
Aku terbangun tatkala mendengar suara ketukan pintu yang membuatku sedikit terkejut.
Mengintip sedikit untuk melihat seseorang yang ada di balik pintu. Namun tidak ada, aku menjadi sedikit merinding. Bulu kudukku terasa berdiri, aku segera mengelus kedua lenganku.
Ku lirik sedikit jam yang menggantung tak jauh dari tempatku berdiri, pukul 01:05 dini hari?!
'Oh Tuhan, apa-apaan ini?!' gumam ku takut sembari berlari menuju kamar, ternyata sepulang ku dari sekolah, aku ketiduran hingga terbangun tadi.
'Apa tadi? aku pasti tidak bermimpi kan?!'
Aku mencubit sedikit pipiku, dan ini nyata! Ku hempaskan tubuhku dan berusaha memejamkan mata.
Tidak ingin membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, aku memilih diam mengurung diri di kamar.
Aku baru saja pindah ke rumah ini kemarin, aku belum kenal tetangga di sekitar sini. Aku terlalu malass untuk berkenalan.
'Harus mulai dari awal lagi ya?' keluh ku memegang kepala ku yang mulai berdenyut. Aku memejamkan mata berusaha untuk mengabaikan perihal tadi.
***
Pagi menjelang, membuatku terpaksa bangun, setidaknya hari ini aku tidak telat lagi. Bersenandung kecil untuk mengisi kesepian yang ada di sekitar ku.
Aku menghabiskan nasi goreng hambar ku, tidak ada selera makan pagi ini, hanya keterpaksaan yang ada di dalam diriku.
Menaiki mobil sedan Corolla Altis hitam milik ku, memecah keheningan dan rasa kesepian di dalam jiwaku. Berbagai bunyi dari berbagai macam arah menyatu dalam indra pendengaran ku.
Memacu kecepatan hingga tiba di tempat tujuan ku. Seperti biasa, tak lupa ku rapikan kembali penampilan ku.
Ku hirup udara pagi yang sejuk, yahh cukup untuk membuat ku menjadi sedikit bersemangat meskipun sedikit malas.
Ruangan ini menjadi tujuan ku, ku edarkan pandanganku untuk melihat kembali sekeliling tempat ini, untuk memastikan tidak salah masuk.
Tertangkap oleh pandangan ku, seorang gadis duduk membelakangi ku. Mungkin itu Mita? pikir ku
"Mita?" ucapku hati-hati, takut salah orang
Ia membalikkan badannya, menatapku dengan mata yang berbinar. Ia bangkit dan mengajak ku untuk duduk bersama nya.
"Sini duduk dulu, aku masih penasaran tentang kamu"
"Oh ya? mau tau soal apa nih?" ucapku berusaha santai
"Ya apa aja, kamu ko mau bekerja sebagai guru BK yang gajinya ga seberapa besar? susah di angkat jadi pegawai lagi"
"Ya... mau aja hehe"
"Kan bisa gitu kerja yang lebih dari ini, gaji nya lumayan lagi, apalagi kamu lulusan luar negeri lho!! Aneh banget si" ujar nya heran menatapku
"Aku ya kalau jadi kamu udah berkerja di perusahaan ternama di kota ini! Aku pasti udah jadi orang kaya dan bisa ngebahagiain Mak sama Bapak" ucapnya berceloteh panjang lebar tentang impiannya.
"Sayang nya takdir ga berpihak sama aku" wajahnya tiba-tiba menjadi sendu
Aku memegang punggung nya yang membungkuk, mengusap nya perlahan, berusaha menguatkan dan menenangkan nya dari beban yang memberatkan nya.
"Eh ko malah hari sedih gini sih? maaf ya, ya Allah lebay banget" Ia menghapus air mata yang keluar dari ujung matanya, berusaha tersenyum seolah-olah tidak ada masalah dalam hidupnya.
"Udah ga usah nangis, yuk aku traktir bakso di kantin!" ajak ku menghibur nya
"Serius? ayok deh!" ia dengan semangat menarik lengan ku menuju kantin.
***
"Eh, kayanya di sini anak nakalnya dikit ya? ucapku sembari mengunyah bakso, aku beranggapan seperti itu karena beberapa hari aku bekerja tidak ada kasus yang masuk
"HAHH?! kamu bilang gada anak nakal di sini? di sini tuh banyak banget, sampe-sampe guru BK yang tadinya ada 5 orang resign 4 dan sisanya aku doang yang bertahan!" ucapnya dengan menggebu-gebu
"SERIUS???!!!" ucapku terkejut hingga tersedak kuah bakso
"Ehh, nihh minum dulu" dia menyodorkan segelas air putih
"Makanya, jangan asal menyimpulkan! tuh bocah yang paling bandel tahun ini lulus, dia itu ga bikin masalah sehari aja udah nikmat terbesar yang Allah berikan Flo!!" ucapnya menatap lurus wajahku, kali ini wajahnya tampak serius.
"Oh gitu? jadi hampir tiap hari dia buat masalah, gitu?" tanya ku semakin penasaran
"Iya bener, aku tuh udah muak ngeliat dia terus yang jadi langganan, gada yang lain apa?!" ucapnya kesal
"Kenapa ga resign aja kalau gitu?" ucapku enteng
"Resign? hehh sadar! lulusan D3 kaya aku gini susah nyari kerja! ga kaya kamu yang beruntung nya dari lahir sampe ketelan perut bumi" ucapnya seolah menyindir diriku
Aku menjadi bingung ingin menjawab apa, apa aku salah? huhh... sepertinya dia tersinggung, ini lah yang aku sesal kan! Aku memukul bibirku, seolah-olah menyalahkan nya yang tidak menjaga ucapan.
"Eh, kamu tersinggung? maaf ya pliss aku ga tauuuuuu huhu" ucapku menyesal
"Udah gapapa, udah biasa. Yukk balik nanti ketahuan Bu Wati" ucapnya menarik kembali lengan tanganku setelah membayar uang tagihan makanan kami.
Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!
Ig : @_fadhz
Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!