
Hehehe.. maaf berarti aku yang salah dengar." Kata Sorin sambil meringis.
"Gak masalah Rin." Jawab Henry sambil tetap melangkah, meskipun masih menggendong tubuh Sorin.
Kelompok Henry akhirnya selesai dengan nomer kedua dari kelas lain yang sudah sampai.
"Akhirnya sampai juga." Ucap Bian duduk merentangkan kedua kakinya disusul oleh Ardi yang ada disebelahnya, serta Oki yang duduk tak jauh dari keduanya.
Sementara Henry menggendong Sorin ke Posko, karena Ia akan mengobati luka Sorin.
Setelah Henry masuk lalu perlahan, Ia menyuruh Sorin turun di samping tempat duduk.
"Duduk dulu, Rin." Pinta Henry.
Pelan-pelan Sorin duduk. Ia melihat Henry mendekat ke salah satu penjaga posko menanyakan kotak P3K. Penjaga posko itu mengambilnya dari salah satu tas besar yang ada dipinggir Henry. Lalu, memberikan ke Henry.
Tanpa diketahui Henry, Sorin telah berhasil memandang sosok Henry yang terlihat mempesona saat sebelum Henry menghampirinya.
Henry tengah di depan lututnya mencoba membersihkan setiap luka dengan alcohol. Lalu, memberikan obat tetes merah yang mampu menyembuhkan lukanya.
Henry sangat telaten mengobati luka Sorin, kemudian menutup luka tersebut dengan kapas setelahnya ia rekatkan plester coklat sebagai penutup terakhir.
Sorin mengembangkan senyum ketika Henry telah selesai mengobatinya.
"Makasih Henry."
"Sama-sama." Henry beranjak berdiri dihadapan Sorin.
"Coba kamu berdiri Rin." Kata Henry ingin melihat Sorin kembali bisa berjalan.
Sorin mengikuti permintaan Henry. Ia beranjak berdiri lalu berjalan perlahan pasti dan—-.
Sorin berhasil berjalan. Ia kegirangan dan tanpa sadar ia memeluk Henry.
Henry terdiam pelukan Sorin teramat hangat, sampai ia sadar bahwa ada Ardi dan Bian masuk ke dalam posko.
Sorin melepaskan pelukan yang dilakukannya sendiri secara spontan.
"Gila! Apa yang sudah aku lakukan tadi?" Batinnya sendiri. Sorin menunduk malu. Tanpa ia tahu Oki datang menyapanya.
"Sorin?! Lo ke mana aja sih! Gue cari sama Ardi, Bian. Eh, ternyata Lo ada disini." Oki terlihat lega telah menemukan keberadaannya sambil matanya mencari sesuatu untuk ditanyakan lagi.
Ya. Sekarang Oki mempertanyakan luka dilutut Sorin. "Wah, luka Lo udah diobatin."
"Iya." Balas Sorin singkat, namun penglihatannya ke Ardi.
Ardi tak lama memilih keluar posko diikuti Bian dibelakangnya. Henry masih terdiam sendiri.
"Lagi melamun Hen?!" Oki menepuk pundak Henry. Henry sadar lalu menggeleng cepat sebagai jawaban sebelum menjawab ucapan Oki.
"Nggak!" Nada Henry meninggi membuat Oki mendelik aneh melihat tingkah Henry.
"Ayo Ki." Sorin menggandeng Oki keluar dari posko.
"Aneh banget si Henry. Tanya malah digertak. Gak jelas banget tau nggak?" Gerutu Oki yang masih bisa didengar Sorin.
"Sabar ya Ki. Jangan diambil hati. Kita istirahat di dalam aja yuk."
"Terserah." Jawab Oki seadanya.
Belum sampai camp mereka berdua. Kawanan Genk butterfly datang tanpa permisi. Bak Hantu yang menakuti mangsa.
"Hey anak kampungan!" Tunjuk Vika ke Sorin.
"Gue pernah peringatin Lo, buat jauhin Henry! Tapi, sekarang Lo semakin genit sama calon suami gue!" Gertak Vika penekanan.
"Aku tidak sama sekali punya perilaku genit, seperti yang kalian bilang." Timpal Sorin percaya diri.
Semua anggota Butterfly menganga melihat keberanian Sorin menimpali ucapan dari Vika.
Ia"Ha?Lo gak terima? Sejak kapan Lo nggak terima."
"Kenapa kamu harus melarang aku dekat dengan Henry. Aku dan Henry juga belum tentu saling suka, apalagi berpacaran." Lanjut Sorin.
