Little Star

Little Star
Merah jambu.



Bukan namanya Ardi kalau tidak bisa bermain permainan itu. Saat dirinya masih sekolah tingkat dasar Bu Lena dan Ayahnya Ardi sering mengajak bermain ke Mall. Namun, karena kepergian beliau, Bu Lena terpukul. Ardi tidak lagi dihiraukan Bu Lena, bermain seperti dahulu di Zona Time tidaklah mungkin apalagi bersama dengan Bu Lena saja. Sungguh mustahil.


Namun, kenangan indah tak akan pernah dilupakan Ardi. Ketika ia sedih, ia memilih pergi ke Zona time sendirian. Daripada harus bersedih di rumah. Karena menurut Ardi tempat yang paling nyaman tanpa orang tahu, ditempat keramaian. Apalagi di Zona Time ini.


Ardi dengan bangga memberikan boneka yang didapatnya untuk Sorin. Lalu mereka memutuskan untuk beristirahat untuk makan.


Mereka berdua telah berada di food court Mall. Surga makanan bagi para pecinta kuliner. Pengunjung hari ini tak meluber seperti hari weekend. 


Sorin masih di kursi rodanya sambil menjaga tempat duduk Ardi, agar tidak ditempati oleh orang lain. Sementara Ardi masih memesan makanan dan minuman.


"Sudah gue pesenin semua. Entar kalau beli jajanan diluar aja, Rin." Ujar Ardi, duduk kursi dekat Sorin.


"Hehehe.. Oke terserah Ardi aja." Senyuman Sorin mengembang indah membuat Ardi bergidik merinding sampai harus menoleh ke arah lain.


"Ardi, Makasih ya." Celetuk Sorin yang masih menatap Ardi yang ada disebelahnya.


Ardi menoleh ke suara yang memanggil namanya. "Makasih apalagi ini? Kan gue bilang jangan banyak terima kasih. Santai aja sama gue." 


"Hehehe Maaf, Ar. Karna Ardi sudah ajak aku jalan-jalan sekaligus membelikan makanan." Polos Sorin gak enak hati. 


"Aku tidak mau uangmu habis." Tambah Sorin lagi.


Ardi mendengar perkataan Sorin. Lalu mengacak pucuk rambut Sorin perlahan.


"Lo gak perlu takut, kan yang ajak main keluar gue."


"Santai Sorin." Ardi mencupit pipi Sorin karna menggemaskan.


"Semoga Ardi lancar rezekinya." Sorin mendoakan orang yang ada disebelahnya.


Sorin gugup karena baru saja Ardi mencubit pipi sebelah kirinya, membuat Sorin semakin salting.


"Permisi, silahkan makanannya." Ucap pelayan yang memecah keheningan setelah keduanya diam.


"Makasih." Henry menyambutnya.


***


"Alya! Buruan! Lemot amat jadi orang!" Disty, Yista, dan Vika mendahului Alya yang masih tertinggal jauh dibelakang, karena membawa banyak belanjaan ketiga temannya itu. Ralat bukan teman tetapi sahabatnya di Genk Butterfly.


"Huh.. Lo gak lihat! Belanjaan kalian gue bawa semua, Njir." Timpal Alya. Namun ketiganya tidak mendengar ucapannya sama sekali.


Alya menghembuskan napas perlahan tetapi pasti. Seseorang mendekatinya membuat dirinya terkejut. "Sini gue bantuin."


"Ardi? Kok lo— disini?" Matanya menyipit curiga melihat Ardi.


"Kenapa? Memangnya Lo aja yang boleh ke sini?" 


 


Alya sebenarnya terkejut melihat Ardi yang tiba-tiba muncul membantunya. Ia cukup curiga, cowok itu berkeliaran di Mall.


"Bukan gitu—. Lupain ucapan gue." 


"Sini gue bantuin. Lo mau pulang kan?" Tawar Ardi merasa kasihan dengan Alya yang terlihat letih.


"Sok tau banget jadi orang! Gak perlu kebanyakan nanya deh Lo, Ar!" 


Alya tetap kekeh membawa barang dikedua tangannya dengan sebal dan berlalu begitu saja dari Ardi.


"Idih, setan. Dibantuin marah-marah. Ya udah kalau gak mau dibantu." Ocehnya.


Alya yang mengejar langkah genknya terhenti ketika melihat keberadaan Sorin dan Ardi dari jauh.


"Ardi sama Sorin? Mereka —?" Alya terdiam memperhatikan dari kejauhan. 


"Mata gue normal gak nih." Alya berusaha mengusap kedua matanya. Berusaha apa yang dilihatnya bukan sekadar mimpi di siang bolong.


Tiba-tiba suara keras didengarnya kencang, konsentrasinya menghilang. "Yista, Disty dan Vika memanggil namanya dan mendekat.


