
Sorin. Lo nangis?" Tanya Oki terkejut. Ia tak sengaja melihat kesedihan di raut wajah Sorin ketika belum menemukan bendera merahnya.
Sorin dengan cepat menghapus sisa air matanya yang menetes.
"Tidak, Ki. Kamu salah lihat."
"Enggak Rin, gue beneran lihat Lo nangis. Gue yakin enggak salah lihat." Terang Oki yang kali ini pandangannya benar.
"Sebenarnya Lo kenapa?" Lanjut Oki menambah pertanyaan.
"Gue nggak apa-apa, Ki." Sorin berusaha menyembunyikan perasaannya yang tak enak.
"Kalau ada apa-apa bilang, jangan sungkan, Rin." Celetuk Henry mengingatkan.
Mereka masih bertiga. Sedangkan Ardi dan Bian belum kembali ke tempat yang sama dengan Sorin, Henry dan Oki.
Henry mengambil batu besar dipinggir tanaman teh kemudian menaruh batu besar itu didekat Sorin.
"Istirahat dulu Rin." Pinta Henry memberikan batu yang ia taruh untuk Sorin duduk.
"Makasih Hen." Kata Sorin lalu mendudukinya.
"Iya sama-sama. Kamu tunggu disini ya. Sebentar, gue mau cari sumber air. Barangkali aja ada air."
Oki yang tadinya fokus mencari bendera mendengar ucapan Henry menyahuti.
"Hen, Lo jangan jauh-jauh cari airnya. Gue nggak sengaja disitu kelihatan ada kran air."
"Ha serius, Ki?" Henry tak menyangka, yang dikatakan Oki kepadanya. Ia pun bergegas mencari gelas bekas disekitar.
"Nih, gelasnya. Gue gak sengaja nemuin."
Oki memberikan ke Henry.
Henry menerimanya, sedangkan Oki mengarahkan Henry letak kran air. "Lokasinya nggak jauh. Lo lurus belok kiri sedikit. Posisinya dipinggir Hen."
"Owh, iya. Tolong Lo jaga Sorin juga ya, Ki, sebentar." Henry pun bergegas mengambil air.
"Oke, siap." Jawabnya singkat.
***
Sorin masih tenggelam dengan kekhawatirannya sendiri. Bagaimana tidak khawatir? Ia sudah beberapa bulan tak bisa kembali ke kampung. Sorin juga tak mengetahui kondisi bapaknya.
Ia berharap dirinya bisa kembali ke rumah, melihat kondisi bapaknya dan memastikan apakah baik-baik saja atau tidak.
"Rin, tunggu sebentar ya. Setelah ini Henry bakalan bersihin luka Lo."
"Hm, thanks ya Oki pertolongannya." Sorin tersenyum tipis.
"Sama-sama. Lo juga harus banyak makasih sama Henry. Henry sigap banget nolongin Lo dari tadi."
"Kelihatannya Henry ada rasa deh, sama Lo, Rin." Tebak Oki yang melihat perhatian seorang Henry.
"Hahaha.. sembarangan." Tawa kecil mengawali jawaban Sorin.
Kata Oki menurut Sorin sangat lucu. Kalau didengar. Henry yang kaya raya memiliki segalanya menyukai Sorin gadis kampung yang miskin. Untuk sekolah saja,ia tak mampu. Kecuali, jika ia berusaha terlebih dahulu. Itu hal yang mustahil bagi Sorin.
"Seperhatian itu Henry ke Lo. Dia kelihatan khawatirjuga ke Lo, Rin. Kalau ucapan gue beneran, gimana?" Lanjut Oki memberi pertanyaan ulang.
Sorin menggeleng. "Tidak mungkin, Ki."
"Kalau terbukti ucapan gue beneran. Lo harus ajak gue jalan-jalan."
"Harus !" Permintaan Oki penuh penekanan.
Sorin mendelik tak percaya. Namun, akhirnya ia menuruti kemauan Oki. Menolak pun juga tidak baik, apalagi Oki begitu baik kepada dirinya. "Iya. Ki."
"Gue pegang ucapan Lo Rin. Hahaha.." Antusias Oki.
"Sini Rin, aku bersihkan lukamu." Henry dengan nada lembutnya datang berniat membersihkan luka.
Membuat Sorin dan Oki terkejut mendengar perkataan yang tiba-tiba muncul dari seorang Henry.
"Iya." Jawab cepat Sorin.
Oki beranjak dalam posisi berdiri. "Gue mau cari benderanya lagi ya, guys."
Tak ada sahutan dari Sorin dan Henry. Oki paham melihat Henry tengah fokus membasuh air ke lutut Sorin itu hal yang istimewa dan terlihat tulus.
