Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Rapuh



"A-apa m-maksud mu?" tanya ku heran, aku tidak mengerti meskipun kini aku bisa melihat dari ekspresi wajah nya yang terlihat sangat terluka.


"Ayah tidak pernah pulang setelah kematian Ibu, Kakak sibuk mengurusi perusahaan ayah. Aku selalu sendirian dan aku sangat kesepian ..." Ia menghela nafas dengan panjang.


Aku terdiam, kematian ibu? ibu nya Devan?! K-kenapa? aku baru tahu?


"Ibu kalian ... meninggal?!" ucap ku terkejut ketika ia mengangguk dengan lemah.


"Bagaimana itu bisa?"


"Semua bisa terjadi bu... sejak Ibu meninggal karena kecelakaan tunggal, ayah pergi meninggalkan aku yang masih kecil, Kak Devan yang saat itu sudah cukup besar harus menggantikan posisi ayah sebagai pemilik perusahaan"


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku mengetahui nya saat melihat kamar Kak Devan yang di penuhi banyak foto ibu dan juga tulisan-tulisan nya berisi curahan hati nya"


"Mereka tidak mengurusku, meninggalkan ku, aku kesepian dan harus menjalani hidup yang terlalu kejam, aku tidak tahu harus kemana bu... tolong... jangan tinggalkan aku..."


Ucapan nya menusuk hati ku, sesaat rasa bersalah mulai menghinggapi hati kecil ku, aku menjadi tidak tega melihatnya yang ternyata harus berjuang mati-matian untuk sekedar hidup dengan bahagia.


Aku meraih kepala nya dan mulai memeluk nya. Ia menangis seperti anak kecil, ia tidak seperti Edwin yang ku kenal, di depan ku saat ini adalah Edwin yang rapuh.


Ia menangis cukup lama, hingga tertidur di pundak ku, aku tidak berani memberikan nya bantalan pada paha ku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi di antara kami. Biarlah seperti ini, karena aku hanya menganggap nya sebagai adik kecilku.


Aku berinisiatif untuk menunggu nya sadar, sembari menunggu senja datang. Jam masih menunjukkan pukul 16:23, aku masih bisa menunggu nya setengah jam lagi.


'Ternyata kamu serapuh ini Edwin, aku tidak menyangka bahwa kehidupan mu sangat pahit untuk di jalani, tapi kamu juga hebat bisa bertahan hingga saat ini, aku bangga...' ucapku dalam hati, mendoakan selalu agar ia bahagia.


"Aku dimana?"


"Kita masih di sini, ayo kita pulang, sudah cukup sore. Nanti orang rumah pasti mengkhawatirkan mu"


"Hahahaha, memangnya ada yang menunggu ku pulang saat ini? aku meninggal saja mereka pasti tidak perduli" ucapnya tersenyum getir menatapku


"Setidaknya masih banyak orang yang perduli dengan mu, kamu tidak se-...." ucapan ku terpotong begitu saja, Edwin ini tidak sopan! tapi aku memaklumi nya berusaha untuk bisa mengerti keadaan nya


"Aku tidak sendirian? lalu saat ini aku di pedulikan oleh siapa? siapa yang akan khawatir dengan ku bila pulang malam? apakah ada? TIDAK ADA BU, TIDAK ADA"


"Aku, aku ada untukmu, aku yang mengkhawatirkan kamu!" ucap ku begitu saja, aku tidak tahan dengan wajah-wajah orang yang putus asa


"Hahahaha, ibu ini lucu sekali, tidak mungkin kamu mengkhawatirkan aku bila kamu mencintai kakakku, itu tidak adil bu!"


"Aku .... aku khawatir pada mu sebagai guru mu, ya sebagai guru mu!"


Edwin hanya diam mengikuti ku, ia mulai menyalakan motornya dan mulai berjalan beriringan di samping mobil ku.


"Aku pulang, kamu harus sampai tepat waktu di rumah, mengerti? jangan sampai besok bolos kembali!"


"Aku akan tetap bolos jika ibu tidak masuk, jadi masuk lah jika ibu ingin aku tidak bolos, mengerti?"


"Jangan melawan guru mu Edwin!" aku kesal dengan tingkah nya ini, terkadang cengeng, terkadang nakal, terkadang gombal.


"Sampai jumpa bu, aku menanti kehadiran mu besok! jangan telat makan ya, aku menyukaimu!"


"Ya ya ya" aku hanya menjawab tanpa mendengar ocehannya, ia pergi menjauh. Jalan ku dan jalan nya berbeda arah.


Aku harus kembali ke rumah sakit, bagaimana pun caranya aku akan meyakinkan Kakek untuk bisa memberikan aku sedikit waktu.


Setelah sampai, aku memilih untuk segera masuk ke ruangan nya dan menemui nya. Aku tidak ingin ini tertunda lagi.


"Nona, maaf tuan sedang tidak ingin di ganggu" cegat Pak Andra cepat saat aku ingin masuk menemui kakek


"Maaf, kamu tidak berhak mencampuri urusan keluarga kami, jadi kamu jangan menghalangi ku!"


"Maaf, ini perintah tuan, saya tidak bisa melanggar nya"


"Tapi aku ingin segera menyelesaikan masalah ini! apa kau tidak mengerti?!" aku kembali emosional dan tidak bisa mengontrol nya kembali.


Ia menatapku tampak berfikir, aku menunggunya sembari menghentakkan sepatu ku di lantai, tanda bahwa aku sudah tidak sabar.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama dan jangan membentaknya, karena itu bisa memicu penyakit Jantung nya kembali kambuh"


"Ya aku mengerti"


Aku meninggalkan nya yang tampak tak rela dan juga takut terjadi sesuatu. Aku menatap wajah tua berambut putih itu. Miris sekali melihat keadaan nya seperti ini, membuatku menjadi tidak tega, tapi kali ini aku harus egois untuk memperjuangkan kebahagiaan ku!


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!