
Gelisah dan panik sekarang dirasakan Sorin. Ia sudah berulang kali sekuat tenaga berusaha membuka pintu, hasilnya sia-sia.
"Kenapa bisa begini?!" Sorin terus memaksa gagang pintu yang dipegangnya agar terbuka dan Ia bisa keluar.
Tak hanya itu Ia berusaha mendobrak pintu yang ada dihadapannya. Tetapi, Ia kalah. Tenaganya tak cukup kuat.
"Pakai cara apalagi aku bisa keluar. Pintunya terkunci dari luar ruangan."
Sorin mengambil handphonenya menghubungi nomer Henry.
"Angkat Henry..Angkat.." Sorin menunggu Henry menerima telephonenya. Dua kali sambungan telephone berdering, tetapi tak ada jawaban dari Henry.
Sorin mencoba menghubungi Ardi. Ia menunggu sama halnya dengan Henry. Tak ada jawaban.
Sorin melihat baterai handphonenya low, tinggal 2%. Ia tak ada pilihan lagi selain berteriak, agar ada yang mau menolong dirinya.
"Setelah ini handphoneku mati. Baterainya habis, Ya Allah." Gumamnya.
"TOLONG ! TOLONG ! BUKA PINTUNYA !" Teriak Sorin lost control menggedor pintu didepannya.
Sorin berusaha tenang, tetapi tidak bisa. Tidak ada pilihan lagi, selain menerima. Tenaganya terkuras hebat. Ia terduduk lesu dilantai toilet menyandarkan punggungnya di tembok, melipat kaki dan memeluknya erat.
"Tolong bantu aku. Hiks.. Hiks." Bulir air mata menetes diseragam barunya.
Sorin tidak mengetahui bahwa toilet yang Ia masuki sedang ada perbaikan. Memang sebelumnya sudah ada tulisan bahwa toilet sedang perbaikan, Alya sengaja mengambil kertasnya dan menyimpan kertas itu disaku seragam. Tetapi, Ia kembali menempelkan kertas itu setelah berhasil menangkap mangsanya.
***
"Yes! Berhasil !" Seru Vika diikuti Yista,Alya dan Disty yang sudah ada di kelas.
Alya menghentikan rasa puasnya. Ia bersorak kemudian memilih diam.
"Apa kita gak terlalu kejam sama Sorin?" Ceplos Alya ke semua personil Genk Butterfly yang sedang berbahagia.
"Al, Gue gak salah dengar. Lo kasian sama anak kere itu?!" pertanyaan pedas itu terlontar dari mulut seorang Vika yang melotot melihatnya.
"Kalau cara ini buat dia kehilangan nyawa gimana?" Alya gelisah, ragu dengan yang telah dilakukannya.
"Lo mau tanggung jawab, Vik?" lanjutnya setelah menjeda pertanyaan sebelumnya.
Sungut Vika menaik, "Harusnya Lo pede. Apa yang Lo lakukan tadi. Bukan tambah kehilangan nyali kayak gini. Dasar bodoh !" Ketus Vika.
Alya hanya diam menerima umpatan kasar Vika.
"Udah deh, Alya. Pikiran Lo harus positif. Balik sana ke tempat Lo. Udah bel masuk tau." Timpal Yista dengan nada sedikit mengusir.
"Iya gue tau." Kesal Alya kembali ke tempat bangkunya.
***
Ardi masuk ke dalam kelas, Lalu beberapa menit Henry berjalan ke bangkunya.
"Sorin ke mana ya? Gue kira sudah ada di kelas." Pikir Henry.
Ardi yang telah duduk di bangkunya, menunduk melihat handphone. Ia melihat ada panggilan masuk yang tak terjawab dari Sorin.
Spontan Ardi langsung berdiri dari tempat duduk. Pandangannya ke arah Henry dan disamping Henry.. Sorin terlihat belum ada.
Ia berlari keluar ruangan. Tak menghiraukan suara bel yang berbunyi keras. Sedangkan Henry penasaran dengan tingkah Ardi. Ia yang akan keluar kelas sudah dihadang kehadiran guru mapel selanjutnya.
"Henry, mau ke mana kamu?!" tegas Bu Titik guru bahasa Indonesia yang akan masuk ke kelas.
"Ahh--Iya Bu. Maaf gak jadi." Henry kebingungan menjawab.
"Kembali ke bangkumu." Suara singkat Bu titik diakhiri penekanan membuat Henry tak ada pilihan lagi selain pasrah.
***
To be Continue...