"Sweet banget sih, jadi ngiri gue." Batinnya sendiri.
Tanpa diketahui siapapun ternyata Ardi bersembunyi bersama Bian dibalik semak teh tak jauh dari Sorin dan Henry. Entah, gerakan Ardi menahan langkah Bian tujuannya apa? Yang jelas, Ia tak ingin mengganggu Henry dan Sorin.
Sakit tak berdarah dirasakan Ardi. "Kenapa rasanya sesak ya?" Gumamnya.
"Apaan sih lo?! Udah deh Lo diam aja, jangan berisik." Ardi berbicara dengan nada tegas namun tetap pelan.
"Kita ini lagi lomba, njir. Bukan main petak umpat." Bian menjawab pelan ke Ardi yang mengerutkan dahi keheranan.
"Kalau Lo suka sama Sorin bilang, Bray." Bisik Bian serius bukan menggoda.
"Masa iya gue suka?" Ardi melirik Bian disebelahnya.
"Lo gugup gak ketemu dia? Deg-degan nggak?" tanya Bian dua kali.
"Peka banget sih Lo. Padahal pasangan aja Lo belum punya." Ardi memutar bola mata malas.
Keduanya masih bersembunyi di balik semak teh.
"AAAAAA !" Teriak Oki ketakutan.
Dari arah lain Oki berlari tersandung jatuh tidak sengaja tubuhnya ditangkap Bian.
DEGH!
Oki dan Bian saling menatap hanya berjarak lima centimeter. Sungguh tidak percaya Oki akan ditolong Bian. Kalau tidak —-.
Ardi yang mengetahui hal itu. Menahan tawa.
"Cieee!"
"Jadian nih ye!" Ceplos Ardi meninggalkan keduanya.
Oki mengangkat tubuhnya. "Lo kenapa sih ngagetin tau nggak?!"
"Maaf - maaf Bi. Gue dikejar orang bertopeng." Ucapnya menjelaskan. Lalu menghembuskan napas tersengal.
"Tapi, gue dapat bendera terakhirnya." Oki memperlihatkan bendera merah ditangannya.
"Ayo buruan!" Cergas Oki menarik tangan Bian cepat. Karena yang ditakutkan Oki sekarang orang bertopeng itu akan terus mengejarnya.
***
"Lukanya udah bersih. Tapi, masih perih." Jelas Henry sedikit lega.
"Makasih Hen, maaf merepotkan kamu." Aku lebih merasa bersalah.
"Santai aja Rin. Entar aku antar ke tenda posko ya. Biar aku obati lutut kamu."
"Iya Hen."
Ardi diam-diam berada didekat Henry dan Sorin, membuat Henry menoleh ke Ardi.
"Ardi?" Panggil Sorin membelalak melihat Ardi yang seketika membuang muka.
"Iya Rin." Jawab Ardi singkat.
Sorin melihat tingkah Ardi tidak seperti sebelumnya. Ia lebih banyak diam tanpa bertanya apapun kepadanya. Padahal ia sedang terluka. Namun Sorin masih tidak merasa.
Suara langkah cepat dari kejauhan semakin terdengar di telinga Sorin, Ardi dan Henry.
"AYO CEPAT LARIII !" Teriak Oki yang masih menarik tangan Bian. Bian hanya mengikuti tarikan tangan Oki melewati ketiga temannya.
"Datang-datang bikin bising telinga!" Oceh Ardi yang kembali berlari mengikuti Oki dan Bian daripada harus tertinggal membuat ia semakin sakit.
Sementara, Henry menawarkan punggungnya untuk membantu Sorin.
"Cepat. Ayo naik." Pinta Henry ke Sorin.
Sorin tanpa ragu mengiyakan dan naik ke punggung milik Henry. Perasaan nyaman muncul kembali. Ketika keduanya memilih mengikuti teman-temannya dengan cepat.
"Maaf ya Hen. Aku selalu repotin kamu." Celetuk Sorin membuka pembicaraan.
"Sudah kesekian kali kamu minta maaf." Henry menghela napas dan mengeluarkannya perlahan.
"Dengan senang hati membantumu Rin. Kamu itu penyelamatku." Lanjut Henry memelankan suara dikalimat terakhirnya.
"Apa? Penyelamat?" Sorin meminta kejelasan atas ucapan laki-laki yang tengah menggendong tubuhnya tersebut.
"Bukan penyelamat tapi penyemangat." Henry mengerutkan dahi atas ucapannya sendiri. Ia serasa menyesal mengucapkan kata itu. Menurutnya itu hal bodoh yang dilakukannya secara sengaja.
Padahal menurut Henry cinta juga butuh waktu dan berproses, tak hanya sekadar merangkai kata indah saja.
***
To be continue…