Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Peringatan



"Flowie? begini kah caramu menyembunyikan ini semua dari ku?!"


Aku memejamkan mata, Devan yang masih bingung tak mengerti dengan apa yang terjadi hanya diam berdiri di sebelah ku.


"Kalian berdua, kemari!"


Devan melangkah kan kakinya lebih dulu di depanku, perlakuan nya seperti ingin melindungi ku. Aku terharu dan cukup tersentuh.


"Duduk!" titahnya tegas dengan raut wajah menyeramkan seperti karakter Disney The Beast, hehe.


Kami berdua duduk di hadapan nya, aku tidak berani melihat ke arah kakek, karena saat ini benar-benar di luar dugaan.


Perasaan ku sangat campur aduk, aku meremas seragam dinas ku. Sialan! pasti ini ulahnya bujang lapuk itu!


Aku sedikit melirik dan melihat ekspresi wajah asisten pria tua itu, dan ternyata benar, wajahnya seperti mengejek dan tersenyum puas, memang bujang lapuk tak tahu di untung!!!!


"Kamu siapa, ada hubungan apa kamu dengan Flowie?!" Kakek tampak diam memperhatikan segala gerak gerik kami.


"Saya kekasihnya!"


Jawaban Devan membuatku terkejut dan terperangah, apa maksud nya ini? bukan kah kita sudah putus?


Aku sedikit menyikut lengan nya, memberi kode bahwa jawaban nya itu akan membuatnya masuk ke dalam perangkap harimau.


"Apa benar? jawaban mu terlihat sangat meragukan" kakek menjawab dengan nada seperti mengejek dan menantang.


Sepertinya saat ini sangat tidak aman, memang benar-benar situasi yang buruk, bisa bisa terlambat bekerja atau absen aku!


"Bukti apa yang harus saya tunjukkan agar dapat menyakinkan anda?" Devan menjawab dengan begitu tenang.


Apakah dia memang sudah berlatih dan berencana untuk melamar ku? astaghfirullah ini sangat seru!


"Kek, ayolah, nanti kami bisa terlambat bekerja!"


"Nona, tolong diam, tuan sedang berbicara!" Bujang lapuk itu ikut-ikutan berbicara rupanya.


Dengan tatapan nya yang tajam dan menusuk, kakek memelototi diriku membuatku menelan saliva dengan susah.


"Lamar dia dalam waktu dekat, saya beri kamu waktu 3 minggu. Lebih dari itu, kamu harus melepaskan nya untuk pria lain!"


"Baik, akan saya penuhi!" Devan menjawab nya dengan mantap dan penuh keyakinan.


"Flowie, apa kamu bahagia bersama nya?"


"Tentu saja!" jawabku bersemangat


Bujang lapuk itu segera pergi keluar entah apa yang ia lakukan aku tidak perduli.


"Apa jaminan mu bisa membahagiakan cucu kesayangan ku?!"


Inilah yang ku takutkan, kakek ku sangat perhitungan bila menyangkut soal uang.


"Saya tidak bisa berjanji bahwa saya akan selalu bersama nya, tapi di saat saya masih bersamanya, akan saya usahakan ia selalu bahagia. Memang tidak selalu dengan materi, tetapi kebahagiaan bisa saya berikan dan dia dapatkan dengan hal-hal sederhana yang bisa membuat dirinya merasa penting dan nyaman."


Bravo!


"Jadi, bisa kah anda memberikan saya sedikit kesempatan untuk menjaga dan membahagiakan nya?" Devan bertanya dengan serius, membuat hati ku bergetar.


"Jika kamu bisa, lakukanlah. Tetapi jika kamu tidak bisa memenuhi ucapan mu, kembalikan ia dengan utuh dan mulus seperti saya menyerahkan diri nya kepada mu."


"Kekkkk...."


"Diam Flo! kakek hanya mengujinya sementara, bila ia tidak bisa membahagiakan mu, akan ku habiskan dia dengan tangan ku sendiri." Tatapan kakek sangat tajam.


Aku yang tadi sudah terharu dan terasa seperti disetujui hubungan ini mendadak lemas tak bertulang. Ternyata tidak semudah itu menyakinkan kakek.


"Sudah, kakek ingin pulang saja"


"Apa kakek tidak ingin sarapan dahulu?"


"Memangnya kau membuat sarapan apa?"


"Mmm... telur balado" aku hanya menggaruk tekuk leher ku yang tiba-tiba gatal, entah kakek pernah mencoba makanan itu atau tidak.


"Ya, terserah. Andra! kemari lah, kita makan terlebih dahulu" Kakek berteriak memanggil asistennya.


Kami berempat menuju meja makan. Aku menjadi bingung, tetapi aku memilih melayani kakek terlebih dahulu kemudian Devan.


"Jangan berharap di layani Andra! ia cucu ku!" Tiba-tiba kakek berbicara, aku langsung menatap bujang lapuk itu.


Ternyata ia menunggu, entah menunggu apa. Tetapi ia hanya diam tak bersuara dan raut wajahnya tampak serius dan dingin.


Kami menikmati makanan dalam diam, aku merasa tidak enak dengan kakek karena menu sarapan nya hanya lah sebuah telur balado.


"Apa enak? kalau tidak aku akan membuatkan menu lain" aku bertanya dengan hati-hati, takut mengganggu aktivitas nya, kakek itu sangat sensi!


"Cukup!" ucapnya tegas, kemudian menghabiskan makanannya.


"Andra, ayo cepat. Aku ingin segera pulang" Kakek berdiri kemudian segera pergi ke depan rumah meninggalkan kami.


"Saya permisi"


Akhirnya, bujang lapuk itu pergi juga, hati ku sangat lega. Sejurus kemudian aku pergi ikut keluar, karena tidak enak membiarkan tamu pergi tanpa di antar.


"Hati-hati kek, jangan sering-sering kemari ya!"


"Flowie? apa maksud ucapan mu itu huhh?" kakek menatapku dengan tajam


"Hehe, becanda. Sensi amat. Maksudnya lain kali kalau ke sini ngomong dulu, biar makanannya ga terlalu sederhana, kakek kan tidak biasa makan makanan itu"


"Ya, kau pikir aku apa? aku ini juga manusia!"


"Ye, hati-hati bawa pak tua ini, awas kau!" aku mengancam bujang lapuk itu, ia hanya mengangguk dan mobil itu mulai hilang dari penglihatan ku.


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!