
Keduanya saling menatap satu sama lain. Sorin melihat ketulusan seorang Ardi yang dari awal perhatian kepadanya. Hal itu semakin membuat perasaan Sorin melambung terbang tinggi. Degupan jantungnya semakin berdebar, pipinya seketika memerah.
Sorin tak mengerti perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan. Ardi bersuara, Ia memalingkan kepala ke arah lain.
"Kalau Lo belum bisa jalan, gimana kalau pakai kursi roda aja?" ujar Ardi membuat Sorin berkedip dua kali dan dahinya berkerut. Ia pun tak mampu mengatakan apapun selain anggukan kecil disertai semburat senyum.
"Aku tidak punya kursi roda. Apa kamu gak keberatan dorong aku pakai kursi roda." Sorin tak yakin apa dirinya pantas bersenang-senang memakai kursi roda tapi sebenarnya juga tidak ada larangan memakai kursi roda. Kondisinya memang tidak memungkinkan untuk berjalan tetapi kalau tidak dipaksakan juga tidak baik.
Ia masih bergelut dengan perasaannya sendiri.
"Di rumah gue ada sih. Dulu pernah dipakai Almarhumah nenek." Singkat cerita Ardi menjelaskan.
"Jadi Ardi pulang lagi?" Pertanyaan polos Sorin itu muncul terdengar ditelinga Ardi.
"Ya, iyalah Rin. Lo siap-siap ganti baju gih. Entar, gue balik ke sini. Lo juga sudah siap. Gimana menurut Lo?" Ucap Ardi melengkungkan senyum.
"Apa aku gak ngrepotin kamu, Ar, Kalau pakai kursi roda?" Sorin ragu.
"Ya enggaklah, Lo santai aja Rin sama gue. Lo juga belum siap-siap gitu. Hehehe.."
Tawa Ardi membuat Sorin semakin merinding. Sorin tak habis pikir dengan dirinya sendiri. "Kenapa aku jadi seperti ini ya?" Batinnya sendiri.
***
Suasana hari ini di mall tidak terlalu ramai seperti hari weekend. Tetapi, setiap stand toko buka meskipun hanya sedikit yang sekadar masuk ataupun membeli. Ardi sengaja mengajak Sorin bermain ke mall, karena tempat itulah yang membuat gadis berambut lurus itu tidak kepanasan setelah pulang sekolah.
"Ar, setelah ini kita ke mana?" Tanya Sorin ke Ardi yang mendorong Sorin menggunakan kursi roda.
"Hehehe..Beli minum dulu, Ri, setelahnya kita mampir ke Zona Time ya." Ujar Ardi meringis.
"Hehehe..Zona Time itu apa, Ar?" Celetuk Sorin tertawa.
Ardi tertawa lalu menghentikan kursi rodanya di depan stand minuman. "Hehehe.. Entar Lo juga tau. Gue pesan minum dulu, Rin."
"Lo mau yang mana?" Ardi menunjuk menu yang sudah terlihat di benner stand.
"Samaan saja, Ardi." Sorin tak mau terlalu lama memilih minuman. Karena setelah dirinya dan Ardi datang, pengunjung lainnya juga antre memesan.
Ardi kembali memesan minuman.
Sementara Henry tengah duduk di sofa ruang tamu memegang handphone dengan nada tegas.
"Gimana sudah ketemu pelakunya?!" Dahi Henry berkerut menunggu jawaban.
"Be–belum bos." Ucapnya gemetar.
"Jangan bohong kamu! Ini sudah beberapa minggu! Gak mungkin gak ada hasil !" Kalimat Henry penuh penekanan membuat anak buahnya dibuat keringat dingin antara menyampaikannya atau tidak.
"Jawab pertanyaanku?!" Tambah Henry dengan gertakan.
"I–iya bos. Jadi sebenarnya, kami sudah menangkap pelakunya. Ta–tapi.. Mereka melukai kami bos."
"Jadi— ?!" Tanya singkat Henry yang masih dengan posisi nyaman disofa.
"Kami gagal menangkap pelakunya bos. Maaf bos."
"Oke. Kalau gagal. Sekarang kalian harus menangkapnya lagi dan bawa ke rumah!"
"Baik bos!"
Sambungan langsung Henry matikan. Ia gemas mendengar hal itu. Namun, Henry yakin anak buahnya akan menangkap pelaku yang menculiknya.
Henry masih duduk di posisi yang sama, sepintas pikirannya bergelut dengan Sorin.
