Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Ya sudahlah



**Devan : Kamu dimana? aku menunggu mu di depan.


Me? : Iya tunggu sebentar**.


Aku melangkah beriringan bersama Mita, kemudian aku langsung menghampiri Devan di tempat biasa kami bertemu.


Mita mengekori ku dari belakang, Devan mengernyit kan dahi nya heran, tidak mengerti dengan maksud ku.


"Mita akan pulang bersamaku, ia akan minap beberapa hari. Bisakah ia ikut pulang dengan kita?" aku bertanya sembari menarik Devan sedikit menjauh.


Lagipula Mita tahu maksud ku sedikit menjauh, bahkan ia takut melihat ekspresi Devan jika menolaknya bahkan ia akan segera lari ketika tidak boleh.


"Bagaimana?" Aku bertanya kembali setelah melihat ke belakang, melihat Mita yang menunggu jawaban.


"Boleh saja, kenapa tidak dari tadi? ayo nanti kesorean!" jawaban Devan membuatku lega, aku tahu bahwa dia tidak akan seburuk yang di pikiran kan oleh Mita.


Aku menghampiri Mita yang sedang bermain hp, entah apa yang ia lakukan aku hanya menarik pergelangan tangan nya untuk mendekat dan masuk ke dalam mobil Devan.


"Jadi sekarang kita akan kemana Nona?" Pertanyaan Devan sedikit mengalihkan perhatian ku dari Mita.


Aku menahan tawa sembari tersenyum kecut, tidak tahu harus berbuat apa mengenai ini. Tapi yang pasti Devan mengkode diri ku yang seharusnya duduk di depan bersama nya bukan di belakang bersama Mita yang membuatnya merasa menjadi seorang supir pribadi.


Tapi ini sangat lucu dan jarang sekali Devan cemburu di depan orang lain, ini adalah momen langka!


"Haha, tidak lucu Van, baiklah aku akan duduk di depan"


"Baiklah, itu lebih baik"


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan yang berlangsung. Hanya bunyi hiruk pikuk kota di sore hari.


Dan aku teringat sesuatu! astaghfirullah, pasti dia menunggu ku. Tapi aku tidak bisa pergi karena saat ini situasi sangat tidak tepat!


Sedang bersama Devan dan Mita pasti akan membuatnya curiga dan rumit. Ini tidak bisa, pasti mereka akan salah paham tentang hubungan ku dan dia.


Bagaimana ini, aku juga tidak memberikan kepastian, tapi aku juga merasa tidak enak dengan nya. Mungkin ia sedikit sakit hati dengan perlakuan ku dan sedang membutuhkan tempat sandaran?


Aku menatap Devan sekilas, wajahnya serius saat ini. Entah apa yang ia pikirkan, tapi apakah ia benar-benar tidak memperdulikan adiknya sendiri? saudara kandung nya sendiri?


Menjadi tidak habis pikir dengan ini semua hingga tanpa aku sadari bahwa kami telah sampai di tempat tujuan.


"Terimakasih Van, hati-hati di jalan!" aku melambaikan tanganku kepada nya ia hanya tersenyum sebagai balasan, mungkin ia sedang lelah makanya tidak membalas ucapan ku.


Aku memakluminya dan kemudian mengajak Mita untuk masuk setelah membuka pintu depan rumah itu.


"Pak Devan kerja apa Flo? ko mobilnya mahal banget kayanya"


"Entahlah, tapi dia meneruskan perusahaan ayahnya"


"Mungkin" aku hanya menjawab sekena nya untuk menjawab semua kehausan keinginan tahuan gadis muda di depan ku ini.


"Oh tidak, aku melupakan nya!" aku terkejut dan memekik sedikit keras sembari memegangi kepala ku.


"Ada apa Flo? apa ada masalah besar?" Mita bertanya khawatir sembari mendekat kepadaku


"Tidak, aku hanya lupa lagi membeli bahan bahan untuk membuat rendang."


"Astaga, ku kira kau kenapa, huhh membuatku takut saja" Mita mengelus dadanya sembari menatap wajah ku dengan sedikit jengkel dan lega.


"Hehe, kan kamu yang mau"


"Ngga usah, aku mah makan apa aja. Udah ga pengen makan rendang. Lain kali aja makan lobster" Mita menutup mulutnya seperti orang yang salah ucap


"Oh lobster, aku ada di kulkas, kamu mau?"


"Ngga Flo, ga usah! Jangan mulai Flo!" Mita mengancam sembari menjauh mundur dari ku.


"Kenapa? apa ada yang salah"


"Tidak, lebih baik kita makan yang sederhana saja, kita lihat apa yang ada di kulkas" ucapnya meraih gagang pintu es itu dengan semangat.


Ia terdiam dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan dengan word-word. Kemudian menatap wajah ku dengan wajah kusut dan aneh.


"Kenapa?" ucap ku bertanya untuk memastikan apa yang terjadi


"Di kulkas hanya ada lobster"


"Terus?" aku seperti orang bodoh yang kebingungan dengan sikap Mita


"Padahal aku ingin makan makanan yang wajar saja, tapi hanya ada lobster. Ya sudah lah"


"Bukankah itu bagus?" aku kembali bertanya dengan pertanyaan bodoh yang membuat Mita menjadi gemas melihatnya.


"Aku hanya ingin makan makanan biasa saja Flowie, kamu terlalu berusaha melakukan apapun untuk orang lain, sedangkan dirimu? apakah kau pernah memikirkan bahwa apa yang kau inginkan untuk dirimu?" Mita berucap panjang lebar membuatku berusaha berpikir keras.


"Jadi bagaimana? kita makan apa?" aku terlalu malas untuk memikirkan nya


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!