue. Entar Lo ilang, nggak ada yang jagain Lo."
Ardi memegang kedua bahu Sorin dan menariknya pelan ke sampingnya.
"Sekarang Lo aman." Kata Ardi membuat Sorin mendelik menangkap wajah Ardi yang penuh dengan perhatian.
Entahlah tingkah Ardi sangatlah tidak jelas, perhatian ataukah perasaan lainnya yang mengusik Ardi. Yang diketahui Sorin sekarang dirinya tengah digandeng Ardi.
"Ardi! Kenapa gandeng tanganku?!" Teriak Sorin reflek.
Henry dan Bian tertawa kecil. Sementara Oki hanya mengerutkan dahinya tidak menyangka.
"Hehehe.. Lo harus aman sama gue." Pinta Ardi tangan Sorin ia genggam semakin erat tak ingin melepaskan.
"Ardi aku mohon lepas!" Pinta Sorin risih.
"Lo dengar nggak sih, mesum!" Kata Henry cepat tanpa ragu ke Ardi.
Seketika Ardi melepaskan genggaman tangannya, mengerutkan dahi tak terima.
"Mesum?"
"Mesum muka Lo kali !" Timpal Ardi kesal ke Henry.
Langkah mereka terhenti, Henry dan Ardi saling menatap tak suka.
"Ya Lo yang mesum. Kenapa Lo gak terima karna ucapan gue?!" Tegas Henry sengit.
Tangan Ardi mengepal kuat, amarahnya masih bisa ia tahan. Walaupun hati panas.
Tepuk tangan Oki dan Bian membuat keduanya menoleh. "Kalian kaya anak kecil banget. Kalau kalian suka, tinggal nyatakan dong!" Seru Bian menanggapi pertunjukan yang dilihatnya.
"Sudah guys, kalian jangan banyak ulah. Kita belum dapatkan benderanya sama sekali." Terang Oki menyadarkan teman-temannya yang akan bertengkar.
Henry berbalik arah melanjutkan perjalanan. Sementara Sorin mengikuti Henry begitu saja tanpa menghiraukan Ardi yang terdiam. Oki berjalan mengikuti Sorin. Setelahnya, hanya ada Ardi dan Bian.
"Lo suka ya sama Sorin." Tebak Bian dijawab Ardi cepat dengan anggukan.
"Argh! BIAN!" Panggil Ardi mengacak rambutnya sendiri. Lalu, menyusul semua temannya karna tertinggal sendiri.
"AAAAAA…" teriakan keras terdengar dari kelompok Vika setelah Disty mendapatkan bendera warna merah yang berada di atas ranting pohon.
Mereka berteriak dan berlari karena ada sesosok perempuan berambut panjang mengejar mereka. Entah asli ataupun palsu, semua ketakutan berlari menjauh.
"Anjir, gue kaget. Selamatnya gue dapet ini bendera." Menghela napas panjang.
"Kalau engga sia-sia kita, Dis." Timpal Yista, mengatur napas yang tersengal.
"Alya, sumpah ngagetin!" Vika menambah pembicaraan setelah mereka berlima memilih berhenti.
"Gue punya mata Vika! Wajarlah gue tau, ya jelas gue lari, masa' harus diam di tempat."
"Iya, benar kata Alya. Ogah banget gue gak lari. Bisa-bisa gue ngompol." Oceh Disty.
"Hahahaha.. Lo berempat emang kurang baik ya! Gue ditinggalin." Kata Tio, anggota baru di grup Vika.
"Tio.. gue kira Lo dimakan sama itu Kunti."
Vika berulah.
"Kampret Lo!" Jawab Vio sambil mengatur napas setelah tertinggal dari empat teman kelompoknya.
"Tio keterlaluan banget sama Vika!" Alya tak berdosa.
"Udah lanjut lagi, daripada berdebat. Harusnya Lo kasian sama gue Alya." Ekspresi Tio datar, Ia menolak perdebatan, meskipun dirinya masih lelah karena baru saja berlari.
"Skuy! Ini kita ke lokasi dua, nggak seberapa jauh dari yang pertama." Ajak Vika melanjutkan aktivitas fisik, diikuti lainnya dari belakang.
"Capek oh tuhan." Isakan Yista merintih berusaha kuat berjalan lagi.
"Sabar Yis." Disty menguatkan.
***
PYYAAARRRR!
Piring yang berada diatas meja sengaja dijatuhkan.
"Bayar sekarang! Atau semua barang dan rumah akan disita!" Lantangnya tersulut amarah kebencian.
"Saya mohon, jangan sita rumah ini. Saya akan mengembalikan uang yang pernah saya pinjam sebelumnya."
"Kapan?! Ini sudah jatuh tempo kesekian kalinya!" Bentaknya kasar.
"Saya mohon pak. Jangan sita rumah saya." Lelaki paru baya itu memohon, bersimpuh ke kaki panjang laki-laki yang ada dihadapannya.
"Saya nggak mau tahu lagi! Sekarang keluar dari rumah ini!" Laki-laki gagah itu berani mengusir secara paksa.
"Saya mohon jangan pak." Permohonan itu terucap sampai menyesakkan relung jiwa, namun laki-laki yang masih berdiri itu memiliki perasaan yang buruk.
Laki-laki itu menyingkirkan tangan lelaki paruh baya yang menyentuh kakinya.
"Minggir! Jangan pegang kakiku!" Ketusnya.
Lelaki paruh baya itu bapak Sorin, beliau enggan melepaskan, hingga akhirnya laki-laki berhati batu, mendorong beliau keras hingga kepalanya membentur tembok keras dan tergolek tidak sadarkan diri.
Laki-laki itu keluar dari rumah, menyuruh dua bodyguardnya membawa bapak Sorin yang tergolek lemas.
Laki-laki itu dibantu ke dua bodyguardnya membawa tubuh bapak Sorin ke dalam mobil. Kemudian kedua Bodyguard tersebut langsung pergi dari lokasi rumah Sorin.
Rasa puas menyelimuti laki-laki gagah itu.
"Akhirnya rumah ini menjadi milikku." Gumamnya sambil tertawa lebar seraya melihat kondisi rumah dan barang yang masih ada didalam ruangan.
"Aku akan mencari suratnya." Laki-laki itu bergegas mencari berkas-berkas kepemilikan tanah.
Ia mencari di almari tempat menyimpan semua pakaian, yang semula rapi menjadi berantakan. Karena ulah, psikopat berbulu dingin.
***
To be continue...