
Aku berfikir sembari membuka buku hitam mengenai masalah anak-anak di sekolah ini. Aku cukup terkejut melihat nama pemuda itu.
Cukup banyak kasus yang ia buat, mulai dari berkelahi, bolos, tawuran dan melawan guru?! berani sekali dia.
Pantas saja orang-orang cukup kesal dan malas meladeni nya. Aku bangkit dan meninggalkan ruangan itu untuk sekedar mengecek apa yang ia lakukan.
'HAHH?!! kemana anak itu?!' gumamku terkejut melihat dirinya tidak ada di tempat terakhir kali aku meninggalkan nya.
Aku segera berlari kembali ke ruangan dan menarik pergelangan tangan Mita untuk ikut mencarinya.
"Mau kemana kita? sabar dong sakit!"
"Anak itu! hilang!"
"Hahh? siapa?!"
"Itu si anu ... Edwin!"
"Apaa?!!!"
"Kamu tahu ga tempat biasa dia pergi bolos?"
"Aku tahu!" Kini berbalik Mita yang menarik tanganku dengan langkah cepat keluar melewati pintu belakang sekolah.
Aku baru tahu tempat ini, aku seperti sedang menjelajah di tempat yang sangat jauh dari keramaian.
"Disini biasanya tempat anak-anak bolos, karena jarang di datangi orang-orang" ucapnya memberi penjelasan atas pertanyaan ku
Aku hanya ber-oh ria sembari mempercepat langkahku dan ... kami menemukan nya!
Mereka tertangkap basah, terlihat 5 pemuda tadi sedang duduk nongkrong sembari memakan gorengan.
"Heii! jangan kabur!" teriakku dengan cepat menangkap kerah baju miliknya.
"Ampun bu guru, nih makan aja gorengan, daripada marah-marah terus!" Edwin menyerahkan sepotong tempe goreng plus cabe
Dan dengan bodohnya aku menerimanya dan ikut duduk makan bersamanya. Mita menghampiri ku dan ikut makan bersama.
"Woy sini, ngapain kabur, ga mau gw traktiran ya?"
Ke empat pemuda tadi segera kembali duduk menggerombol dan kembali menikmati gorengan.
"Bu, teh manis satu!" teriakku
"Aku juga!"
Dari dalam rumah reyot tersebut, keluarlah seorang nenek tua yang berjalan membawa nampan berisi 2 cangkir teh manis hangat.
"Duh, neng manis temennya si ganteng ini ya? orang mana neng?" tanya nenek itu menggoda ku
"Hahh? ganteng? saya orang sini ko nek"
"Ampun nek!" Edwin menyatukan kedua tangannya seperti orang yang meminta ampun
"Ganteng? ganteng dari mananya?"
"Saya ganteng lah bu, kan calon suami ibu!" ucapnya sangat amat percaya diri
"Idihh, ganteng kalau di liat dari planet mars!" ucapku meninggalkan nya sembari menghampiri sang nenek untuk membayar.
"Sering-sering ke sini ya neng cantik!"
"Ya nek"
Aku dan Mita kembali menggiring anak-anak berandalan ini, ingin rasanya aku remas-remas wajah nya saking gemas dengan kepedean tingkat dewa si ketua.
"Bu bebasin kami dong, kan kami hanya ngikutin si Edwin bu!"
"Enak aja, suruh sapa lo ngikutin gw?"
"Lah, kan lu yang ngajak somplak!"
"Sudah! kalian ini ribut aja! karena kalian udah berbuat ulah lagi, sekarang kalian ibu jemur di lapangan sekarang!"
Ke empat pemuda tersebut keluar bersamaan dan berbaris di bawah tiang bendera sembari hormat.
"Kenapa ngga ikut? sana cepetan!"
"Lah, kan saya special bu hukuman nya, beda dari yang lain, gimana si ibu ini?!" Edwin duduk di hadapan ku sembari meminum segelas air putih gelas yang tersedia
"Oh gitu ya? makin lama makin pintar ya kamu?!!"
"Oh jelas bu, pintar dari lahir" ucapnya berbangga diri.
"Cepat laksanakan atau kamu saya skors?!!"
"Iya bu iya, jangan suka marah-marah nanti cantiknya hilang!"
"Bacot! cepat sana!"
Aku sudah tidak perduli lagi dengan image, aku meremas kasar rambutku dan mengambil segelas air putih, meladeni pemuda gila ternyata menguras banyak energi.
Mita hanya duduk manis sembari bermain ponsel, mungkin ini tugas yang ia rasakan dulu-dulu jauh sebelum aku datang.
Ya sekali-kali tidak apalah, olahraga mulut. Makin hari makin ke sini aku cukup pandai untuk berbicara rupanya. Anak itu membuatku secara tidak langsung menjadi pintar public speaking haha!
Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!
Ig : @_fadhz
Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!