
Henry sigap menjauhkan tubuh Bu Lena dari Ardi.
Ardi hanya bisa pasrah dengan tingkah ibunya. Agar Bu lena puas memarahi dan membencinya.
Bu Lena masih memaksa Ardi kembali ke rumah. Kondisi Ardi masih lemas, meskipun begitu Ia tak menghiraukan sama sekali keinginan ibunya. Ia hanya diam sambil memperhatikan Bu Lena yang tengah memaksanya.
"Anak gak tau diri ! Sekarang ayo pulang!" Namun, Tenaga Henry lebih kuat dari Bu lena. Akhirnya Bu Lena menyerah. Beliau memilih keluar dari ruangan dan pergi dari rumah sakit.
"Ardi?!" Teriak spontan Sorin melihat kondisi Ardi yang masih terpaku dan mengenakan infus.
"Kenapa kamu bisa jadi seperti ini?" tanya Sorin khawatir melihat Ardi
"Gue gak apa-apa kok." Kata Ardi pelan sambil melihat raut wajah Sorin yang peduli.
"Ardi sudah makan belum?" Sorin memberikan perhatian kepada Ardi. Karena, Sorin sempat merasa sedih melihat sikap Bu Lena yang kasar pada Ardi. Tapi, Sorin akan tetap mendukung Ardi.
Namun, Henry yang melihat sikap Sorin, bisa memakluminya. Walaupun, sebenarnya tidak rela.
Ardi menggeleng pelan sambil berkata. "Belum."
"Kalau gitu, aku suapin ya. Tadi aku sama Henry sempat membeli sup ayam dan buah sebelum ke sini."
Tanpa banyak bicara Ardi menurut perkataan Sorin. Sorin menyuapi sup ke mulut Ardi dan Ardi menerimanya.
Henry yang melihat keduanya memilih untuk keluar. "Sebentar ya, gue mau ke toilet." Henry mencari alasan tepat. Agar, keduanya tak salah paham.
"Iya, Hen." Ucap Sorin langsung melihat Henry.
***
Henry sengaja keluar dari ruangan Ardi. Karena, Ia berjalan ke bagian administrasi untuk melunasi biaya rumah sakit.
Setelah selesai, Henry akan kembali ke ruangan. Tanpa sengaja Henry menyenggol bahu seseorang yang berjalan ke arah lain. Sontak keduanya saling menatap satu sama lain. Tak hanya itu Henry berkerut masam, bertanya-tanya karena tak asing.
Seseorang itu secepat kilat berlari menjauh dari Henry yang masih memperhatikan sampai jauh.
"Siapa orang itu? Sepertinya nggak asing?" Gumam Henry sendiri.
Henry dengan cepat mengejarnya. Orang itu semakin berlari kencang lalu menghilang secara misterius.
Ia berhenti lari melihat sekitar, menengok kanan kiri. Namun tak ada siapapun. Henry pun berusaha mengatur nafas berulang kali.
"CK.. Siapa ya? Kalau gue minta tolong ke anak buah gue. Gue harus tau ciri-cirinya." Henry menggerutu kesal.
"Gue harus cari tau dulu." grutunya lalu pergi dari rumah sakit.
Padahal Sorin dan Ardi sedang menunggu Henry di ruangan.
"Anak pintar. Gitu dong. Ardi harus makan yang banyak. Biar cepat sembuh." Oceh Sorin senang melihat Ardi selesai menghabiskan makanan yang ia bawa.
"Sebentar.. Ardi. Henry ke mana ya? Kenapa lama sekali?" tanyanya.
"Mana gue tau Sorin. Gue kan dari tadi di sini, Lo suapin." timpal Ardi sambil mengendikan bahu.
"Iya ya. Tapi, kenapa lama sekali, aneh?" Sorin heran.
"Mungkin lagi berak." ceplos Ardi mencairkan suasana Sorin yang terlihat khawatir.
Seketika Sorin melengkungkan senyum, sedikit terlihat gigi ratanya. "Hahaha, Ardi bisa saja."
"Bisa jadi." Ceplos kedua kalinya Ardi mengasal.
***
Semakin malam Ibukota semakin ramai. Sama seperti Genk Butterfly yang tak ada henti-hentinya bertingkah dan mengoceh di Cafe. Seakan pembicaraan tak ada habisnya. Salah satunya membicarakan Sorin.
"Kita apes banget waktu tadi di sekolah." Awal pembicaraan yang memuaskan bagi pembaca. Tetapi, Itu hal yang menyakitkan bagi Genk Butterfly.
"Iya. Gue lupa kalau ada CCTV di kelas." Disty berucap sambil kesal tidak mengecek rekaman sekitar kelas.
"Gobloknya Lo, Dis." Timpal Yista kasar sambil tertawa lepas.
Pandangan Disty berubah datar seraya mengunyah makanannya.
Alya menimpali sambil menepuk pundak, "Sabar, dilarang marah."
"Yuk, cari ide balas dendam ke Sorin. Biar tau rasa itu anak." Vika geregetan.
***
To be continue...