
Senja telah hadir, penengah di antara siang dan malam. Aku bangkit setelah mengecek dan membereskan barang-barang serta ruanganku.
Mita sudah keluar lebih dulu, ia ingin ke kamar mandi sebentar. Aku membawa tas nya dan pergi mengunci ruangan itu.
Aku menunggunya di parkiran, menatap matahari yang akan terbenam. Sangat indah! Aku memejamkan mataku, berusaha untuk melepaskan rasa lelah ku.
"Hehh! ko malah tidur?" Mita menggoyangkan lengan ku.
"Ngga, yuk pulang!"
Mita sering pulang bersamaku akhir akhir ini, aku menjadi cukup senang, setidaknya aku tidak selalu sendirian.
"Beli handphone barunya mau sore ini?" tanyanya sembari memperhatikan wajahku
"Ngga, besok saja, ini udah sore nanti pulang nya kemalaman"
"Oh ya udah, kalau mau beli jangan lupa kabarin aku ya!"
"Kabarin? gimana?"
"Ya tinggal chat aku lah"
"Kan handphone ku hilang Mita?!"
"Oh iya!" Mita menepuk dahinya.
Percakapan terhenti, kami telah sampai di rumah Mita. Setelah berpamitan, aku menancapkan gas untuk kembali ke rumah.
Rumah? apa itu rumah? sebuah bangunan beratap yang di gunakan untuk berlindung dari panas dan hujan? hahh... rumah.
Edwin...
'Kenapa aku memikirkan nya? bodoh!' aku memukul kepalaku, bisa-bisanya aku memikirkan anak nakal itu.
Aku membersihkan diriku dan hanya duduk di teras depan rumah. Melihat lahan kosong di hadapan ku. Membosankan
Sunyi, sepi dan tenang.
"Iya bener tuh bu, eh itu tetangga baru ya? samperin yuk!" seseorang dari arah gerbang mendekat dan berusaha untuk menegurku
"Neng, orang baru ya? kapan pindahan?" tanyanya, aku menatap kedua ibu-ibu di depanku, usianya mungkin tidak jauh dari usia ibuku.
"Iya bu, baru dua minggu yang lalu"
"Oh gitu? dua minggu? udah lama dong, ko ngga kenalan sama tetangga yang lain?"
"Ah ngga juga bu, saya bingung gimana mau kenalan nya, hehe" aku hanya berusaha menjawab seadanya.
"Silakan duduk bu"
"Ngga usah, ini saya cuma mau kenalan aja, nama saya Bu Ani rumahnya itu tuh yang depan rumah Pak Manto, nomor 26"
"Kalau ini Bu Sari, rumahnya sebelahan sama rumah Pak Manto, nomor 37 ya! main-main ke rumah ya, ibu mau permisi dulu, ayo yuk Sari!" Ia pergi begitu saja, aku hanya diam.
Selama ini aku tidak memperhatikan sekitar ku, apalagi nomor rumah, tetangga apalagi Pak Manto? siapa dia? aku bingung.
Setelah mengunci pintu rumah, semuanya terasa semakin membosankan. Aku berfikir tentang nama itu, Pak Manto? aku seperti tidak asing dengan namanya.
Akhh sudahlah, buat apa memikirkan perkataan orang-orang itu.
***
Aku bersiap-siap untuk pergi sesuai rencana ku kemarin. Aku memutuskan untuk datang sedikit siang, dan segera menuju rumah Mita.
Tok tok tok!
"Permisi ...."
"Ya? cari siapa ya dek?" seorang wanita paruh baya keluar setelah aku mengetuk pintunya beberapa kali.
"Ehmm... ada Mita nya tidak bu?"
"Oh Mita? dengan adik siapa ya?"
"Saya Flowie bu"
"Oh nak Flowie! mari masuk nak, ibu panggilkan dulu Mita nya.
"Iya bu" aku memasuki rumah minimalis itu, cukup sederhana namun sangat nyaman. Rumahnya terasa sepi, aku melihat lihat foto yang tertempel di dinding rumah itu.
'Sepertinya Mita hanya dua bersaudara?' pikirku
"Tuhkan, ngga kabarin aku si! kan aku belum mandi!" baru pertama kali aku melihat sisi lain dari seorang Mita
"Dek, cepetan mandi ko malah berdiri di situ!" ucap wanita tadi, mungkin ibunya Mita? sembari membawa secangkir teh manis dan beberapa potong singkong rebus?
"Ini ya nak Flowie, di makan, di minum tehnya, kalau ngga suka atau kurang enak sama singkong nya bisa bilang ke Ibu, di rumah cuma ada ini" ucapnya dengan wajah khawatir
"Iya bu, terimakasih banyak!"
"Ibu tinggal nyuci sebentar ya nak Flowie, ngga papa kan?"
"Iya bu gapapa, silakan"
Aku duduk sendiri, mencoba menikmati makanan yang telah di suguhkan. Singkong rebus ini cukup enak, apalagi tekstur nya cukup empuk untuk di nikmati.
Mita datang setelah aku menunggu kurang lebih 30 menit sendirian, lumayan sarapan gratis.
"Ayo kita pergi!"
"Ngga pamit dulu?"
"Aku udah, mau aku panggilin ibu ku?"
Aku hanya mengangguk, rasanya tidak etis bila pergi tanpa berpamitan dengan tuan rumah, apalagi aku ini tamu.
"Bu, saya pamit pergi ya, izin bawa Mita"
"Iya nak, hati-hati jangan kebut-kebutan ya! bahaya!"
"Iya bu, tenang aja!" Mita berusaha meyakinkan ibunya
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan berdua, cukup jauh untuk kami pergi. Sekedar jalan jalan saja. Untuk refreshing dan hiburan batin ku.
Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!
Ig : @_fadhz
Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!