Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Salting #2



"Maaf Devan, tidak harus seperti ini ..." ucapku menepis halus tangannya yang menempel dengan telapak tanganku.


"Maaf Flo, tapi aku harap kita bisa kembali" ucapnya lesu menatap wajah ku. Padahal tadi dia sudah sangat bersemangat.


"Ya, tidak apa-apa. Kita mulai perlahan sebagai teman ok? aku belum bisa memberikan mu kepastian"


"Ya sudah, aku pergi dahulu, kamu istirahat yang nyenyak. Jangan lupa mimpikan aku ya!" teriak nya tersenyum usil.


Aku hanya mengangguk sembari tersenyum malu. Kemudian mobilnya semakin menjauh dan mulai menghilang dari penglihatan ku.


Segera ku langkahkan kaki ku untuk masuk ke dalam rumah. Karena hari sudah cukup malam dan udara di luar sangat dingin.


Aku mulai membersihkan diri dan juga melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhku. Rasanya cukup melelahkan walaupun hanya sekedar makan malam.


Tapi ku akui, malam ini Devan cukup romantis dan agresif. Tidak seperti biasanya yang kaku dan juga selalu terlihat tegang.


Namun tadi, tangannya sudah mulai nakal dan mulai menyentuh perlahan. Aku cukup risih dengan sentuhan itu, aku tidak biasa di sentuh sana sini.


Seharusnya Devan tahu bukan, meskipun aku juga mengganggap nya wajar tetapi itu juga membuatku kembali berpikir ulang tentang kejadian yang menurutku cukup tabu tadi.


Mungkin sebagian orang menganggap nya biasa, aku pun begitu. Tetapi untuk sesaat rasa bersalah dan aneh mulai merasuki hati ku.


Aku segera membersihkan diri dan mengganti pakaian ku dengan baju tidur yang cukup tipis agar tidak terlalu panas.


Mengecek handphone ku dan terlihat beberapa pesan masuk ke dalamnya. Namun karena sejak tadi aku hanya fokus bersama Devan sehingga lupa untuk sekedar mengecek nya.


Mita : Jangan lupa besok Flo! kamu harus jujur dan tidak boleh menghindar!


Aku yakin ia pasti sangat bersemangat besok. Aku memilih untuk mengistirahatkan tubuh ku agar bisa merasa lebih fresh saat bangun pagi nanti.


Tapi kedua mata ku tidak bisa ku pejamkan, aku semakin terjaga saat ingin tidur. Entah efek dari mana bisa tidak mengantuk seperti ini.


Aku mulai memikirkan kembali serpihan-serpihan memori tadi. Hal itu cukup membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


Aku menangkup wajah ku dengan kedua telapak tangan ku, mengapa aku jadi memikirkan sentuhan Devan saat mengelus pucuk kepala ku?


'AAAAAAAA' teriak ku dalam hati karena menjadi salah tingkah dan malu bila mengingat kejadian tadi.


Tubuhku ku guling-guling kan di kasur, seperti remaja SMA yang baru saja jatuh cinta dan sedang kasmaran. Padahal umurku sudah tidak cocok dengan sikap ku saat ini.


Di tengah tingkah ku yang aneh ini, sebuah pesan masuk ke dalam handphone. Aku segera membuka dan mengeceknya.


'WHATTT DEVAN?' lagi-lagi aku seperti anak kecil yang malu-malu kucing.


Devan : Sudah tidur? aku baru saja selesai mandi.


Me? : Belum, aku tidak bisa tidur


Aku segera mematikan handphone dan menutupi wajahku dengan bantal. Hari ini aku seperti orang gila yang sedang jatuh cinta.


Tring! tring!


Bunyi nada dering dari handphone ku, sebuah panggilan masuk dan itu sudah pasti dari Devan.


"Halo?"


"Y-yaa?" Aku semakin gugup, entah kenapa emosi ku menjadi seperti ini


"Kenapa tidak tidur? kau harus bekerja besok" ucapnya lembut menasehati ku


"E-entahlah, aku tidak tahu" aku menjawab seadanya sembari menggigit bibir bawahku.


"Bagaimana besok kita makan siang bareng?" tanya nya tiba-tiba mengejutkanku


"Hahh? apa?" aku bertingkah seperti orang bodoh hahh hohh hahh hohh


"Kita makan siang bareng, bagaimana? kebetulan besok aku ada waktu luang"


"Aaaaa..... ya a-aku akan liat jadwal besok, nanti akan ku kabari"


"Baiklah, jangan lupa dan selamat tidur. Mimpi indah Floo"


Tuttt


Aku segera mematikan panggilan tersebut. Jantung ku kini berpacu dengan cepat dan semburat merah kembali menghiasi pipi ku.


'Devan, kamu selalu membuatku tidak bisa berkata apa-apa dengan perlakuan mu. Aku takut, suatu saat nanti akan ada hal yang membuatku tidak bisa merelakan mu'


Entah apa yang ku pikirkan, tetapi mengapa batinku berkata demikian? seharusnya aku bahagia bukan dan akan merancang kehidupan baru bersamanya.


Hahhh.. aku memang bodoh. Aku membuang jauh-jauh pikiran buruk ku. Aku akan hidup bahagia bersama nya. Harus! aku harus segera memberinya kepastian agar tidak terjadi hal-hal yang tidak ku inginkan.


'Kali ini, kita tidak akan berpisah lagi Van! aku janji akan hal itu!' tekad ku dalam hati sembari memejamkan mata untuk pergi menuju pulau kapuk.


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!