Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Malam Indah



Aku melirik jam yang tertempel di dinding kamar, 18:45 gumamku lirih sembari menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa.


Setelah semua siap, aku mulai mematikan beberapa lampu agar tidak terlalu boros, terlebih lampu bagian dapur dan kamar mandi.


Aku mulai menunggu Devan di ruang tamu, aku terlalu malas bila harus menunggu di luar, sudah seperti anak jalanan saja pikir ku.


Detik berganti menit, cukup lama aku menunggu. Tidak biasanya Devan terlambat seperti ini. Aku mulai mencari handphone ku hendak menghubungi nya.


Baru saja ingin mengetik dan mengirimi Devan pesan, sebuah mobil terlihat terparkir di depan rumah ku. Kemudian mulai terdengar bel rumah dari arah gerbang.


Yang ku yakini bahwa itu adalah Devan. Setelah mengunci rumah, aku segera melangkah keluar dari rumah dan menghampiri Devan.


"Maaf membuatmu menunggu lama" ucap nya terlebih dahulu, sebelum aku buka suara untuk menyapanya.


Ia menatapku dari atas hingga bawah. Memperhatikan setiap gerakan ku. Aku menjadi sedikit malu dengan tatapannya.


Meskipun sudah lama saling kenal, tapi tetap saja hati ku selalu jedag-jedug bila berada di dekatnya.


"Akhh... ya tidak apa-apa, santai saja" ucapku berusaha untuk mengalihkan pandangan nya serta memecah keheningan di antara kami.


"Baiklah, ayo kita langsung pergi"


Aku mengangguk tanda setuju, kemudian Devan mulai membuka kan pintu di samping kemudi.


"Terimakasih"


Ia hanya tersenyum sembari memutari mobilnya kemudian masuk dan mulai menyalakan mobil.


Perjalanan terasa cukup lama, aku tidak tahu ia akan membawakan ku kemana. Yang pasti kami hanya berkeliling untuk beberapa saat.


Sedari tadi tatapannya tak lepas dari diri ku. Entah aku yang terlalu kepedean atau memang benar ada nya.


Tetapi saat ku berusaha untuk melihat wajahnya, ia segera memalingkan wajahnya terlebih dahulu dengan gerakan yang sangat cepat.


Aku menundukkan kepala ku karena malu, Devan selalu membuatku heran dan tersipu karena tingkah nya yang kaku.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" ucap ku untuk memecah keheningan serta menangkap basah tingkah nya.


"Kamu cantik" ucap nya singkat sembari tersenyum


Kembali lagi, Devan memang tidak pintar merayu, tapi selalu berhasil membuatku sebagai wanitanya tersanjung.


Mungkin aku yang gampang sekali tersentuh dengan semua sikapnya. Tapi ini bukti nyata bahwa dia adalah pria yang sangat romantis bagiku.


Walaupun ia memang dingin dan kaku. Tapi setidaknya bersama ku hati nya bisa menghangatkan suasana hati ku.


Mobil terhenti di sebuah restoran mewah. Ia membawaku ke restoran Lampbond King. Aku tahu restoran ini, cukup menarik dan berkelas. Tapi aku tidak pernah mengunjungi nya, hanya pernah melewati nya.


"Ayo turun, kenapa melamun?" tanya nya sembari berusaha untuk menyadarkan ku


"E-ehh iya, ayo" ucapku gugup


Ia tersenyum kemudian kami berjalan beriringan, mulai memasuki restoran dengan gaya klasik itu sembari menuju meja yang kosong.


Seorang pramu saji datang menghampiri kami sembari memberikan dua buku menu. Aku menerimanya kemudian segera memilih makanan yang enak untuk ku santap malam ini.


"Saya pesan sirloin steak 1 dan orange juice"


"Kakak nya?" tanya nya mengarah kepada ku


"Mm... sirloin steak 1 sama lemon ice mint 1"


"Baik itu saja?" tanya nya memastikan


"Ya" ujar Devan singkat sembari menyerahkan kedua buku menu kepada sang pramu saji.


"Baik, tolong tunggu sebentar ya kak, permisi"


Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Devan tampak menikmati suasana restoran yang cukup ramai sembari mendengarkan alunan musik yang mengalun merdu.


Kami berbincang ringan dan hangat, menunggu pesanan sembari mengobrol untuk mengusir kecanggungan di antara kami.


"Hari ini kamu cantik, aku suka" ucap Devan tiba-tiba memuji di tengah-tengah pembicaraan.


Nyesss...


Semburat merah merona tampak menghiasi pipi putih ku. Aku menundukkan pandangan ku sembari ******* ***** gaun merah ku.


"Tidak tidak, setiap saat kau memang cantik Flo. Maaf aku salah" ucapnya meralat ucapnya dengan nada bicara seperti merasa bersalah. Ia pikir mungkin aku bersedih karena hanya malam ini ia memuji ku cantik.


"Hah? apa maksud mu?" ucapku berusaha untuk pura-pura bodoh.


'Andai kau tahu Devan, saat ini aku sedang salting karena pujian mu. Aku bukan sedih karena kau hanya memuji ku malam ini, tetapi saat ini aku sedang mengatur dan berusaha mengontrol detak jantung dan juga nafas ku!'


Ucapku membatin, sembari berusaha menatap wajahnya yang sangat tampan malam ini. Tidak, benar ucapan Devan bahwa ia selalu tampan setiap saat.


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!