
Semua berbaris mencari kelompoknya masing-masing. Sorin, Henry dan Ardi telah berbaris, ia sudah mendapatkan dua anak yang menjadi kelompoknya yaitu Bian dan Oki.
"Siapa yang jadi ketuanya?" Tanya Bian serius menatap Sorin, Ardi lalu Henry.
"Hehehe.. Pastinya bukan gue." Celetuk Ardi mantap menjawab tanpa beban ke anggota kelompoknya.
Sorin melotot mendengar ucapan Ardi. Ia tak berniat untuk menjadi ketua kelompok acara ini. Karena, ia merasa tak pantas menjadi ketua kelompok.
"Henry." Ceplos Sorin membuat Henry menoleh ke Sorin.
Jari telunjuk Henry mengarah ke dirinya sendiri sambil mengerutkan dahi. "Maksudnya, Rin, Aku—?"
"Henry saja yang menjadi ketua kelompok ini."
"Astaga, kenapa harus gue?!" Batin Henry bergemuruh. Ia diam bergelut dengan dirinya sendiri.
"Terserah, Rin yang penting kelompok ini ada ketuanya." Timpal Ardi lagi.
"Gue setuju." Ungkap Bian dan salah satu temannya mengangguk.
Henry menghembuskan nafas panjang, sebelum ia memberi jawaban gumaman saja. "Hmm."
"Kok hmm. Lo mau nggak?" Ardi menimpali lagi pertanyaan pasti ke Henry yang tengah berpikir keras.
"Kalau Lo gak mau hen, Biar Sorin aja." Ardi memberi pilihan lain, karena melihat Henry menjadi ketua, ia tak yakin. Apakah cowok terkenal satu sekolah ini mampu menjadi pimpinan kelompok?
"Jangan.. jangan, jangan aku yang jadi ketua. " Sorin mengerutkan dahi, ia tidak ingin menjadi ketua kelompok. Sorin menolak, "Lebih baik Ardi atau Henry yang jadi ketuanya." Lanjut Sorin tak ragu.
"Udah jangan ribut. Henry aja yang jadi ketuanya." Timpal Oki finish.
"Betul, gue setuju, Ki." Bian menambahkan.
***
Bu Tina sebagai wali kelas di kelasnya, selesai mengabsen setiap kelompok. Murid - murid sudah berbaris dan berjalan ke lokasi berkemah.
Bu Tina menyarankan agar setiap kelompok bekerja sama, apalagi mendirikan tenda. Setiap kelompok mendirikan 2 tenda. Untuk kelompok Henry ada dua anak laki-laki, sementara tenda perempuan ada Sorin dan Oki.
Selang beberapa menit Mereka semua terhenti dan mendirikan setiap tenda perkelompok sesuai dengan kelas masing-masing. Termasuk Sorin, Henry, Ardi, Bian dan Oki sedang sibuk mendirikan tenda.
"Lo bisa gak sih, Ar. Lama amat." Oceh Bian membantu Ardi.
"Bisa diem gak?" Timpal Bian menyipitkan mata ke Bian yang ada disebelahnya.
"Enggak. Kalau nggak pengen lama, bantuin pegangin kek." Tutur Ardi pedas.
Sementara Henry mendirikan tenda untuk Sorin dan Oki tepat tak jauh dari tenda untuk cowok.
Henry hampir menyelesaikannya dibantu Sorin dan Oki.
Belum sampai tiga puluh menit sudah selesai.
"Yeayy.. akhirnya selesai juga ini tenda." Oki senang melihat tenda yang sudah berdiri tepat dihadapan mereka. Begitu pula dengan Sorin yang semakin bersemangat.
"Iya Ki." Sorin lega melihat Henry telah membantunya.
"Kalau gitu, Ayo kita bawa tas kita masuk."
Pinta Sorin memberi ide ke Oki.
"Oke, Rin! Let's go!" Seru Oki mengikuti Sorin yang akan masuk ke dalam tenda, menaruh tas ransel.
Henry beralih ke Ardi dan Bian yang sedikit lagi selesai.
"Dua laki-laki lemot. Lama amat." Sindir Henry tersenyum miring ke Ardi dan Bian.
Keduanya menoleh ke suara yang membuatnya gerah.
"Hey! Lihat kita bukan lemot, ini juga sudah selesai." Bian menjelaskan apa adanya.
"Hahaha.. ya kan Lo selesaiin berdua."
Ejek Henry sambil tertawa yang disengaja.
"Ya iyalah, tiga lawan dua. Ya menang tiga, bego!" Timpal Ardi tertawa lepas.
