
Ardi memesan makanan bersama dengan Sorin. Ia sudah menemukan tempat yang akan mereka duduki.
"Gue sudah pesan makanan. Gue tinggal sebentar ke toilet ya, Rin."
Sorin mengangguk angguk. Ia hanya sendiri. Tiba-tiba seseorang yang tidak dikenal duduk di sampingnya.
DEGH. Pandangan Sorin langsung ke sebelah.
"Gue duduk sini boleh, ya?" tanya perempuan itu.
Tak ada kata larangan dari Sorin. "Iya silahkan." Sorin memperbolehkan. Meskipun tak mengenalnya.
"Lo anak baru di sini ya? Gue lihat Lo baru pertama kali."
"Iya, aku murid baru di sekolah ini."
Tatapan antusias ada pada perempuan disebelahnya. "Kenalan dong. Nama Lo siapa?"
Perempuan itu menyodorkan tangan ke hadapan Sorin.
"Gue Acha. Panggil Caca. Anak kelas sebelah Lo."
"Sorin." Ia mengembangkan senyum indah ke hadapan Caca yang terlihat cantik.
"Salam kenal ya."
"Iya. Btw, Lo satu kelas sama Genk butterfly, ya?" Tanya Caca sambil melihat kondisi keadaan.
"Genk Butterfly siapa ya?" Polos Sorin tidak mengetahui yang sebenarnya.
"Itu ketuanya Genk si Vika." Bisik Caca ke telinga Sorin.
"Ouh, Vika? Ternyata namanya Genk Butterfly?" Celetuk Sorin.
"Lo baru tau, Rin?" Caca mendelik menganga.
"Hehehe.. Iya, Ca. Kalau kamu tidak memberi tau aku. Aku juga tidak tau."
Caca melihat situasi di kantin. Ditakutkan Caca, Vika ada diposisi sekitar. Ia melihat situasi aman, dan melanjutkan ucapannya kembali.
"Sorin, Gue mau bilang ke Lo. Kalau Lo ada masalah sama Vika. Cerita aja ke gue."
Sorin menggeleng tak setuju. "Aku gak ada urusan apapun sama Vika. Aku gak akan cari masalah."
"Maksud gue itu. Kalau Vika cari masalah sama Lo. Jangan takut, Lo harus cerita ke gue. Itu anak cari masalah ketika Lo lagi dekat sama Henry."
"Apa Ca?" Kata Ardi yang sudah ada di belakang punggung Sorin dan Caca yang sedang duduk.
Sorin dan Caca menoleh kebelakang melihat Ardi yang menimpali.
"Hehehe.. Nggak ada apa-apa."
"Kalian saling kenal?" Sorin menunjuk keduanya.
Ardi duduk ke hadapan keduanya. "Iya kenal, kan, Tetanggaan Rin."
"Iya. Rumah kita dekat." Timpal Caca antusias. Sorin melihat sorot mata Ardi yang terlihat tak biasa ke Caca. Ia lebih memilih diam.
"Kalian cerita apaan? Hayo ngaku." Goda Ardi tertawa. Pesanan mereka datang kecuali untuk Caca.
"Ca. Pesan sana!"
"Lo berdua makan aja. Gue mau beli kentang dulu."
"Kenapa tidak makan sekalian?"
"Tadi bawa bekal dari rumah." Jawab Caca. "Bentar ya gue tinggal."
"Oke." Timpal Ardi sambil makan.
Keduanya pun makan dan saling berhadapan. Sorin masih menghabiskan makanannya sambil melihat Vika yang akan berjalan ke arahnya dan tangan kanan Vika membawa minuman.
BYURRR!
Vika menyiram wajah Sorin yang makan. Basah kuyup dirasakan Sorin. Ia pun terjingkat karena terkejut.
Ardi ikut terjingkat dari tempatnya. "Vika?! Apa yang Lo lakukan ke Sorin!"
"Vika, Kenapa kamu siram muka aku?"
Sorin sedih wajahnya basah kuyup, seketika dibantu Ardi, lalu memberikan Sorin tisu.
"Lo cari gara-gara sama Sorin. Sorin gak ngganggu Lo sama sekali." Tegas Ardi tak terima dengan sikap Vika.
"Lo bisa diam gak?! Ini urusan cewek! Lo nggak perlu ikut campur. Gue mau bilang sama ini cewek!" Vika menunjuk ke Sorin yang masih tak menyangka dengan sikap Vika terhadapnya.
"Lo gibahin gue kan?" Suara Vika penuh penekanan dan percaya diri.
"Gibahin apa? Jangan fitnah aku." Sorin menyangkal karena ia tidak membicarakan tentang Vika.
Sekolah favorit saja sudah diurus sepenuhnya oleh Henry. Tentunya ia tak akan mengecewakan diri sendiri, Henry dan bapaknya.
