
"Iya bu? kenapa teriak? saya salah?"
"Edwin, jangan menggangu ku, ini di sekolah. Lebih baik kamu masuk ke kelas sekarang!"
"T-tapi bu..."
"Win, ayo! Bu Flowie lagi mode galak, ntar habis kita di telan dia" bisik Ridho sembari menarik lengan Edwin.
Mereka berdua pergi, Flowie bernafas dengan lega. Ia juga tidak ingin seperti ini, tapi biarlah dahulu. Ia juga sedang berusaha memperbaiki hubungan nya dengan Devan.
Ting!
**Devan : Aku berangkat kerja Flo, nanti sore aku jemput.
Me? : Untuk apa? nanti sore aku bisa pulang sendiri.
Devan : No! aku akan mengantarmu pulang, mulai besok kau, aku antar jemput paham?
Me? : Tidak perlu repot-repot Devan, aku ingin mengantar temanku pulang juga.
Devan : Jangan membantahku Flo! Jangan berusaha menghindarinya, karena itu takkan pernah bisa. Aku akan mendapatkan mu kembali.
Me? Ya terserah mu saja**.
Percakapan berakhir, entah sejak kapan Devan menjadi sangat pemaksa. Flowie hanya bisa menghembuskan nafas nya kasar.
'Apa yang membuat mu berubah? akhh aku tidak boleh salah sangka, mungkin ia memang tidak mau aku membantah nya' batin nya.
***
Jam istirahat telah sampai. Semua murid berhamburan menuju kantin. Begitu juga dengan Edwin, ia segera berlari meninggalkan Ridho yang ada jauh di belakang nya.
'Bila kau menjauhi ku, maka aku akan mendekati mu!'
Dengan secepat kilat Edwin berlari memecah kerumunan, seperti anak kecil yang sedang mengejar hewan peliharaan nya.
"Bu... mie ayam satu ya!"
"Ya, tunggu dulu"
"Huhhh hahhh huhhh, cepet banget lu lari nya. Kenapa si?"
"Kepo, diem aja lu!"
"Lah, ngapa si?"
Edwin tidak membalas perkataan Ridho, dia hanya fokus pada misi nya kali ini. Ia harus berhasil mendapatkan hati nya
"Nih... totalnya 10 ribu"
"Ini ya bu, sama air di sana sebotol" ucapnya sembari menyerahkan uang 15 ribu
"Woy tungguin win!!" teriak Ridho kesal, ia baru sampai di tinggal pula.
Edwin kembali berlari menuju ruangan, ia masuk tanpa mengetuknya kembali. Membuat orang-orang yang ada di sana menjadi terkejut.
"Edwin!!"
"Iya bu? kenapa? kangen ya?"
"Udah bu jangan marah-marah, nih mie ayam buat ibu, biar semangat kerjanya"
"Ya terimakasih"
"Tumben bu nerima? biasa nya di lempar" canda nya berusaha menggoda Flowie
"Ya sudah saya mau lempar ini dulu ya" ucap Flowie dingin
"Ya Allah bu, becanda. Di makan bu, sayang banget kalau di buang. Saya udah cape-cape beli"
"Ya, diam lah"
Edwin terdiam, melihat gerak gerik Ibu Guru galak di depannya ini. Ia harus cukup sabar untuk menunggu nya.
"Bu, bagaimana besok sore kita pulang bersama?" tanya nya penuh harap
"Maaf, saya tidak bisa"
"Ayo lah bu, sekali saja. Besok-besok tidak lagi, mau ya? ya ya ya? pliss bu"
"Maaf Edwin, aku sudah ada janji dengan Devan"
Degggg!
Edwin kembali terdiam, tatapannya kosong. Hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu. Untung saja tidak ada Mita.
"O-ohh, begitu... ya sudah bu, di habiskan. Saya pergi dulu" Edwin keluar dengan lesu.
Ia berjalan perlahan dan duduk di halaman depan kelas. Ridho menghampiri nya sembari membawa sebungkus makanan miliknya.
Ridho menaruhnya sembarangan, kemudian mulai makan di samping Edwin.
"Kenapa lagi?"
"Ga papa" ucapnya berusaha untuk tersenyum di depan Ridho sembari mengambil donat milik temannya itu
"Yaelah, kalau masih lapar itu ngomong, bukan nangis. Masih kaya bocah aja ya lu nih" ucap Ridho kembali kesal dengan nada bercanda
"Ya habis, duit gw udah habis. Nangis dulu biar dapat makanan, lumayan kan gratis"
Plakk!!
Ridho menggeplak kepala Edwin, menurut nya bodoh sekali anak ini. Lapar ko nangis, sudah benar-benar seperti anak kecil.
"Ribet banget ya hidup lu? minta tambahan uang jajan aja sama kakak lu, gampang" ucap Ridho enteng
"Ya, gampang" ucapnya sembari tersenyum getir
Bel sekolah kembali berbunyi, tanda pelajaran akan kembali di mulai. Kedua nya masuk ke dalam kelas setelah menghabiskan makanannya.
Tanpa di sadari, ada sepasang mata yang melihat kejadian tersebut dari awal. Sebuah perasaan bersalah kembali menghinggapi hati nya.
Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!
Ig : @_fadhz
Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!