Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- K-kamu?



"Kamu ini, sudah! saya ingin kamu panggil orang tua kamu, saya tidak mau tahu alasan apapun! besok orang tua kamu harus hadir menghadap saya! mengerti?!"


"Iya bu, jangan suka marah, nanti cepat tua. Kalau cepat tua gada yang mau sama ibu. Tapi kalau saya tetap mau si bu, hehe"


"Ngga lucu!"


"Lah, emang siapa yang ketawa?"


"Akhh! sudah kamu bawa surat ini dan berikan ke orang tua mu!"


"Masa orang tua saya di kasih surat, tapi saya ngga? akhh ibu mah ga adil!"


"Kamu ini ya? kamu mau saya kasih surat? ini saya buatkan! khusus untuk kamu!" Aku tersenyum dengan ekspresi kesal yang masih menempel erat di wajahku


Aku mulai menulis beberapa kata di atas kertas itu dan melipat nya menjadi lipatan kecil hingga tidak bisa terlipat lagi.


"Ini, sudah pergi sana!"


"Nah gitu dong bu, makasii ya bu, jangan lupa makan ya, nanti sakit saya sedih lho bu!" teriaknya pergi dari ruanganku


Aku memijat pelipis ku, kepalaku menjadi pusing mendengar gombalan mautnya. Anak seperti itu sudah pasti mempunyai kekasih. Bila aku menjadi kekasih nya, sudah pasti aku tidak tahan bila harus mendengarkan ocehan dan gombalan mautnya setiap hari!


...*****...


Edwin POV!


Aku melangkah pergi ke kelas, ucapara telah selesai sejak tadi. Lumayan tidak panas-panasan di lapangan.


Langkahku ringan sekali, sembari bersenandung kecil, aku segera masuk dan duduk di dalam kelas. Aku tidak sabar ingin membuka kertas dari pujaan hatiku. Haha


Lipatan nya cukup kecil sekali, aku menjadi bingung harus bagaimana, membuatku harus berkonsentrasi. Lama-lama lipatan itu terbuka dan aku mulai membaca kata demi kata yang ia rangkai menjadi sebuah kalimat.


Hei bocah! masih kecil jangan suka gombal! apalagi gombalin orang yang lebih tua! lebih baik gombalin saja pacarmu itu, aku muak harus mendengar gombalan mautmu!


Aku tersenyum kecil membacanya. Ia memanggil ku bocah? dasar ibu itu, untung aku sayang.


Ridho menghampiri ku dan duduk di sebelah ku sembari memberikan sesuatu.


"Nih" ia memberikan sepucuk surat dan sebuah kotak panjang berwarna merah.


"Lagi?" ia hanya mengangguk malas


Aku membukanya kembali, sudah beberapa hari ini ada seseorang yang memberikan ku sepucuk surat dan beberapa camilan sebagai penyemangat tulisnya.


Terheran-heran dengan tingkah manusia yang menurutku cukup kurang kerjaan ini, selalu menulis surat, memberikan hadiah maupun menawarkan diri menjadi kekasih ku.


Aku geli dan risih dengan tingkah laku perempuan di sini, kebanyakan mengejar daripada di kejar, sungguh terbalik daripada seharusnya.


Aku membaca kembali sepucuk surat tersebut dan merobeknya. Kemudian memberikan hadiah tersebut kepada Ridho yang sudah pasti isinya adalah susu atau coklat.


Pelajaran di mulai, hari ini aku terlalu malas untuk belajar Matematika dan biologi. Jadi aku lebih memilih untuk tidur.


Sepanjang pelajaran, Ridho mengawasi gerak gerik Ibu Sari yang mengajar biologi. Ridho akan memberitahu ku jika Bu Sari telah sadar akan kelakuan ku.


Edwin POV end.


...*****...


Aku bergegas menuju ke ruanganku dengan langkah cepat, tapi aku berusaha untuk tenang menghadapi nya. Takut takut, orang tersebut keras kepala dan tidak bisa di beri pengertian dan penjelasan.


Aku membuka pintu dengan perlahan, entah mengapa perasaan ku menjadi tidak enak saat ruangan ini sudah semakin dekat.


Dan...


Aku terpaku. Terdiam dan tubuhku terasa kaku. Tidak bisa untuk ku gerakkan.


Mata itu ...


Tidak mungkin!


Bukan, pasti bukan dia!


Sadar! itu bukan dia! itu mimpi!


Bangun dari mimpi mu! itu bukan dia!


Plakk!


Aku menampar pipiku, dan terasa teramat sakit. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Itu memang dia.


Seketika kaki ku menjadi lemas mengingatnya. Tubuhku sedikit limbung, ia bergerak untuk mendekat. Aku menahan tubuhku untuk tidak terjatuh dan menjauh kan diri dari usaha nya untuk menggapai ku.


"Maaf, apa kau tidak apa-apa?"


Aku merasa ingin menangis mendengar suaranya. Aku menduduki diriku di kursi dan ia menyusul duduk di hadapanku.


Mita memberikan ku segelas air putih dan memijat pundak ku. Aku menjadi pusing dan sedikit mual. Namun aku harus berusaha untuk kuat di hadapan nya! aku tidak boleh lemah!


"Ada apa anda memanggil saya selaku wali murid dari Edwin Aditama?"


"Ekhmm, jadi begini, maaf anda siapa nya bila boleh tau?"


"Saya kakaknya, Devan Aditama"


"Baik, begini... Adik anda telah membuat cukup banyak masalah dan ini membuat kami selaku guru bimbingan konseling merasa cukup dengan tingkah lakunya. Bisa anda lihat di catatan ini" Aku berusaha untuk setenang mungkin meskipun harus menahan rasa sesak di dada.


"Baiklah, jadi apa keinginan anda selaku guru bimbingan konseling ini?"


"Saya ingin memberinya kesempatan 3× untuk masalah yang ia perbuat, namun bila ia kembali membuat onar lebih dari 3× maka maaf sesuai peraturan sekolah ini, kami akan mengeluarkan nya. Jadi saya mohon untuk anda nasehati adik anda agar menjadi sedikit lebih baik. Karena hal itu sangat di sayangkan melihat bahwa sebentar lagi ananda akan lulus."


Ia terdiam memperhatikan dan menimbang nimbang ucapanku. Aku menatapnya, mataku cukup berembun. Aku mengalihkan pandanganku untuk tidak terlihat lemah di depannya.


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!