
Ternyata, walaupun Flowie telah berusaha memejamkan matanya, ia tetap tidak bisa tertidur. Ia kesal mengapa harus terjebak di situasi seperti ini?
Sudah 20 menit ia berada di situasi ini dan belum ada pergerakan sama sekali. Hanya deru nafasnya yang ia tahan sedikit.
Entah mengapa ketakutan nya membuat dirinya menjadi menahan nafas dan rasanya seperti tercekat dan sesak.
Ia bisa mati bila berada di posisi seperti ini. Kemudian sedikit sedikit ia menyakinkan diri untuk menggerakkan tubuhnya perlahan.
Tanpa membuka matanya, ia menyembulkan kepalanya dari selimut yang membuatnya sesak. Ia masih terheran dengan Mita yang sama sekali tidak terganggu dengan keadaan malam ini.
Tok tok tok!
'Bunyi ketukan? Huuaaaaaa'
Ia menjerit di dalam hati, ketakutannya semakin bertambah sehingga membuatnya dengan cepat mengambil handphone miliknya dan mulai menghubungi Devan.
Dengan tangan gemetar dan keringat dingin yang bercucuran kembali ia dengar bunyi ketukan di pintu depan.
'Plissss Vann, angkat dong. Aku takutt, aku butuh kamuuu' teriaknya dalam hati.
Kedua bola matanya telah berkaca-kaca, nampak air matanya telah menggenang di pelupuk mata dan siap untuk terjun bebas.
"Halo?" suara Devan di sebrang telpon
"Vann... tolongg... a-aku... takuttttt Vannn.... Huaaaaaaa" tangisnya pecah ketika mendengar suara pria yang ia cintai.
Ia tidak kuat lagi untuk saat ini, ketakutan nya kembali membuncah tatkala kakinya terasa dingin seperti tertiup oleh angin.
"Ok, tenang dulu ya. Aku segera ke sana. Kamu jangan kemana-mana ok? tetap di tempat, tunggu aku 5 menit lagi" ujar Devan berusaha menenangkan.
"Jangan... di patiin vann... aku takutt bangett" Dengan nada bergetar ia berusaha menahan isakannya saat ini.
"Oke, tunggu aku"
Setelah menelfon dan sedikit tenang, Flowie berusaha membangunkan Mita yang masih terlelap dengan damainya.
Bahkan ia sama sekali tidak merasa terusik ketika Flowie sedikit mengguncang tubuhnya.
'Kamu tidur apa mati sih Mit? kesal banget!' geramnya tak bersuara.
"Halo? Flo aku udah di depan ini" suara Devan kembali muncul setelah tidak terdengar beberapa saat.
"Buka aja Van pagarnya... aku takut keluar kamarrr, gimana ini?? Huaaaaa" Flowie kembali menangis, bingung harus berbuat apa.
Terlebih ruang tamu yang benar-benar gelap pastinya saat ini. Apalagi Mita tak kunjung bangun meskipun kalau kebakaran terjadi saat ini.
"Ya udah, tunggu ya. Nanti aku usaha buat kamu keluar ok? tenang ya jangan panik"
"Iya, ini aku udah di halaman. Jadi mau keluar tidak?" Devan mengalihkan telfon menjadi video call sembari mengarahkan kamera ke depan pintu rumah Flowie.
"Ga mau, aku takut Vann... ruang tamunya gelap bangett!!" Ia menggeleng sembari menangis kembali.
"Terus bagaimana? ayo gapapa keluar kamar dulu ya pakai senter, pelan-pelan aja. Aku nunggu lho ini di depan pintu, aku gada kunci gimana mau masuk?" Devan berusaha memberi penjelasan dengan sabar
"Tapi...."
"Ayo coba dulu, kita cuma terpisah ruang tamu"
"Kuncinya aku ga nemu Van... ada di atas nakas tapi gada" ucapnya khawatir kembali.
"Pelan-pelan, coba arahin ke setiap sudut ruangan dan meja-meja" arahan Devan di ikuti oleh Flowie yang masih sesegukan.
"Kamu sama siapa di kamar? kok itu ada yang tidur di kasur kamu?" heran Devan ketika kamera Flowie mengarah kepada sosok yang terbungkus selimut.
"I-ituu Mita..."
"Oh, kenapa ga di bangunin?" alihnya agar Flowie tidak takut seperti tadi.
"Dia ga mau bangun, dari tadi"
Seperti nya Flowie terlihat lebih tenang dan mulai terbiasa dengan kegelapan, meskipun ia masih sedikit takut dan parno dengan sekitarnya.
"Ketemu Vann... terus gimana?" beo nya
"Ya udah keluar kamar ya pelan-pelan, terus ke pintu depan, ok? Semangat! ada aku di depan pintu menunggu kamu"
"Hufttt... semangat Flowie!"
Devan berusaha menahan tawanya melihat mimik wajah Flowie saat ini. Terlihat Flowie telah keluar dari kamar dan berlari terbirit-birit menuju pintu utama.
Crekk, crekkk!
Ceklekk!!!
"Devv...."
Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!
Ig : @_fadhz
Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!