
"Gimana Rin? Lo mau terima syarat yang gue beri tadi?" Henry menoleh ke Sorin.
Sorin hanya diam sambil menghabiskan minumannya sampai tandas. Entah, Ia mendengar atau tidak. Sorin tak memperdulikan.
"Apa gue salah ya? Apa Sorin ada hati yang dijaga?" Ardi membatin setelah mengucapkan hal itu. Pertanyaan - pertanyaan dari dalam diri seolah berucap seenaknya.
Sorin beranjak setelah menghabiskan minumannya. Ardi hanya melamun.
"Ayo. Kita ke mana lagi?" Ajak Sorin setelah selesai membayar.
Terlihat Ardi diam melihat Sorin. "Ayo, Ardi!" Panggil Sorin.
Sorin dan Ardi sudah menyelesaikan acara makannya. Mereka keluar dari warteg.
"Mau ke mana lagi? Ardi, kenapa kamu diam saja?" Sorin kebingungan melihat sikap Ardi yang berubah pendiam.
Tidak ada jawaban. Sorin kebingungan mencari cara agar Ardi tidak mendiamkannya.
"Pasti, Ardi lagi marah sama aku. Aku harus bagaimana ya?" Ia memutar otak mencari cara.
Muncul ide yang membuatnya tidak bisa diam, secara tiba-tiba Sorin menarik tangan Ardi dengan cepat Sorin mengajak Ardi sambil berlari kencang.
"Sorin! Lo ngapain narik tangan gue!" Teriak Ardi sambil berlari mengikuti tarikan tangan Sorin.
"Sudah ikuti saja!" Jawab Sorin sambil teriak berlari.
Beberapa menit kemudian, Sorin melepas tangan Ardi tepat didepan supermarket.
"Lo mau ngapain ke sini?"
"Jangan banyak tanya, ayo masuk." Pinta Sorin masuk ke salah satu supermarket.
Sorin memilih ice cream, lalu mengambil ice cream yang diminati.
"Kamu mau beli?" tanya Ardi sambil melihat Sorin yang memilih macam-macam ice cream.
"Iya."
"Kamu mau beli semua?" Ardi sengaja menggoda.
"Satu cukup." balas Sorin tersenyum.
"Gue juga kali."
"Ya mau lah, ngapain ngajak ke sini kalau gak beli." Henry ceriwis sambil membawa 2 ice cream ke kasir.
Sorin tertawa manis mendengar perkataan Ardi. Ia memilih keluar membiarkan Ardi membayar 2 ice cream.
Ia duduk di rest area supermarket sambil memandang jalanan dan lapangan lebar.
"Ini ice cream buat Sorin." Ardi memberikan sambil meledek.
"Makasih, Ardi."
"Kembali kasih anak manis." Senyuman lebar nampak jelas dihadapan Sorin. Pipinya semburat memerah. Ia menoleh ke arah lain. Entah, perasaan apa yang muncul dibenak Sorin.
"Lo kenapa?" tanya Ardi."
"Cepetan dibuka gih, ice cream nya nanti bisa leleh." Ucap laki-laki yang tengah duduk disampingnya.
"Sini gue bukain." Ardi membatu membukakan ice cream untuk Sorin. Sorin memantau sudut pemandangan indah yang menciptakan manusia sebaik Ardi.
"Ini ice cream buruan makan."
Sorin menerima ice cream itu masih dengan lamunannya.
"Lo tau enggak? Gimana caranya biar mama gue peduli dengan gue?" Celetuk Ardi. Seakan ia butuh masukan dan tentunya perhatian.
Pertanyaan itu muncul membuat lamunan Sorin menghilang. Ia seketika melihat Ardi tengah menikmati ice cream.
Seketika Sorin lahap menikmati ice creamnya.
"Gue udah berusaha sabar tapi hasilnya sia-sia."
"Menurut Lo, gue harus gimana?"
"Aku tau Ar. Apa yang kamu rasakan? Jelas kamu tidak tahan. Tapi, Suatu saat aku percaya mamamu akan luluh ke kamu."
"Iya, tapi kapan? Gue udah berusaha sekuat gue, dari mulai zaman sekolah."
Sisi kecewa Ardi masih melekat. Tetapi, Ia masih berusaha keras melapangkan diri.
"Kamu tidak sendirian Ar. Ada aku. Tenang, tidak ada manusia tanpa beban hidup di dunia. Tentunya semua punya masalah dengan porsinya masing-masing."
To be continue...