Little Star

Little Star
Kegiatan Sekolah (Jeritan Malam)



Ruangan kelas terasa sunyi. Semua pandangan para murid ada pada buku latihan, sesuai perintah Bu Devi guru bahasa inggris.


Sepuluh menit kemudian, suara bel berbunyi. Membuat semuanya bersemangat istirahat ke kantin. Namun seketika Bu Devi menghentikan salah seorang yang akan keluar kelas.


"Jangan keluar dahulu ya. Kembali ke bangku sebentar."


"Wali kelas kalian akan masuk ke kelas, untuk menyampaikan informasi. Jadi kalian semua duduk dahulu ya."


"Ya Bu." Suara kompak murid terdengar keras. 


Bu Devi memilih keluar dari kelas. Suara satu kelas terdengar berisik karena wali kelasnya belum masuk.


"Aduh, lama banget sih. Perut gue laper. Entar gue pingsan, gimana?" Kata drama Yista keluar.


"Lebay Lo! Lo karetin aja perut Lo. Sebentar lagi Bu ..datang." Timpal salah satu teman di kelas.


"Iya gak tau banget apa kata Bu Devi." Wajah sinis temannya membuat Yista terlihat tak suka.


Bukan karena hal itu saja. Genk Butterfly juga saling membela.


"Hey! Kurang ajar ya Lo?!" Disty tidak terima jika salah satu sahabatnya direndahkan.


"Bisa diem gak Lo, emang Lo gak butuh istirahat." Tambah Disty melipat kedua tangannya ke depan.


"Udah deh Lo juga diem aja. Bu Devi bilang kan suruh tunggu sebentar. Kenapa Lo gak terima. Dasar!" Timpal salah satu teman lainnya yang ikut membela.


Telinga Ardi merasa sakit mendengar sahutan-sahutan tidak berguna dari temannya yang membuat seisi ruangan nyaris kacau.


"HEY! Kalian semua bisa diam gak?! Lo semua itu udah gede, bukan anak PAUD! Disuruh tunggu sebentar, ya tunggu sebentar!" Gertak Ardi penuh penekanan sambil berdiri dari tempat nyamannya.


Tiba-tiba Bu Tina datang membuat semua yang ada di kelas terkejut.


"Ada apa ya?" Lirih Bu Tina yang melihat Ardi berdiri dan beberapa anak lain yang belum berada di bangkunya masing-masing. 


"Gak ada apa-apa Bu." Ardi lebih memilih berbohong untuk kebaikan semua, ia  menjawab lalu kembali duduk. Sementara teman-teman yang lain kembali ke tempat duduknya masing-masing.


"Baiklah. Harap tenang ya anak-anak. Ibu akan menginformasikan di sekolah, ada kegiatan berkemah seperti jeritan malam. Jadi, setiap murid diwajibkan untuk ikut. Setiap murid di kelas, berkelompok. Satu kelompok ada lima orang. Peralatan berkemah semua dari sekolah. Ada yang mau ditanyakan?" 


Semua murid yang mendengar informasi Bu Tina antusias, namun hanya beberapa anak yang biasa saja. Kegiatan yang diadakan sekolah bertujuan untuk meningkatkan ikatan antara sesama murid, agar semakin peduli kepada orang lain dan bukan hanya itu jiwa sosial akan dibentuk pada kegiatan ini.


"Saya Bu." Ardi mengacungkan tangan.


"Silahkan Ardi." 


"Kegiatannya di luar sekolah atau di dalam sekolah, Bu?" 


"Kegiatannya di luar sekolah ya anak-anak. Di daerah Kebun teh dan dilaksanakan tiga hari selanjutnya." 


Dibalik kegembiraan siswa ada pula yang ketakutan.


"Njir, kenapa harus ada kegiatan gini segala? Gue paling benci gelap." Gerutu Alya lirih membuat Yista yang ada disebelahnya heran.


"Pikiran Lo gelap mulu. Ya enggak mungkin gelap Alya. Disana ya tetap ada lampu. Siapa juga yang mau gelap-gelapan?! Kita bukan burung hantu kali." Oceh Yista lirih menjawab pertanyaan kacau seorang Alya.


"Asyik! Seru nih!" Kata antusias terucap dari salah satu murid dikelas setelah mendengar jawaban Bu Tina.


"Apa ada pertanyaan lagi, selain Ardi?" 


Bu Tina bersuara menunggu pertanyaan dari muridnya yang bergemuruh.


Sekarang giliran Henry yang percaya diri mengacungkan tangan. "Silahkan Henry."


