Little Star

Little Star
Senyuman penuh arti.



"Hahaha.. Pak sholeh bisa saja." Tawa Sorin diawal jawabannya membuat Pak Sholeh tersenyum lebar.


"Nantinya kamu akan mengerti." Batin pak Sholeh sambil memandang Sorin.


"Saya lanjut lagi ya pak."


"Iya." Pak Sholeh mengangguk paham melihat Sorin yang terlihat bersemangat.


***


"Apa aku salah?" Henry menggrutu sendiri di dalam kamar.


Berulang kali ia mengingat kejadian di UKS seminggu yang lalu. Ucapan Ardi masih tersimpan di memorinya.


Henry masih duduk sambil memegang tablet yang masih menyala. Rutinitasnya setelah pulang sekolah bermain game. Namun, pikirannya kacau, mengingat Sorin.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka berdua nggak cerita?" kesal sendiri dirasakan Henry.


Ia merasa tidak terima dengan sikap Ardi yang telah menuduhnya. Belum lagi Sorin berada di UKS.


Henry segera mengambil handphonenya di atas tempat tidur, Ia menelpon Ardi.


Tutttt.. Handphone Ardi berdering.


"Iya Hen, ada apa?" Ardi menerima panggilan teleponenya.


Henry kebingungan apa yang harus ditanyakan ke Ardi. Ada rasa sedikit malu, karena dirinya tiba-tiba menelpon Ardi.


"Ekhmm.. Gpp. Gue mau nanya?"


"Apaan? Cepetan." Ardi tak sabar mendengar pertanyaan itu.


"Sorin sakit apaan? Kelihatan pucat waktu di UKS."


tanyanya dengan nada halus.


"Hahaha.. kenapa Lo nanya ke gue? Bukannya Sorin sudah masuk."


"Kan waktu itu Lo yang berduaan."


"Terus---," Ardi menanyakan balik.


"Ceritain ke gue." kata Henry jujur ingin tahu.


Ardi terdiam sejenak. Ia tak akan mengingkari janji yang diucapkannya ke Sorin. Ia tidak akan memberi tahu kejadian Sorin terkunci di toilet. Karena Sorin tak ingin membuat Henry khawatir.


"HEY! AR.. LO DENGAR GAK! Gertak Henry yang sudah menunggu lama.


"YA SABAR, WOY!"


Suara Ardi kencang membuat Henry menjauhkan handphone dari telinganya.


"ARDI !" Teriak Lena yang datang secara tiba-tiba.


Suaranya menembus, terdengar di telinga Henry.


Ardi mengetahui hal itu panik. "Mamak gue dateng Hen, Gue matiin dulu."


Ardi dengan cepat mematikan sambungan telephone. Ia melihat ibunya tengah ada dihadapannya.


"Apa ma? Mama nggak kerja hari ini." Tanya Ardi yang masih menatap tenang wajah ibunya.


Ardi gerak cepat membuat makanan untuk mamanya. Ia senang melihat mamanya kembali ke rumah memintanya membuat makanan.


"Buruan cepat, perutku lapar." Permintaan mama membuat Ardi merasa senang. Ia merasa mamanya berubah seperti yang diharapkannya.


Ia membawa satu mangkuk mie beserta es yang dibuatnya.


Ia meletakkan makanan di meja makan, mamanya tanpa menawarinya, langsung melahapnya.


"Selamat makan ma." Ardi berdiri di samping mamanya sambil mengatakan dengan halus diakhiri senyuman.


Mamanya mengunyah, "Sudah, keluar sana !" Ucap Bu Lena yang merasa terusik dengan sikap Ardi.


Ardi mendengar ucapan mamanya mengangguk paham. Senyuman itu seolah berubah menjadi lamunan. Ia memilih keluar rumah mencari angin segar.


"Seandainya, Mama bisa menjadi seperti yang aku inginkan." Ardi berharap dalam batinnya, memilih pergi dari rumah, melepas semua rasa sedih.


***


Hari ini Pak Sholeh setengah hari membuka rumah makannya. Ia meminta Sorin untuk menutup Rumah makannya.


"Nak, hari ini kamu pulang lebih awal ya."


"Kenapa pak?" Ia melihat pak Sholeh yang sudah berpakaian tak seperti biasanya.


"Bapak mau pergi ke rumah anak bapak, kangen sama cucu dan anak saya, Nak."


"Owh..iya pak."


"Jadi, kemungkinan besok bapak masih disana. Kamu libur dulu ya kerjanya."


"Baik pak."


Beberapa menit kemudian, semua telah selesai. Pak Sholeh mengunci pintu dan pagar rumah makannya diikuti Sorin.


"Pak Sholeh, hati-hati ya." Ucap Sorin memperingatkan pak Sholeh yang sendirian ke rumah anaknya.


"Kamu tenang saja, Sorin. Kamu harus ingat pesan saya tadi ya. Jaga diri baik-baik dari temanmu."


"Baik pak. Terima kasih sudah perhatian."


"Sama-sama, bapak berangkat ya."


"Iya pak."


Pak Sholeh pun masuk ke mobil dan meninggalkan Sorin yang masih menunggunya.


Pak Sholeh sudah menganggap Sorin seperti anaknya sendiri. Sama halnya dengan Sorin yang telah menganggap pak Sholeh seperti bapaknya sendiri.


Sorin kembali berjalan kaki menuju rumah. Belum sampai rumah, Ia melihat Ardi yang berjalan sendirian.


"Itu Ardi? Apa aku tidak salah melihat?" Sorin berusaha melihatnya dengan jelas, penglihatannya tak kabur. Sorin melihat Ardi, lalu menghampirinya.


"Ardi." panggil Sorin membuat Ardi terkejut.


"Sorin." balasnya.


***


To be continue...