Little Star

Little Star
Sial.



Pak Sholeh menjawab lagi tanpa ragu, "Aku mendengar sendiri, ucapanmu Lena. Kamu pikir aku tidak dengar?"


Bu Lena berusaha menyangkal, tetapi Pak Sholeh berusaha menjelaskan.


"Bukan gitu Bos. Sepertinya Bos salah dengar." Bu Lena menyembunyikan rasa kesalnya. Berusaha baik didepan, namun terlihat buruk dibelakang.


"Lena benar-benar tidak takut karma. Dia lupa tugas seorang wanita bagi anaknya sendiri."


Batin pak Sholeh menghela napas panjang berharap yang didengarnya salah. Meskipun sebelumnya Ia menggeleng kepala mendengar perkataan karyawannya.


"Bos. Anak perempuan itu nggak kerja disini lagi?" Tanya Bu Lena mencari bahan pembicaraan.


"Maksudmu siapa? Sorin?"


"Ya, anak itu."


"Sorin sekarang sekolah. Setelah Sekolah dia kerja seperti biasanya." Pak Sholeh menjelaskan ke Bu Lena yang masih mengangguk pelan dengan ekspresi tak suka.


"Enak sekali, gadis itu. Sekarang dia pintar mengambil hati si bos." Gerutu Bu Lena tak terima.


"Owh, gitu bos." Celetuk Bu Lena yang pura-pura.


"Memangnya kenapa Bu Lena?" Tanya Pak Sholeh memperhatikan.


"Nggak apa-apa pak bos." Bu Lena lalu melanjutkan pekerjaannya.


***


Pukul 08.00 WIB. Semua teman-teman di kelas Sorin keluar ruangan. Mereka menghampiri Pak Deni yang menyuarakan pluit panjang untuk berkumpul di halaman sekolah.


Mereka berbaris rapi, kemudian Pak Deni memulai pemanasan.


"Siap gerak. Lancang depan gerak. Tegap gerak." Kata pak Deni lantang bersemangat.


Peregangan otot-otot muridnya sangat diperlukan agar tidak ada yang cidera, terkilir, ataupun lainnya.


Sinar matahari yang cukup terik membuat semua semakin berkeringat. Belum lagi, setelah pemanasan, selanjutnya pak Deni menaikan volume musik untuk memulai senam.


"Anjir.. Gue kira bakalan lari. Kenapa malahan senam?" Ardi merasa tertipu. Ia yang antusias berubah lemas.


"Hahaha.. Rasain Lo." Timpal Henry senang melihat Ardi kecewa.


Sorin yang mendengar ucapan Ardi tertawa kecil. "Mungkin setelah senam langsung lari."


Kata Sorin menyela pembicaraan.


"Kalau gue tau hari ini senam mendingan gue gak ikutan."


Henry tertawa puas, membuat pak Deni mendengarnya.


"Henry, kamu di depan yang gantiin saya jadi pemimpin senam." Ucap pak Deni tak ragu menyuruh Henry ke depan sebagai hukuman diawal pelajarannya.


Semua pandangan ke Pak Deni yang menyuruh Henry memimpin senam. Teman- teman satu kelas, semakin bersemangat, bersorak dan antusias. Termasuk Genk Butterfly.


"Ciee.. Pangeran Lo Vik. Jadi pimpinan senam." Goda Alya ke Vika yang terlihat bangga.


Disty yang ada disamping kiri Vika memberi kode ke arah Sorin dan Ardi.


"Jangan senang dulu, Vika. Rencana segera diluncurkan nanti." Lirikan mata Disty tajam itu ke arah Sorin di belakang sebelah kirinya.


Vika paham maksud dari Disty memberi kode dengan jari, hal itu merupakan isyarat jawaban. "Oke."


Sementara Ardi tertawa diatas penderitaan Henry.


"Hahahaha.. rasain Lo, kualat gue." ceplos Ardi pelan sambil bertepuk tangan kegirangan.


"Apes, gara-gara Ardi ! Sial**!" batin Henry dalam diam.


***


Jam istirahat tiba. Kantin sudah terlihat ramai. Setelah selesai olahraga Sorin, Ardi, dan Henry sudah ada disatu meja kantin.


Ketiganya tengah melahap makanannya.


Sorin yang ada dihadapannya Ardi mengingatkan Ardi. "Ar, jangan banyak-banyak sambalnya."


Ardi mengangkat kepala melihat Sorin, "Gue lagi pengen makan pedas-pedas, Rin."


Kemudian, Ardi melanjutkan makannya. Sorin masih memperhatikan Ardi yang lahap makan.


Henry melanjutkan pembicaraan, "Terserah Ardi, Rin. Entar kalau kecirit baru tau rasa." Ceplos Henry tak malu.


"Huss.. Henry. Jangan doain seperti itu. Kasian nanti, Ardinya."


Henry memiringkan senyum. Ardi menyangkal. Keduanya bagaikan kucing dan tikus tak ada kata akur.


"Sirik ya Lo." Mata Ardi melotot ke Henry. Ardi mengerucutkan bibir.


"Siapa juga yang sirikin Lo?!" ketus Henry memalingkan wajah ke arah lain.


Sorin pergi begitu saja, setelah mendengar Ardi dan Henry saling menimpali satu sama lain. Ia masuk ke dalam toilet, mengganti seragam.


Langkah ketiga yang direncanakan Genk Butterfly akan terlaksana. Vika, Disty, Yista dan Alya sudah berada di dalam ruang toilet. Ia sudah mengetahui keberadaan Sorin yang masih ada didalam salah satu toilet.


Tangan Vika dengan cepat mengunci pintu. Kemudian, mereka pergi lalu tersenyum manis karena rencana mereka terselesaikan.


Sorin telah mengganti seragamnya, Ia akan keluar. Kejadian tak disangka terjadi.


"Kenapa pintunya---?" pikir Sorin sambil tangannya memegang gagang pintu berusaha membuka.


"Kenapa tidak bisa dibuka?" Sorin mulai kebingungan.


"Padahal gagang tidak ada yang rusak."


***


To be continue...