Pertemuan yang tak disengaja serta sikap Sorin yang peduli kepadanya. Saat ia tak sadarkan diri di rumah kosong membuat Henry semakin jatuh hati.
"Kenapa gue jadi kepikiran Sorin ya?" Mengacak rambutnya sendiri.
"Apa gue sekadar balas Budi, Karena dia nyelamatin gue?" Pertanyaan yang selalu membayanginya.
"Tapi— Kenapa gue nyaman setiap didekat dia?" Pertanyaan kedua yang membuatnya semakin merinding mengingat setiap moment dan lekungan senyum, kebaikan Sorin selalu terlintas diotaknya.
"Gue enggak mau, kalau ada cowok yang dekat sama Sorin." Henry beranjak dari duduknya.
"Gue akan berusaha menjaga Sorin semampu gue. Gue akan selalu jagain dia, meskipun dia gak minta." Ujarnya memiringkan senyum.
***
"Ardi keren." Sorin tepuk tangan melihat kelihaian Ardi memasukkan bola basket, membuat Ardi semakin bersemangat. Padahal ini sudah ke 10 kalinya. Tetapi, Sorin tidak bosan sama sekali.
Tepukan tangan Sorin membuat Ardi tersenyum bahagia. Apalagi membuat Sorin tertawa. Ardi tau sendiri Sorin sangat tangguh setiap hari harus sekolah ditambah lagi bekerja. Kata refreshing seperti sekarang saja jarang dilakukan Sorin.
"Udahan, Rin. Capek. Hehehe.." Keluh Ardi meringis, sambil mengatur napas perlahan.
"Ganti yang lain yuk, Ar." Pinta Sorin antusias sambil memutar kedua roda disampingnya.
"Boleh." Ucap Ardi setelah meneguk minumannya di kursi, lalu mengekori Sorin.
Dari belakang Ardi meraih kursi roda Sorin dan membantunya perlahan. "Makasih ya Ar, udah ajak aku main ke Zona Time. Ternyata Zona Time seseru ini."
"Sama-sama Rin. Lo gak perlu minta maaf." Ardi mengacak pelan rambut Sorin.
"Hehehe.. Ternyata Zona Time itu arena permainan. Aku baru tau." Sorin terkekeh pelan ke Ardi.
"Sekarang sudah tau kan?"
Sorin mengangguk senang. "Iya Ar."
"Mau main yang mana? Pilih bebas, tapi kesempatan cuma 3x." Oceh Ardi memperlihatkan koin permainan ke Sorin.
"Hahaha.. bingung mau main yang mana, Ar?" Sorin terkekeh kecil melihat semua permainan yang sama sekali belum pernah dicobanya.
"Wah, Ada permainan jepit boneka."
"Mau coba, Ar?"
"Boleh dong. Ayo ke sana!" Ardi mendorong kursi roda sorin penuh semangat, diiringi keceriaan Sorin yang tak sabar.
Permainan penjepit boneka sudah sampai dihadapan mereka berdua. "Ini koinnya, gue masukan ya?"
"Yeah. Oke." Ardi mendorong kursi roda Sorin lebih dekat ke tombol mulai permainan.
Ardi tegang ketika Sorin sudah mengarahkan penjepit itu ke salah satu boneka yang ada didalam kaca.
Penjepit itu tak berhasil membawa boneka yang sebenarnya diinginkan Sorin. "Yahh, gak dapet, Ar."
Lekungan senyum Sorin menurun. Terlihat dari Sorin yang gagal membawa boneka.
"Jangan sedih, coba sekali lagi." Pinta Henry santai.
Tangan Sorin menekan tombol yang membuat alatnya bergerak.
"Lihat posisi dulu, Rin."
Dirasa tepat, Sorin menekan tombol dengan percaya diri. Tak disangka mesin pencapit mendapatkan boneka. Namun sayangnya bonekanya terjatuh. Membuat keduanya berteriak histeris.
"AAAAAA.."
"Aduh sayang banget, Rin. Sini gue bantu dapatin boneka yang Lo mau."
"Iya."
Ardi mengambil ahli. Dengan kesungguhan Ardi, "Gue harap gue bisa dapat bonekanya." Batinnya sendiri.
Jari tangannya telah menekan tombol dan—-.
"Yeahhh.." Sorin bersorak senang.
"Ini buat Lo." Ardi memberikan boneka tersebut.
Sorin menerima dengan hati senang, "Makasih Ardi. Akhirnya kita dapat."
"Iya. Jangan lupa disimpan baik-baik."
Ardi tersenyum matanya menjadi menyipit Ia semakin terlihat mengagumkan.
***
To be Continue…