"Udah deh ya. Lo harus minta maaf ke gue, sekarang juga!" Permintaan sengit dilayangkan Vika tanpa malu disaksikan penuh setiap pasang mata yang ada di kantin, melihat adegan serius tersebut.
"Harusnya Lo yang minta maaf ke Sorin!" Ardi menegaskan ucapannya ke Vika.
Vika tampak tak merasa bersalah sama sekali setelah menyiram air tanpa permisi. Terkesan tak mempunyai attitude sama sekali
"Cepat minta maaf!" Pinta Vika kasar sambil menarik tangan Sorin untuk minta maaf kepada dirinya.
Sorin menggeleng cepat tak setuju. "Tidak. Aku tidak membicarakan kamu. Kenapa kamu menuduhku tanpa bukti?"
Caca datang membela dan menyela. "Hey Vik! Harusnya Lo malu kali, nuduh orang tanpa bukti!"
"Alasan!"
"Atau jangan-jangan Lo, ya yang gosipin gue!" Caca yang membela Sorin, ikut dituduh Vika.
"Jangan Gr ya Lo! Sok terkenal Lo!" ucap Caca jijik melihat Vika berkelakuan sok.
"Dasar tukang gosip!" Vika memilih pergi tak menghiraukan Sorin, Ardi ataupun Caca yang menyebalkan baginya.
Sorin melihat seragamnya basah karena tetesan air yang mengenai wajah.
"Rin, kenapa Lo berantakan gini?" tanya Caca khawatir.
"Siapa lagi?! kalau bukan Vika yang kurang ajar ke Sorin." Balas Ardi kesal.
"Aku tidak apa-apa." Sorin merapikan bajunya dan tentunya area wajah dan rambut panjangnya.
"Lo diam aja, Ar. Gak belain Sorin."
"Njir, gue bantuin. Malahan gue dikatain banci. Karena ikut urusan cewek."
"Sinting itu anak." Caca sengit masih gemas dengan sikap Vika.
"Kasian Sorin. Bajunya jadi basah." lanjut Caca.
"Aku tidak apa-apa, nanti bisa kering sendiri."
Sorin menerima ikhlas perlakuan dari Vika.
Sedangkan, Ardi masih diam tak terima dengan sikap Vika ke Sorin. Sorin benar-benar tidak melakukan kesalahan.
"Vika.. Benar-benar keterlaluan." Batin Ardi yang berlalu begitu saja dari Sorin dan Caca.
"Ar.. Kamu ke mana?" Sorin berteriak mempertanyakan Ardi yang sama sekali tidak menghiraukan dirinya.
"Ardi, gak terima kali ya, sama kaya gue. Vika keterlaluan banget, Rin. Dia pantas diberi pelajaran." Celetuk Caca menjelaskan ke Sorin yang mudah memaafkan Vika setelah menyiram dirinya sendiri air ke wajahnya.
Sorin langsung panik menarik tangan Caca mengikuti Ardi. Caca terkejut namun akhirnya mengikuti Sorin.
"Ayo cepat, Ca!" Menarik tangan Caca paksa.
Alis Caca saling bertautan. "Sorin, sabar Rin!" Balas teriak Caca, agar terdengar jelas.
Tak sampai Lima belas menit, Langkah Sorin terhenti Ia melihat Ardi bersih tegang dengan Vika di hadapan anggota Genk Butterfly.
"Gue males banget sumpah ada didekat Genk gak tau diri ini." Celetuk Caca datang bersamaan dengan Sorin.
"Ardi." panggil Sorin, membuat semua melihat kehadiran Sorin dan Caca.
"Eh, ngapain Lo berdua ke mari!" Kata Disty galak.
"Sekarang Lo harus minta maaf ke Sorin." Ardi menyuruh Vika untuk meminta maaf.
Vika enggan meminta maaf, "Idih, males banget, minta maaf sama cewek kampungan kaya dia." Sombong Vika.
"Tutup mulut Lo, Vik, Lo mau gue seret ke ruang guru!" Ardi mempertegas ucapannya.
"Lo keterlaluan tau gak?!" Caca melihat malas Vika dan genk butterfly.
"Bodoh amat. Ayo guys capcus ke kelas." Kata Vika tak peduli.
Genk butterfly yang akan melangkah pergi di cegah Ardi.
"Lo semua lupa. Tindakan Lo di sekolah bakalan sudah terekam di CCTV sekolah. Pastinya kalian bakalan malu setelah ini." Ardi melipat kedua tangannya ke depan
"Ayo kita kembali ke kelas." Ajak Ardi ke Sorin dan Caca.
"Hayukk.." Caca bersemangat seolah meledek ke semua anggota Genk Butterfly termasuk Vika.
"CK..Awas aja kalian." lirih Vika mendengus kesal.
***