Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Dia?



Aku segera kembali ke dalam mobil, aku tidak ingin telat hari ini, aku harus tepat waktu! itu pikirku.


Melirik jam tangan yang terpasang di lengan ku, 06:55 aku memacu dengan cepat kendaraan roda empat ini. 5 menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.


Sebagai guru BK yang baik dan rajin, aku seharusnya datang di jam lebih pagi daripada murid-murid. Sial! sial! sial! gara-gara kejadian kemarin aku menjadi banyak tertimpa kesialan.


Aku segera memasuki area sekolah, beberapa siswa dan siswi berlarian untuk berebut masuk ke dalam sekolah. Untung saja aku tepat waktu.


Setelah merapikan penampilan ku, ku langkahkan kaki ku dengan pelan. Semangat! ucapku membatin menyemangati diri sendiri.


Aku memasuki ruangan ber-AC itu, tempat ku bekerja, setelah mendata kehadiran diri, aku ikut duduk di samping Mita yang sedari tadi telah menunggu ku.


"Wajah kamu kenapa kusut? ada masalah?" tanyanya heran sembari memperhatikan wajahku


"Ngga" jawabku singkat, aku sedang berantakan, tidak ingin membagi beban kepada orang lain.


"Iiii kamu mah gitu, kalau ada masalah tuh sini cerita, gaa usah di tanggung sendirian" ucapnya kesal sembari menatapku dengan tatapan seperti anak kecil yang sedang merajuk memaksa sesuatu.


"Iya, handphone ku hilang" ucapku terpaksa sembari memainkan pena


"HAHHHH???!!!" Mita berteriak sembari menggebrak meja yang membuatku terkejut


"Ishh, ngagetin aja! biasa aja kali!" aku menatapnya kesal sembari melipat kedua tanganku di dada


"Mana bisa biasa aja! ini tuh gawat! pantesan tadi malam nomor kamu ga aktif, aku tuh pengen curhat!!!" ucapnya memelas


"Ya nanti temenin aku ganti baru deh"


"HAHHHH?!!!" lagi-lagi ia terkejut menatapku


"Duit dari mana Flowie Andrela??!! kamu mau minjam uang sama Bu Wati? belum ada sebulan lho kamu kerja? dari mana duit??!!!" sambungnya makin terheran-heran


"Udah diam aja, tinggal ikut susah amat!"


Di saat kami sedang ribut dengan masalah yang sangat unfaedah, Pak Deni sang penjaga sekolah datang dan masuk ke dalam ruangan.


"Ada apa Pak Den?" tanya Mita ramah


"Ini neng, anak yang bolos kemarin udah di tangkap, tadi baru aja mau bolos lagi" ucapnya memberi keterangan


"Oh gitu ya pak, lewat mana dia bolos?"


"Itu neng, manjat dinding batas belakang, bareng teman-temannya yang lain"


"Ya udah pak bawa masuk aja"


Aku hanya diam memperhatikan dua manusia yang sedang berbicara di depanku sembari memperhatikan apa yang akan terjadi


"Ini neng, saya tinggal ya mau jaga depan"


Ku lihat bapak penjaga sekolah yang di kenal dengan sebutan Pak Den itu pergi meninggalkan ruangan. Menyisakan kami bertujuh.


Aku, Mita dan 5 siswa yang berdiri menunduk di hadapan kami. Mita mendekat dan berbisik kepada ku


"Bantu urus ya? ini anaknya bandel-bandel! aku ga sanggup!" ucapnya memohon kepadaku.


Aku memutar bola dengan malas, bangkit dari dudukku dan memperhatikan satu persatu siswa di hadapan ku, semuanya menunduk. Aku berjalan pelan dengan arah bolak balik.


"Mereka kelas berapa, Mita?" tanyaku pelan sembari menatap sinis


Belum sempat Mita menjawab pertanyaan ku, salah satu murid menjawab sembari menunjukkan wajahnya.


Aku berbalik badan menghadap ke arahnya dan ...


"Iya? kenal saya?" ucapnya menatapku menantang


Aku menguasai diriku untuk tetap tenang, aku harus berbeda, ini di tempat bekerja aku harus menjaga image di depan murid-murid ini.


"Ekhmm, jadi kalian ini buronan? masih kecil sudah jadi seperti ini, besarnya bagaimana?" aku memberikan pertanyaan yang cukup aneh, aku kurang bisa bila tentang ini


"Mau jadi presiden si Bu" pemuda ini masih saja bisa melawak


"Saya tidak bertanya cita-cita kamu!"


"Tapi Ibu nanya besarnya bagaimana? jadi saya besarnya bagai Presiden bu" ucapnya menantang dan membuat seluruh murid di sana tertawa


"Cukup!" aku berteriak dan bangkit dari dudukku


"Kalian berlima bolos sekolah dan saya berikan hukuman! lari keliling lapangan 5× sekarang!"


"Akhh... guru barunya ga asik!" ia kembali berucap sembari berjalan keluar


"Eitss! kamu tetap di sini!"


"Lah, tadi katanya berlima, ko saya ngga?"


"Saya akan memberikan hukuman yang lebih berat untuk kamu! Mita, data diri mereka dan awasi mereka berempat!"


"Ok!" Mita pergi mengambil buku hitam dan mengabsen satu persatu siswa yang bermasalah dan menggiring mereka ke lapangan


"Bu, nama saya Edwin Aditama kelas XII IPA 3!" ucapnya percaya diri memperkenalkan dirinya


"Saya tidak perduli!" aku berusaha untuk tetap tenang dan sabar menghadapi pemuda gila di hadapan ku ini


"Bu, ibu ga nyuruh saya duduk gitu? cape bu berdiri terus" ia duduk di hadapan ku


"Diam! tetap berdiri dan jangan ganggu saya!"


"Ya udah deh" alih-alih duduk, ia malah kembali duduk di sampingku, membuatku terkejut


"Ga sopan! berdiri atau saya panggil orang tua kamu!"


"Panggil saja, ga perduli" ucapnya enteng


"Oh, berani ya kamu!" aku menjewer telinganya dan menariknya hingga ke tengah lapangan


"Diam di sini hingga istirahat!" aku menyuruhnya untuk berdiri menghadap tiang bendera. Aku sangat kesal dengan dirinya, berani sekali!


Aku kembali ke ruangan dan melihat Mita yang duduk di sana.


"Gimana? enak ngga di ganggu dia?" Mita menggoda ku


"Biasa aja"


"Dia itu yang sering aku ceritain, nakal, bandel, caper, dan bikin kesal banget deh!"


Aku hanya menghembuskan nafas dengan pelan, baru kali ini ku temui manusia yang membuat hidupku menjadi terusik.


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!