Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Canggung



"Devv...." Terlihat Devan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan Flowie


"Huaaaaaaa"


Flowie menangis sejadi-jadinya di pelukan Devan, terlihat dari sorot mata dan pergerakan tubuhnya Flowie merasa sangat ketakutan.


Devan membawa dirinya ke pelukan hangat di dada bidangnya, Flowie menyembunyikan wajahnya di tempat ternyaman nya itu.


"Sssttt... tenanglah, ada aku disini"


Alih-alih tenang, Flowie semakin mengeratkan pelukannya, membuat Devan harus menahan kram di kakinya.


"Ayo duduk dulu" ajaknya membawa Flowie duduk di bangku teras depan.


"Lihatlah, bulan nya sangat indah bukan?" Devan berusaha untuk mengalihkan rasa takut yang bersarang di hati Flowie saat ini.


Perlahan Flowie mulai meregangkan pelukannya, dan melihat kaos casual milik Devan basah kuyup akibat air matanya.


"Sudah tak apa, nanti kering sendiri" ujar Devan seolah tahu apa yang di khawatirkan oleh wanita di depannya ini.


"Maaf..." lirihnya menunduk


"Untuk apa? hmm?"


"Ini dan tadi"


"Tak apa... aku rumah mu, tempat ternyaman mu" Devan mengelus pucuk kepala Flowie yang bersandar di bahunya.


"Sudah tenang?"


Flowie hanya mengangguk dan menatap kosong pintu pagar rumah di depannya. Merasa nyaman dengan perlakuan Devan.


'Ternyata, trauma mu belum hilang juga'


Tanpa aba-aba, lampu rumah tetangga depan Flowie menyala, membuat dirinya memutar badan dan melihat ke arah rumah nya yang kini lampunya telah hidup juga.


"Ayo masuk, di luar dingin" ajak Devan.


Flowie menurut, mengikuti langkah kaki Devan yang ada di sampingnya. Devan yang sedari tadi bingung harus berkata apa karena saat ini Flowie benar-benar diam membisu.


"Apa kau lapar? ayo aku buatkan makanan" ajaknya namun gelengan kepala Flowie telah menjawab ajakannya. Ia merasa sedikit canggung karena kejadian beberapa saat yang lalu.


"Baiklah, tunggu disini, aku akan mengambil cemilan"


Lagi dan lagi, Flowie mengekor di belakang Devan, bahkan tak segan-segan ia menggandeng lengannya.


"Tenanglah, ada aku dan lampu sudah menyala. Tak perlu khawatir" Devan kali ini harus bersabar menghadapi sisi lain Flowie.


"Tunggu disini dan diam, ok?"


Devan mulai membuatkan teh untuk dirinya dan juga Flowie, setelahnya mengambil beberapa cemilan yang ada di dapur.


Setelahnya ia menggandeng tangan Flowie dan menuntunnya ke ruang keluarga. Keduanya hanya diam dan menikmati film yang ada.


Terdengar suara gaduh dari kamar Flowie yang membuat keduanya heran dan juga Flowie semakin ketakutan tatkala mendengar suara tangisan seseorang dari kamarnya.


"Tenanglah, ayo kita cek" Devan berjalan lebih dulu dan Flowie bersembunyi di balik punggung tegapnya


"Huaaaaa.... Flowie!!!"


Terlihat Mita yang terduduk di lantai dengan rambut yang berantakan sedang menangis layaknya anak kecil yang di tinggal kedua orang tuanya menonton tv.


"Astaga... Mita!" Akhirnya setelah beberapa saat membisu, Flowie mengeluarkan suaranya juga.


"Huaaaa.... jangan tinggalin aku Flo! aku takut!!"


Flowie membawa Mita ke kasur dan memberikan nya air minum. Gemas rasanya mengingat betapa ketakutan nya dirinya tadi.


Tetapi Mita? begini saja sudah nangis kejar apalagi tadi ikut merasakan ketakutan yang ia alami beberapa saat yang lalu.


"Sudah, tenanglah. Tadi mati lampu" balasnya kesal


"Benarkah? jadi sekarang sudah menyala?"


Flowie mengangguk sebagai balasan.


"Syukurlah, aku tidak ketakutan saat mati lampu"


Perkataan Mita seolah-olah menyentil hati Flowie, seperti sedang mengejek. Melihat Mita yang ingin tertidur kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa membuat Flowie kesal dan ingin menjitak kepalanya saat ini juga!


"Aku ingin tidur kembali Flo. E-ehhhh... sejak kapan ada Pak Devan?" ujarnya kikuk melihat Devan berdiri di ambang pintu


"Sejak mati lampu" balas Devan menatap dingin


Mita yang kikuk menggaruk lehernya yang gatal secara tiba-tiba.


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!