Bian menyadari apa yang dikatakan Ardi memang benar. "Hahaha.. pintar juga lo Ar, otak Lo kalau matematika encer juga." Sindir Bian berbicara ke Ardi.
Sementara, Sorin dan Oki sedang beristirahat sebentar.
"Rin, seru juga ya tidur ditenda kaya gini."
Kata Oki mengawali pembicaraannya dengan Sorin.
"Hehehe.. iya. Ini kali pertamanya aku berkemah seperti ini." Sorin tersenyum setelah menjawab pertanyaan Oki.
"Sama gue juga. Btw, gue mau nanya nih ya?"
"Boleh. Mau nanya apa, Ki?" Pertanyaan Oki semakin membuat Sorin penasaran pasalnya ia dan Oki tidak dekat, meskipun satu kelas. Oki sendiri juga baru mengenal Sorin.
"Lo sama Ardi. Ada hubungan apa? Lo kelihatan ada ikatan sama Ardi."
Pertanyaan yang membuat Sorin terkejut mendengar nama Ardi ditelinganya. Tak hanya itu Oki memperagakan jari telunjuk kanan dan kirinya jauh lalu saling mendekat.
Sorin yang ingin menjelaskan, Namun Ia kebingungan awal mulanya, dari mana ia harus menceritakan ke Oki.
Sedangkan, Oki terlihat tak sabar mendengar ucapan Sorin selanjutnya.
"Ayolah cerita sedikit. Gue gak akan cerita ke siapapun."
"Hahaha..kita sahabatan, Ki. Memangnya kenapa?" Sorin jujur, entah kenapa perasaannya campur aduk, keringat dingin.
"Serius?" Oki mengerut dahi, melihat intens wajah Sorin yang tak meyakinkan dirinya.
"Ya." Sorin sambil mengangguk meyakinkan Oki.
"Kelihatan Lho, Rin. Kalau Lo—." Ucapan Sorin terpotong karena suara tegas Bian terdengar dari dalam tenda.
"Hentikann!" Ucapan keras penuh penekanan Bian membuat Sorin dan Oki bergegas keluar tenda.
"Bian?!"
"Iya Bian. Kenapa Bian?!"
"Ayo keluar." Sorin keluar tenda diikuti Oki dari belakang.
Sorin dan Oki terkejut Bian berada ditengah-tengah Henry dan Ardi yang saling bersih tegang.
"Kalian Jangan bikin ribut. Kalau Lo berdua ribut, kelompok kita kena imbasnya!"
Tatapan sengit Henry dan Ardi memperburuk semuanya. Tangannya mengepal kuat ingin saling menoyor satu sama lain. Tapi, Bian sigap menenangkan.
"Lo berdua ingat! Sekarang kegiatan sekolah, bukan di luar sekolah."
"Kampret Lo berdua! Belum apa-apa udah bikin gue kesal !" Bian kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Henry dan Ardi mematung tanpa rasa bersalah.
"Ardi. Henry." Panggil Sorin.
Seketika keduanya melihat keberadaan Sorin membuat tangan keduanya perlahan tak mengepal. Amarahnya menurun, dapat dipastikan tidak ada lagi kemarahan keduanya. Justru keduanya malu kehadiran Sorin.
Sampai berapa lama Sorin sudah berdiri bersama Oki melihat keduanya? Dari sisi Ardi, Ia merasa Sorin telah melihat kejadian sebelumnya.
Disisi Henry, ia berharap Sorin tak melihat kejadian yang memalukan baginya. Karena ia tak bisa meredam emosi, terhadap Ardi.
"Kenapa kalian berkelahi?" Sorin mendekat sambil menanyakan kepada Ardi dan Henry, diikuti Oki.
Keduanya diam tak menjawab. Oki menambahkan, "Please deh, ya. Gue gak mau ada keributan di kelompok kita."
"Anak-anak tendanya sudah selesai semua? Kalau sudah berkumpul di sana ya." Tunjuk Bu Tina mengarah ke sebuah tempat yang lebih luas dan cukup untuk semuanya.
"Tasnya taruh di dalam tenda masing-masing ya!" Tambah Bu Tina berteriak tegas, membuat Sorin dan Oki meninggalkan Henry dan Ardi.
"Lo bisa gak cari perhatian Sorin?" Pertanyaan yang membuat kening Ardi berkerut.
"Gue cari perhatian..? Gak salah denger gue. Lo kali yang caper?"
"Gue, bukan kaya Lo yang sok keren kaya Lo." Cemooh Ardi meninggalkan Henry yang memanas mendengar perkataan Ardi.
"Sembarangan!" Omelnya sendiri.
***
To be continue…