
"Hayyo, siapa tuh?" tiba-tiba Mita datang dari arah belakang dan merangkul pundak ku
"Mita, bikin kaget aja!" Aku menepuk pelan lengan nya yang tersampirkan di pundak ku.
"Kamu ada hubungan apa sama Kakak nya Edwin? ayo ngaku!" ucapnya mengintrogasi
"Terus itu apa? ko banyak banget?" sambungnya memperhatikan bungkusan plastik yang aku pegang.
Aku tersenyum malu, kemudian segera masuk ke dalam ruangan di ikuti dengan Mita yang masih penasaran tentang hubungan ku dengan Devan.
"Ayo dong cerita! jangan rahasia-rahasiaan begini!" ucapnya memohon
"Iya sabar Mita, masih pagi juga. Mending kamu sarapan dulu nih" ucapku sembari menyerahkan sekotak bekal yang pasti nya berisi nasi goreng.
"Yeayy, makasii ya lumayan buat ganjal perut" ucapnya bersemangat
"Bukan buat ganjal perut, buat nyumpel mulut kamu" sahut ku bercanda
"Huuuu" balasnya sembari mulai menyendok kan mulutnya dengan nasi goreng.
"Gimana? enak ga?" tanya ku memastikan
"Enak, enak banget! 99,99 persen enaknya!!" ucapnya bersemangat.
"Di habisin ya"
"Tenang aja, pasti habis!"
Aku pun duduk dan mulai membuka bungkusan plastik yang di berikan Devan. Aku menghitung jumlah nya dalam hati. Sembari memperhatikan berbagai merk coklat yang ada.
'Banyak banget? kapan dia beli?'
Ting!
Sebuah pesan mengalihkan perhatian ku. Mita yang sedang asyik makan menjadi ikut mengalihkan perhatian nya dan mulai menatap dengan mimik wajah penuh tanda tanya.
**Devan : Bagaimana, coklatnya enak tidak?
Me? : Belum di coba, di liat aja udah kenyang
Devan : Di habiskan ya! besok kita beli lagi lebih banyak, ok?
Me? : E-ehh ga usah, ini aja kebanyakan buat aku sama Mita
Devan : Ya sudah terserah kamu, semangat kerja nya! Nanti sore aku jemput**.
Percakapan berakhir, aku hanya tersenyum kecil ketika membaca ulang pesan singkat itu. Dan ternyata Mita sembari tadi telah memperhatikan wajahku.
"Ekhemmm" ia berdehem untuk menyadarkan ku yang merasa bahwa saat ini hanya diriku seorang.
"Hehehe" aku tersenyum tanpa dosa sembari melihat wadah nasi goreng milik ku yang telah kosong, habis tak bersisa.
"Dua-duanya, enak banget sama kebetulan lagi lapar, hehehe" kali ini bergantian ia yang nyengir kuda tanpa dosa.
"Oh ya udah, besok aku bawain lagi. By the way aku hari ini ga bawa mobil Mit, nanti sore pulang naik taksi bisa?"
"Ok, santai aja. Eh iya, gimana ceritanya kamu sama dia? ingat masih berhutang penjelasan lho!!" ucapnya kembali bersemangat.
"Iya iya sabar, jadi ceritanya tuh gini. Aku sama dia itu udah lama temenan, terus ya lanjut berhubungan gitu. Nah pas perpisahan sekolah itu aku dan dia terakhir kali ketemu karena setelah itu aku ga tinggal di sini, tapi tinggal di luar negeri kan? Lalu, akhirnya setelah 8 tahun kemudian kami di pertemukan lagi di tempat ini, dan aku baru tahu dia itu kakaknya Edwin dan yah begitulah" ucapku bercerita dengan panjang lebar kali tinggi.
"Oh gitu, terus yang malam kemarin? kalian ngedate? OMAYGATTTT" sahut nya histeris, padahal jelas-jelas aku belum mengiyakan pernyataannya.
Aku hanya mengangguk saja tanda setuju. Kemudian Mita mendekat dan memegang kedua lenganku sembari menggoyangkan tubuhku karena masih tidak percaya.
"OMAYGATTTT??? SERIUSAN? TERUS GIMANA? DIA NGELAMAR KAMU GA?" ucapnya dengan nafas memburu karena terlalu excited dan bersemangat dengan api yang berkobar-kobar.
"Iya Mit, aduh pusing. Belum di lamar ko, kemarin malam cuma makan malam biasa terus tuh udah gitu doang"
"Bohong? serius lho yang bener? coba tatap mata aku!" titahnya kemudian menatap mataku berusaha mencari kebohongan yang ada.
"Ehh iya ya, padahal aku kira kamu udah di lamar kan gitu seru, bisa makan rendang" ucapnya lesu sembari menggenggam tangan melihat dan mencari cincin yang mungkin tersemat di jari manis ku.
"Ya Allah Mita? mau makan rendang nunggu aku nikahan gitu? jadi kamu makan rendang sekali seumur hidup dong, kan aku nikahnya cuma sekali"
"Tau gitu besok aku bawain rendang aja deh. Daripada kamu nungguin aku nikahan yang belum pasti kapan bakal terjadi kan?" timpal ku
"E-ehh jangan dong! udah aku cuma bercanda apasii ko di bawa serius. Aku cuma pengen kamu cepat-cepat menikah dan juga yang pasti kamu bahagia kan kalau sama dia?"
"Tentu sa----"
Bukkk! tshhhhh
Belum selesai ku menjawab pertanyaan Mita, kami berdua di kejutkan dengan suara benda terjatuh tepat di depan pintu.
"E-EDWIN?!"
"Ehh, maaf bu. Ini saya mau nganterin minuman dari Pak Ikko"
Aku mendekat dan melihat apa yang terjadi. Ternyata Edwin dan teman nya menjatuhkan sebotol ice coklat.
"Lain kali lebih hati-hati, sekarang tolong di bereskan ya!" aku memberi arahan kemudian menatap Edwin yang tak kunjung bergerak.
"Hey? Edwin?" aku melambaikan tanganku tepat di depan wajahnya.
Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!
Ig : @_fadhz
Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!