Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Belum bisa



Aku menunggu nya untuk sadar sembari menenangkan diri ku dengan cara mengguyur habis tubuh dan kepalaku.


Rasanya emosi ku mulai mereda, aku segera menyelesaikan aktivitas ku agar bisa cepat menyelesaikan masalah ini.


Aku pergi keluar untuk membeli makanan, sekedar isi perut, aku kembali teringat perkataan Edwin yang selalu mengingatkan ku untuk makan.


Berjalan menikmati sinar matahari yang akan terbenam, aku menyukainya. Setelah sampai di sebuah supermarket, aku turun dan segera membeli camilan ala kadarnya saja.


Karena asik memilih, tanpa sengaja aku seseorang menabrak ku dari samping. Aku terkejut hingga menjatuhkan barang-barang belanjaan ku.


"Maaf, mari ku bantu" ucapnya


Suara itu? aku melihat wajah yang ada di depan ku, tiba-tiba tangan ku gemetar. Dan ia seperti nya menyadari tangan ku yang gemetar sehingga ia juga menatap wajahku.


"Flowie?" ia terkejut dan menatapku tidak percaya


Tetapi aku segera membereskan barang-barang belanjaan ku dan segera bangkit, berusaha untuk meninggalkan nya.


'Sial! kenapa harus antri di saat-saat seperti ini?!'


"Flowie, tunggu! kita harus bicara!" ucapnya dengan cepat meraih pergelangan tangan ku dan menguncinya


"Lepas! aku sedang buru-buru, tolong jangan memaksa ku Devan!"


Ia tidak perduli, ia tetap mengantri di depan ku sembari menggenggam erat tangan ku. Aku menjadi terbawa suasana, mataku berkaca-kaca.


Devan meraih belanjaan ku dan menaruhnya di kasir, aku melihat ia menyatukan barang ku dan barangnya. Tetapi barangnya sangat dikiit, hanya sebotol kopi hitam? ia masih sama, sama seperti dulu.


Aku menyerahkan selembar uang, tapi ia mengembalikan nya kepadaku dan memaksa agar ia saja yang membayar, katanya sekalian saja.


"Ikuti aku, kita ke Cafe depan saja"


Aku mengikuti langkah nya tanpa berkata apa-apa, saat ini hati ku sedang tidak karuan. Bingung harus bagaimana


"Ada yang ingin aku bicarakan Flo"


"Ya, katakan saja"


"Aku ingin kita kembali! aku ingin hubungan kita lebih serius dari sebelumnya!"


"Aku tidak bisa!"


"Mengapa?! apa yang membuatmu tidak bisa menerima ku Flo?! aku masih mencintai mu, sangat sangat mencintaimu Flo!"


Aku mengalihkan pandanganku, berusaha untuk tidak bertemu dengan tatapannya yang sendu. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa menerima nya begitu saja.


"Kakek belum memberikan aku waktu dan kesempatan untuk kita kembali Devan! aku tidak bisa bila harus membuat nya terluka"


Ia menatapku penuh tanda tanya, ia tidak mengucapkan apa-apa dan hanya diam menunggu ku untuk mengatakan lebih lanjut.


"Jadi bagaimana? Apakah aku harus menyakinkan kakek mu? kalau begitu ayo! kita pergi temui dia!"


"Jangan Devan! Kakek masih sakit, aku tidak bisa bila melihat wajahnya yang seperti itu, aku tidak ingin membuatnya bersedih!"


"Lalu aku harus bagaimana Flo?! mengapa sesulit ini harus memiliki mu?!!" Teriaknya putus asa dan kembali menjambak rambutnya


"Maaf pak, bu, tolong jangan membuat keributan, di sini tempat umum. Tolong bicarakan baik-baik" ucap salah satu pelayan di Cafe itu


"Maaf, maafkan sikap teman saya ya, maaf kami akan pergi"


Aku menarik paksa lengan Devan untuk pergi keluar dari tempat tersebut, sepertinya saat ini belum tepat untuk membicarakan masalah ini.


"Aku harus bagaimana Flo? jangan membuatku menunggu lama tanpa kepastian! aku juga lelah bila hubungan kita masih seperti ini!"


"Maaf Devan, tolong beri aku waktu! aku pasti akan membereskan masalah ini secepatnya"


"Aku mengerti, berikan nomor. handphone mu agar kita bisa saling berhubungan, aku tidak ingin kejadian di masa lalu kembali terulang"


"Ya baiklah" setelah bertukar nomor handphone, Devan dengan wajah lesu pergi meninggalkan ku. Aku pun kembali ke rumah sakit.


'Harus sampai kapan seperti ini Flo?'


***


Ting!


Sebuah pesan masuk ke handphone ku, aku memeriksa nya. Kakek saat ini masih juga belum sadar, ia seperti sengaja menghindar dari ku.


**Devan : Aku sudah sampai di rumah.


Me? : Syukurlah, jangan lupa makan, jangan suka begadang Van**!


Aku menatap pesan singkat itu. Sudah lama tidak seperti ini, aku menjadi sedih harus dan bingung harus apa.


Karena sejujurnya aku masih sangat mencintai nya dan aku tidak bisa menerima nya untuk sementara, aku masih ingin meyakinkan Kakek agar ia bisa melepas ku dengan tenang.


Tak lama, Kakek terbangun. Ia menatap wajah ku sebentar. Kemudian mengalihkan pandangan nya.


"Kek .. mari kita bicara?"


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!