"Alya, Lo ngapain sih,lama banget?"


"Iya nih. Lemot amat." Cemooh Yista.


Sementara Disty diam melihat tatapan Alya ke arah cowok yang sedang mendorong kursi roda.


Alya menunjuk tanpa berkata apapun.


"Lo lihat siapa sih?" Disty bertanya wajahnya penasaran.


"Ayo cepat, keburu kehabisan susshi yang gue pengenin." Rengek Vika menarik tangan Disty.


"Gue lihat Ardi sama Sorin." Ucap Alya spontan seraya menurunkan tangan.


Semua pandangan genknya ke arah dilihat Alya.


"Iya. Lo halu kali." Celetuk Vika.


"Enggak halu, sumpah!" Alya jujur sampai jari tangannya membentuk V.


"Ya udahlah, entar aja bahas anak kampungan itu. Ayo kita makan dulu." Pinta Vika seperti anak kecil.


Semua terdiam termasuk Alya, semua mengikuti permintaan bos genk Butterfly.


***


Sorin dan Ardi telah keluar dari Mall. Mereka berdua sudah berada di depan supermarket yang tak jauh dari rumah Ardi.


Sorin menunggu di luar supermarket di sebelah tempat duduk yang telah disediakan pihak supermarket. 


"Lo tunggu di sini aja ya, gak lama kok." Ujar Ardi sebelum ia masuk ke supermarket.


"Oke." Sorin menampilkan senyumnya ke Ardi.


Sorin mengambil handphone, Ia melihat banyak notifikasi dari Henry, termasuk panggilan yang tidak diketahuinya.


Dahi Sorin berkerut dan terkejut. "Henry." Lirihnya.


"Sorin?"


"Lagi ngapain?"


"Sibuk ya?" 


"Maaf ganggu kalau gitu. Pasti lagi istirahat ya? Gimana kaki Lo? Sudah sembuh belum." 


"Kalau belum entar aku mau jenguk ke rumah, boleh gak?" 


Sorin membaca pesan masuk yang baru dibacanya dan pesan masuk yang sudah dua jam yang lalu.


"Maaf, Hen. Baru balas." Lirih Sorin sambil mengetik balasan pesan yang akan dikirimkan. Namun, ia terhenti setelah Ardi memanggilnya.


"Rin?" Panggil Ardi.


Seketika Sorin menoleh. Ia melihat Ardi memberikan satu batang ice cream dan sebelah kirinya membawa botol minuman beserta ice cream lainnya.


Sorin menerima sambil tersenyum. "Makasih Ardi."


"Kembali kasih." Ardi membuka ice cream yang dibawanya dan menikmatinya.


Sorin kembali mengetik balasan untuk Henry. Mungkin cowok itu sedang mengkhawatirkannya.


"Maaf Henry, baru balas pesanmu. Aku baru membacanya."  Sorin pun telah mengirim pesan tersebut, sampai ice cream yang ia pegang belum tersentuh oleh mulut sama sekali.


"Lo gak suka ice cream." Celetuk Ardi bertanya kepada Sorin yang langsung memasukkan handphone ke tas.


"Suka Ar. Kata siapa tidak suka?"


"Hehehe.. kata gue, Rin."


"Suka banget malahan, Ar. Ice cream itu menyegarkan, manis pula." 


"Hehehe.. gue cuma nebak aja. Soalnya Lo kelihatan serius megang handphonenya, ada yang hubungi Lo ya?"


Tanya balik Ardi melihat sorot mata Sorin yang tak bisa diartikan.


Sorin menggelengkan kepala. "Enggak ada." Sorin terpaksa berbohong karena gak seharusnya juga ia memberitahu Ardi yang bukan sama sekali punya ikatan dengannya.


"Sorry, gue gak bermaksud buat kepoin urusan pribadi Lo. Gue cuma sekedar nanya."


"Ya tidak apa-apa, Ar." Ucap Sorin seraya menikmati ice cream yang tengah dipegangnya.


DEGH!


Sorin tak menyangka cowok yang ada di depannya sekarang membersihkan ice cream yang menempel disalah satu pipinya. 


Seketika Ia mematung melihat sikap Ardi yang membuatnya semakin malu.


"Sorry, Lo belepotan kalau makan ice cream." Celetuk Henry tertawa kecil.


Sudah beberapa kali Ardi membuat jantungnya tak terkendali, apalagi mematung seperti patung. Entah kenapa bisa terjadi? Padahal hal sederhana yang dilakukannya membuat semakin malu tingkat dewa, belum lagi pipi yang memerah.


Sorin mengedipkan mata berusaha tak terjadi apapun.


"Hehehe.. iya." Terkekeh kecil dan jawaban singkat yang hanya bisa diungkapkan.


***


To be continue...