Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Ini Aneh!



Hari mulai gelap, setelah mengisi perut ku dan mematikan lampu, aku mulai memasuki kamar tidur ku.


Rasanya hari ini makin melelahkan, meskipun sudah terbiasa, tetapi tetap saja energi ku cukup terkuras banyak.


Ketika kelopak mataku mulai tertutup, bunyi dering handphone berbunyi keras, seseorang menelpon ku.


Terpaksa aku bangkit dan meraih benda pipih tersebut dari atas nakas. Dengan mata terpejam, aku mengangkat nya. Tanpa melihat siapa penelpon nya.


"Ya, halo?" aku sedikit menguap dan pikiran ku mulai memasuki alam mimpi.


"Kau sedang apa? bagaimana dengan persiapan mu? ingat 2 minggu lagi!"


Mata ku yang telah terpejam, kini terbuka lebar terbelalak. Ternyata Pak tua itu yang menelpon ku, sial! mengapa harus ku angkat?


Kini aku terjebak dengan situasi dan tidak bisa menghindar, kemarin kemarin memang aku selalu menghindar, tapi saat ini aku malah terjebak di dalamnya.


"Ee-eee, hoammm, aku mengantuk, apakah tidak bisa besok saja kita berbicara?" aku berpura-pura sembari memikirkan alasan untuk rencana ku selanjutnya.


"Jangan bermain-main dengan ku Flowie! kali ini aku tidak akan melepaskan mu! cepat bawa dia, atau aku jodohkan diri mu? paham!"


Tuttt


Sambungan telepon terputus begitu saja, ini lah yang aku takutkan. Aku masih belum bisa untuk melakukan ini semua dengan begitu cepat.


Aku harus bagaimana? aku masih ragu dengan hubungan ini. Aku ingin kembali beradaptasi dan berusaha menerima ini semua.


Tidak mudah untuk mengajaknya kembali kepadaku. Meskipun ia memang memiliki rasa kepada ku, tetapi aku bukanlah tipikal wanita yang agresif terhadap sesuatu.


Aku ingin waktu yang membawaku menuju takdir yang telah Tuhan gariskan untuk diriku.


Huhhhh... menyebalkan!


Aku menyelimuti diri ku dan membungkusnya dengan selimut. Mulai memejamkan mata kembali, tetapi pikiran ku tidak bisa lepas dengan pembicaraan tadi.


Sial!


Di sisi lain ...


Edwin pergi keluar memacu kecepatan motornya dengan tinggi. Dengan rasa yang campur aduk ia menantang maut.


Ia memarkirkan motornya di danau. Ya di danau, bukan di rumah Ridho. Sudah di pastikan bahwa anak itu akan menginap di rumah kedua orang tua nya.


Tentu saja saat ini ia belum bisa datang dan kembali berkeluh kesah kepada sahabatnya itu. Ia mendongak dan menatap langit malam yang terang benderang.


Rembulan memancarkan sinarnya yang terang malam ini dengan sempurna tanpa tertutupi oleh awan


Ia duduk di bangku taman itu, salah satu saksi bahwa dirinya pernah bersama dengan sang pujaan hati.


Namun, bukan masalah status sosial, umur maupun keyakinan yang tidak dapat menyatukan mereka. Melainkan perbedaan perasaan dan juga hubungan mereka.


Ia tahu bahwa dirinya salah menaruh perasaan, ia tahu bahwa perasaan ini tidak seharusnya ia jaga dan ia biarkan tumbuh lebih dalam.


Tapi apalah daya diri nya yang tidak bisa menghilangkan perasaan ini secepat itu?


Ia terlanjur jatuh hati kepada sang calon kakak iparnya sendiri. Harus bagaimana lagi dirinya selain menjauh dan menghapus semua perasaan ini?


Kalau mau ia akan merebut calon kakak iparnya itu sendiri, tetapi ia juga tahu dan sadar diri, siapakah dirinya berani memisahkan keduanya?


Belum tentu Flowie juga mau dengan dirinya, yang ada hubungannya dengan sang kakak hancur berantakan.


Kehilangan sang ibu saja hubungan keluarga antar sesama saudara saja merenggang, apalagi ini? pasti akan lebih parah dari sebelumnya.


'Mungkin, aku memang tak pantas untukmu. Tetapi, apakah aku boleh sedikit saja memiliki rasa untukmu?'


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig :@_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!