Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Melamun?



"Hey? Edwin?" aku kembali melambaikan tanganku di depan wajahnya.


"Eh, iya" ia tersadar dari lamunannya.


Edwin hanya diam mundur dari tempatnya semula karena Ridho sedang membersihkan tumpahan es coklat yang akan mereka berikan.


Sebenarnya, itu adalah es coklat pemberian Edwin, ia sengaja membohongi Flowie agar mau menerima pemberian nya.


Karena ia tahu bahwa jika Flowie tahu itu adalah pemberian dari nya pasti dengan segera akan di tolak mentah-mentah atau ia akan memberikan nya kepada orang lain.


Namun, ia tetap melamun. Entah memikirkan apa yang membuatnya menjadi seperti orang bodoh saat ini.


"Edwin, ayo kita ke kelas, udah bel tuh" Ridho menegurnya kemudian menarik lengan Edwin dengan sedikit paksaan setelah meminta maaf kepada Flowie dan pamit untuk pergi.


Hingga sore hari nya, Edwin tetap melamun. Ia tidak mendengarkan orang-orang di sekitar nya. Ocehan mereka seperti angin lalu yang sangat unfaedah.


Karena hari sudah sore, ia lantas bangkit dari tempatnya. Ridho sudah pamit pulang lebih dulu karena ia akan menghadiri acara keluarga inti.


"Huhhh...." suara helaan nafas yang cukup berat.


Edwin terpaksa melangkah kan kakinya ke parkiran dan bersiap untuk pulang. Setelah sedikit memanaskan motor nya. Ia mulai menjalankan nya perlahan.


Namun, ia malah bertemu momen yang cukup menyakiti hati kecilnya. Meskipun ia tahu perasaan nya itu salah, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini benar-benar dari hati nya sendiri.


Ia pun tersenyum kecut lalu pergi meninggalkan tempat itu, ia melajukan motornya dengan cepat dan tanpa arah tujuan.


Di tempat lain...


Devan : Aku sudah di luar, apakah masih lama?


Aku tersenyum kecil melihat pesan itu, Mita selalu menggodaku saat melihatku yang suka senyum-senyum sendiri.


"Aduh, kalau human udah jatuh cinta, ada aja tingkah absurd nya" Mita menggeleng melihat kelakuan ku akhir-akhir ini sembari membereskan barang-barang nya karena hari sudah sore.


"Haha, kamu iri Mita?" aku meledeknya sembari terkekeh kecil


Me? : Tidak, aku sudah selesai. Sedang membereskan barang-barang dan ruangan.


"Iri? sorry-sorry, aku belum memikirkan itu. Karena aku pengen dapet suami milyarder" ucapnya tersenyum bangga dengan imajinasi dan pemikirannya konyol nya itu.


"Ya terserah, intinya aku do'akan semoga jodoh mu adalah orang yang memang terbaik untukmu"


"Hehe, makasi ya. By the way ayo kita pulang, udah sore nih!"


Aku dan Mita berbincang ringan dan sesekali tertawa melihat tingkah dan ucapannya yang terkadang di luar nalar itu.


Aku pun menunggu Mita untuk mendapatkan ojek online nya. Setelah dapat, aku dan ia berpisah. Devan sedari tadi telah menunggu ku tak jauh dari tempatku berdiri.


"Maaf ya, kamu nunggu lama ya?" aku menjadi merasa bersalah


Setelahnya, aku dan Devan mulai pergi dari tempat tersebut. Tanpa sengaja mata ku menangkap seseorang yang cukup familiar.


Dan di saat yang bersamaan, orang tersebut di sebelah ku saat berhenti di lampu merah.


"Edwin?" aku menurunkan kaca mobil sembari melihatnya.


Tapi, sikapnya di luar dugaan. Ia melengos tidak melihat ku sama sekali. Seolah-olah diriku tidak pernah ada di hadapannya dan itu seperti orang asing.


Lampu hijau menyala, Edwin meninggalkan jalan tersebut dengan laju yang sangat cepat. Devan menutup jendela dan menguncinya.


Raut wajahnya tampak tidak suka melihat ku menegur adiknya sendiri. Aku diam tidak mau banyak bicara, mungkin saat ini suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Aku berusaha memaklumi nya dan memilih tidak membahasnya. Lagi pula aku cukup lelah hari ini hingga mata ku rasanya sangat mengantuk.


"Flo, kita sudah sampai" Devan membangun kan ku dengan lembut sembari menatapku dengan tersenyum


"E-ehh? aku ketiduran ya?" Devan mengangguk tanda membenarkan hal tersebut.


"Astaghfirullah, berapa lama?" aku terkejut dengan hal tersebut


"Tidak terlalu lama, hanya 50 menit sejak kita sampai" ucapnya enteng menatapku


"APA??!! SELAMA ITU?!" aku sangat terkejut namun raut wajah Devan malah sebaliknya, ia hanya tersenyum bahagia


"Kamu ngga apa-apain aku kan?" tanyaku penuh selidik melihat tingkah nya itu


"Kamu ngga percaya sama aku?" ia menjawab dengan nada sedikit kecewa


"N-ngga, maksud ku kamu tidak melakukan hal-hal seperti memfoto ku saat tidur kan?" ucapku tersenyum getir seperti orang bodoh


"Untuk apa?" beo nya menatapku heran


"Akhh... sudahlah, aku pergi dulu Van, terimakasih tumpangan nya untuk hari ini!" aku kemudian keluar dan menunggu nya untuk pulang


"Besok tunggu aku! aku akan kembali menjemput mu, paham?" ucapnya tegas.


"Baiklah, hati-hati!"


Aku memasuki halaman rumah, saat menutup gerbang rumah, tanpa sengaja aku menangkap seseorang yang terlihat menjauh dari tempat yang tak jauh pula dari ku.


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!