Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Keinginannya



"Aku ... ingin.... "


Ucapannya menggantung, membuat ku semakin takut. Aku menunggu dengan wajah serius dan perasaan yang campur aduk.


Takut, khawatir, was-was dan juga tidak sabaran. Ia seperti sengaja membuatku menjadi kesal.


"Aku, ingin... hal ini di percepat, tidak bisa di tunda lagi. Aku ingin melihatmu menikah dengan pria pilihan ku. Umurku sudah tidak panjang lagi. Aku takut ... aku takutt ..." Pembicaraan itu membuatku terkejut.


Ia semakin mengecilkan nada bicaranya. Ia terisak secara tiba-tiba, membuatku terkejut dan bingung harus apa. Aku terdiam membisu, membiarkan nya untuk selesai berbicara tanpa memotong pembicaraan nya.


"Aku takut... tidak bisa menikah kan mu sesuai dengan perjanjian dengan ayah mu, aku takut kau salah memilih pendamping hidup Floo" mata nya mulai berkaca-kaca


Kedua mata ku pun ikut berkaca-kaca, untung Pak Andra keluar. Ia tahu batasan dan privasi kami. Aku menjadi sedih melihatnya seperti ini, tapi aku juga tidak ingin menjalani pernikahan dengan rasa keterpaksaan.


"Beri aku waktu, tolong beri aku waktu!"


"Sampai kapan? sampai aku menghembuskan nafas terakhir baru kau akan menerimanya? turuti keinginan ku dan ayah mu Floo!"


"Aku tahu! tapi aku tidak bisa menerima ini semua dengan keterpaksaan! apa kau tidak berpikir bagaimana perasaan ku berusaha untuk menerima pria lain sedangkan aku mencintai pria lain?!!!" aku berteriak.


Aku berusaha untuk tidak menangis, tapi bohong rasanya jika aku tidak sedih dan merasa terluka. Mengapa ia begitu egois?! Aku tidak ingin ini terjadi.


Menangis terisak, aku tidak bisa mengendalikan emosi yang ada pada diri ku. Semua terjadi begitu saja, aku pergi keluar untuk menghindari perdebatan dan tidak ingin memperkeruh suasana.


Aku takut, hal yang selama ini aku takutkan akan terjadi. Aku tidak mau kehilangan diri nya, tidak! cukup saat itu saja! tidak untuk kali ini.


Berjalan menyusuri jalanan kota tanpa tujuan ternyata cukup membuatku lelah. Namun sejurus kemudian aku teringat suatu tempat yang tidak jauh dari rumah sakit.


Aku memutar arah tujuanku, aku sudah terlewat cukup jauh. Aku akan pergi ke danau itu, tempat dimana aku bisa menenangkan diri ku saat ini.


Hati ku cukup hancur mendengar keputusannya, aku mungkin tidak bisa menolak keputusannya yang lalu, tapi untuk kali ini? aku akan berjuang demi kebahagiaan ku!


Cukup sekali saja, cukup kali itu saja aku mengecewakan hatinya, maka untuk kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Aku menghirup udara yang ada di sana dengan rakus. Aku merasa cukup puas telah mengutarakan keinginan ku. Akhirnya, ganjalan hati ku selama ini membuat ku merasa cukup lega.


Kembali teringat dengan kejadian kala itu, aku menjadi sedikit tersenyum mengingat seberapa emosinya aku saat itu.


Ya, aku teringat bahwa Edwin telah menyelamatkan diri ku saat tenggelam di danau dan itu cukup membuatku menjadi sedikit terhibur.


Teringat diri nya, aku menjadi sedikit rindu pada nya. Akhhh .. apa yang aku pikirkan? mencintai kakak nya, merindukan adik nya? bodoh!


Namun, sikapnya pada ku saat itu sangat berbanding terbalik dengan sikap nya pada Devan.


Aku juga tidak menyangka bahwa ia adalah adik dari mantan kekasih ku saat pertama bertemu nya di SMA.


Mungkin efek karena aku tidak pernah kembali bermain ke rumah Devan sejak aku memutuskan untuk pergi melanjutkan pendidikan. Tapi ia memang berubah, saat itu aku melihatnya entah kelas berapa saat itu tapi aku mengingat nya saat itu masih sangat kecil.


Aku menyayangi nya seperti menyayangi adikku sendiri, tapi kini wajah nya telah berubah, tidak selugu dan sepolos dulu.


"Hai bu cantik!"


Suara itu? aku menengok ke belakang, mencari tahu apa benar itu suara orang itu. Dan ternyata benar, lagi-lagi Edwin!


"Ibu kenapa? sedih?" mulut nya kembali berucap, tidak pernah lelah untuk berbicara


"Ya, sedang mencari ketenangan"


"Oh, pantas saja tadi tidak masuk"


"Ya, kamu kenapa di sini? bolos lagi?!!" amarah ku mulai naik ke ubun-ubun, aku menjadi kesal melihat tingkah nya yang tidak berubah.


"Ya soalnya tidak ada ibu, malas sekolah"


"Kamu ini, masih kecil sudah nakal! kasian kedua orang tua mu Edwin! apalagi kakak mu pasti sangat lelah mengurus mu!"


"Mereka tidak pernah mengurusku."


Degggg!


Perkataan Edwin sangat menyucuk hati ku, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di kehidupan nya.


Mungkin benar kata orang, seseorang berubah karena keadaan dan lingkungan tempat tinggalnya.


Hati ku nyeri mendengar perkataannya, kemudian aku menatap wajah nya yang mengarah ke danau yang tenang. Bisa ku tangkap ada perasaan sedih yang terpancar di kedua bola matanya.


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!