"Lo emang ya cari gara-gara mulu. Gak capek apa hidupnya, buat orang gak tenang." Sahut Oki geram melihat Genk butterfly yang tak berbobot sama sekali baginya.
"Hey! Lo itu anak orang miskin. Lo gak pantas sekolah disini. Lo disini cuma dibiayain Henry kan?! Idih gak tahu malu, percaya diri lagi." Ketus Vika seraya sinis melihat Sorin dan Oki.
Tawa ledekan keras mengiringi pembicaraan yang menyakitkan hati Sorin. Namun Sorin tak menghiraukan suara teman-teman Vika.
Menurut Sorin memang benar ia masuk sekolah dibiayai Henry. Tetapi, Kenapa Vika bisa mengetahui hal itu? sedangkan hanya dirinya dan Henry yang tahu. Ini benar-benar diluar prediksinya.
Sorin memilih pergi, ia tidak sanggup mendengar ucapan yang menyesakkan. Ia berlari ke tempat dimana tidak ada seorang pun yang tau.
Sorin ingin tenang, tanpa bising cemoohan dari Vika, Disty, Alya dan Yista yang menurutnya dari awal membuatnya tak nyaman. Hanya karena Henry.
Lengkungan senyum Sorin memudar menjadi sendu. Ia semakin bersalah dengan Bapaknya di kampung. Tujuan awal ia ingin bersekolah, memang sudah terlaksana, namun Sorin lupa akan impian yang harus dicapai.
Langkah Sorin terhenti tepat ada disebuah pinggir danau. Entahlah danau apa namanya, yang jelas. Sorin lebih memilih duduk dipotongan pohon yang mampu diduduki.
Ia memilih duduk beristirahat sejenak menenangkan hatinya yang sedih. Menarik napas dan membuangnya perlahan. Lalu, butiran kristal keluar dari pelupuk matanya.
"Hiks..hiks.."
"Kenapa aku selalu direndahkan, hanya karena aku dibantu Henry?"
"Dan kenapa mereka bisa tau? Apa Henry sendiri yang memang sengaja memberitahu mereka?"
Sorin terus melemparkan pertanyaan yang membuatnya semakin bertanya-tanya dan ingin mengetahui jawabannya. Yang pasti jawabannya sudah jelas dari ucapan Vika dan teman-temannya tadi.
Air mata Sorin mengalir tak terkendali. Ia terisak karena teringat dengan bapaknya sendiri. Bagaimana bisa kembali pulang? Sementara Sorin masih belum mempunyai biaya?
Sorin semakin menangis tak kuasa menahan tangis.
"Hiks.. hiks.. hiks.."
Dunia ini memang keras, Apalagi dari kalangan bawah seperti Sorin. Harus ekstra lebih keras dan giat kembali. Sehari tak bergerak menghasilkan, sama saja ia merugikan waktu. Belum lagi hinaan,cemoohan dari sekitar yang semakin memperkeruh suasana.
Tepukan pelan sebelah kanan terasa di bahu Sorin. Ia menoleh, ternyata ada Ardi.
Ardi sedang duduk disebelahnya. Sorin dengan cepat menyeka air matanya.
"Ardi, kenapa bisa tau kalau aku disini?" Tanya Sorin cepat.
"Ya taulah." Singkat Ardi menjawab pertanyaan Sorin lalu pandangannya ada pada danau.
Sorin kali ini gagal menyendiri. Karna kehadiran Ardi mengejutkannya. Ia berusaha tenang agar Ardi tak melayangkan pertanyaan yang membuatnya mati kutu.
"Lo ngapain disini? Lo baik-baik aja kan?" Tanya Ardi lancar. Karena, ia tak mengetahui kejadian yang dialami Sorin.
"Iya. Aku baik-baik aja, Ar."
"Kalau Lo mau nangis silahkan, Rin. Bebas." Jawab santai Ardi.
Sorin menatap tajam Ardi. "Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Sorin beranjak dari tempatnya. Berdiri lalu pergi begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi ke Ardi.
Ardi memandangi Sorin yang masih terlihat namun suaranya lantang keluar.
"Kalau Lo ada masalah, setidaknya Lo cerita ke gue! Janji itu harus ditepati, bukan untuk dihindari!"
Langkah Sorin terhenti, Ia menoleh ke suara Ardi yang ternyata masih melihatnya.
"Ardi." Batinnya sendiri.
***
To be continue…