"Bu, makanan sama minuman bawa sendiri-sendiri atau bagaimana?" Tanya Henry serius.


"Pertanyaan bagus."


"Jadi, setiap satu kelompok 5 anak, harus bekerja sama membawa makanan minuman yang diperlukan." Bu Tina menjelaskan lebih lanjut.


"Sudah paham semua?" 


"Paham Bu, Ada pertanyaan lagi selain Ardi dan Henry?Kalau tidak ada kalian boleh istirahat dahulu, setelah itu kalian harus serahkan ke Ibu, nama masing-masing anak setiap kelompoknya di kertas."


"Baik Bu." 


Sorin beranjak dari duduknya. Ia yang akan berjalan dihentikan Henry.


"Sorin, mau ke mana?" Nada serius Henry seperti mengintrogasi membuat Sorin menoleh.


"Mau beli makanan, Henry." Jawab Sorin pelan.


"Sudah buat kelompok belum?" Tanya Henry menambah pertanyaannya. 


"Belum Hen."


"Kalau begitu kita satu kelompok aja. Aku yang akan menuliskan nama -nama anak yang satu kelompok dengan kita." Henry menawari Sorin untuk satu kelompok bersama. 


Sorin menggangguk tanpa ada penolakan kata. "Boleh, Hen."


"Jadi, kelompok kita kurang 3 anak lagi, Rin." 


"Gue juga mau kali ngikut." Timpal Ardi seketika membuat Sorin menoleh ke Ardi yang mendekat ke bangku Sorin dan Henry.


"Tulis nama gue, dikelompok Lo sekarang." Perintah Ardi dihadapan Henry secara langsung, membuat Henry memutar bola mata malas. 


"Sorin. Gue gak mau anak ini masuk ke kelompok kita." Celetuk Henry pedas sambil menunjuk Ardi yang menatap tajam.


"Henry, bukannya Ardi itu sahabatmu? Kenapa kamu tidak memperbolehkan Ardi satu kelompok dengan kita?" Pertanyaan polos nan masuk akal Sorin membuat Henry berpikir keras.


"CK.. ya iyalah. Anak ini bisa buat kelompok kita semakin gak asyik, belum lagi dia selalu dekat-dekat sama kamu." Batinnya berkata-kata, namun dirinya diam tak berucap apapun.


"Hen kok melamun!" Sorin mengerutkan dahi.


Suara Sorin membuatnya semakin terombang ambing antara teguh dengan ucapannya sendiri atau mengalah pada Sorin yang meminta.


"Ayolah. Apa sulitnya Hen menulis namaku di kelompokmu sama Sorin."


"Iya Hen. Satu kelompok ada 5 anak. Kita kurang tiga anak, dan bertambah satu Ardi. Berarti tinggal dua anak saja yang kita perlukan." Sorin menjawab apa adanya, sesuai ucapan Henry sebelumnya.


"Iya iya. Yaudah.." Henry pasrah dan sebenarnya terpaksa. Ia menghela nafas kasar memilih menyalakan headset di telinganya karena kesal.


"Yes! Ayo kita ke kantin, Rin." Ardi bersemangat, lalu mengajak Sorin ke kantin.


"Ayuk!"


***


Tiga hari kemudian. Semua murid sudah siap dengan tas ransel dan senyum kebahagiaannya. Mereka telah masuk ke bis yang sudah di sediakan dan semua guru termasuk Bu Tina mengabsen muridnya sesuai dengan kertas kelompok yang sebelumnya sudah dikumpulkan.


Dirasa sudah komplit. Bis kemudian berjalan, semua semakin tak sabar menuju lokasi untuk berkemah. 


Beberapa jam kemudian, Mereka semua telah sampai di tempat tujuan. Setiap murid berbaris sesuai dengan kelas dan kelompoknya. Termasuk Sorin, Ia membawa tas ransel yang terlihat berat, bukan hanya Sorin hampir rata-rata semua membawa barang-barang pribadi yang diperlukan.


Bu Devi membawa microfon agar semua anak terdengar. Kali ini Bu Devi yang akan memandu acara awal.


"Selamat pagi semuanya." 


"Pagi Bu." Suara kompak semua warga sekolah terdengar dengan jelas.


"Apa kalian semangat semuanya?!" Lantangnya ditelinga yang mendengar.


"Semangat Bu!" Teriak antusias anak-anak.


"Sekarang kalian berbaris sesuai dengan kelompok kalian dan barisan yang paling depan adalah ketua kelompok."


"Baik Bu." 


***


To be continue...