Little Husband, Fierce Teacher Mother

Little Husband, Fierce Teacher Mother
LHFTM- Salting



Di tengah-tengah kecanggungan dan juga keheningan yang ada di antara kami, sang pramu saji pun kembali membawa pesanan kami.


"Silahkan di nikmati" ucapnya tersenyum ramah sembari menyerahkan pesanan dengan sopan.


"Terimakasih" ucapku lebih dulu


Terlihat Devan sedikit tersenyum tipis meskipun sangat samar. Entah kenapa aku masih mengingat selalu tentangnya.


Namun saat ini keadaan sedang tidak menentu. Hubungan kami saat ini juga belum jelas status nya, apakah sepasang kekasih atau sekedar teman? entahlah.


Aku hanya menikmati hidangan ku dalam diam, sembari melamun memikirkan banyak hal. Devan hanya diam menatapku sembari mengunyah potongan daging miliknya.


"Ada apa Flo? apakah steak nya tidak enak?" tanyanya khawatir


"Tidak Devan, jangan terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja"


"Jangan membuatku khawatir Flo! wajah mu selalu melamun, ada apa?" ucapnya sembari menghentikan aktivitas nya memakan hidangan di depannya.


"Aku hanya memikirkan beberapa hal, tidak perlu khawatir seperti itu" ucapku setelah menyeruput separuh lemon ice mint milik ku.


"Bila ada masalah, katakan lah. Terus terang saja kepada ku" ucapnya menyemangati ku sembari tersenyum lembut.


Lagi, aku tersenyum sembari menunduk karena salah tingkah.


"Kamu lucu kalau malu-malu" Devan seakan tahu isi kepala ku, ia tersenyum manis membuatku semakin tersipu.


"Devan! jangan membuatku malu!"


"Haha, kamu sangat lucu, aku suka" ia mulai melanjutkan aktivitas nya untuk mengisi perutnya dengan potongan daging lembut.


Kami mulai melanjutkan makan dengan isi kepala masing-masing. Aku tidak terlalu memperhatikan caraku makan hingga saus steak tersebut mengenai bagian ujung bibir ku.


"Akhh... maaf, kak! apakah kau mempunyai ti--" belum selesai ku berbicara, Devan menyapu saus steak tersebut dengan ibu jarinya.


Sontak membuatku terkejut dan aku membelalakkan mataku tak percaya. Meskipun sudah lama menjalin hubungan, tapi kami tidak pernah sejauh ini untuk bersentuhan.


"Maaf Flo, aku kelepasan" ucapnya merasa bersalah dan segera menarik kembali tangannya.


"A-anuu... e-ehh iya tidak apa-apa" balas ku gugup karena detak jantung yang tidak bisa ku kontrol saat ini.


"Maaf kak, ini tisu nya" ucap seorang pramu saji tadi datang memberikan setumpuk tisu di hadapan ku.


"Iya, terimakasih" ucapku lalu menyerahkan nya kepada Devan untuk membersihkan ibu jarinya yang terkena saus tadi.


"Aku permisi ke toilet dulu Van" ucapku dengan cepat sembari menjauh dari meja.


Aku mulai membersihkan tanganku, entah apa yang aku lakukan, aku hanya melakukan nya asal. Ke toilet sebenarnya hanyalah pelarian ku saja.


'Devan, kenapa jadi serumit ini? aku belum bisa memberikan mu sebuah kepastian, tapi mengapa takdir selalu mempermainkan hubungan kita hingga sejauh ini?' ucapku bergumam sembari menatap wajah ku di cermin.


'Huhhh tenang, ayo kembali kita harus tenang!' ucap ku menyemangati diri ku kemudian kembali ke tempat.


"Apakah sudah selesai? ayo kita pulang" ucapnya sembari melihat arloji yang tertempel di lengan nya.


"Ingin segera pulang atau ingin membeli sesuatu lagi?"


Pertanyaan Devan membuatku sedikit mendongak untuk melihat wajahnya yang berada di atas ku.


Tinggi ku yang hanya 160 cm masih kalah dengan tinggi tubuhnya yang berkisaran 172 cm mungkin?


"Hei, kenapa melamun?"


"E-ehh iya iya, aku mau beli sesuatu di minimarket"


Aku berlari sedikit lebih cepat, karena minimarket itu terletak pas di depan restoran. Devan selalu membuatku terkejut, mungkin benar perkataan nya bahwa aku sering melamun akhir-akhir ini.


Ia mengikuti ku di belakang, mengekor kemana saja aku melangkah. Aku hanya mengambil beberapa botol susu dan beberapa bungkus camilan untuk stok di rumah.


"Hanya segini?" ucap nya heran menatapku


"Ya, memang segini, mau sebanyak apa memang nya?" tanya ku polos


"Akhh kamu ini, lucu sekali dengan wajah polos mu, ingin ku gigit" seru nya sembari mengelus lembut rambut hitam ku.


"Huuuu Devan vampire!" aku berlari meninggalkan nya yang terkekeh geli mendengar ucapan ku.


Ia kemudian menyusul ku sembari membawa beberapa bungkus roti dan 2 botol kopi hitam expresso.


"Hobi banget minum kopi? emang ga takut sakit atau ketergantungan gitu?" tanya ku heran setelah keluar dari minimarket dan menuju mobil


"Ya aku memang suka yang pahit, tapi aku juga suka yang manis"


"Suka yang pahit? suka yang manis?" ucapku lirih berpikir sendiri di dalam mobil sembari melihat pemandangan malam yang cukup sunyi.


"Ya, yang pahit kopi, yang manis kamu" sahut nya sembari menengok ke arah ku


"Huuuu gombal" ucapku berusaha untuk menutupi rasa gugup ku.


"Ini fakta, bukan gombal" tatapan nya berubah menjadi serius, aku semakin bingung harus apa karena Devan tidak melepaskan tatapan matanya dari ku.


"Devan, perhatikan jalan nya, nanti kita bisa celaka!" nasehat ku dengan nada kesal


"Iya, maafkan aku"


Mobil terhenti di depan rumah ku. Saat hendak turun, Devan berkata sesuatu sebagai penutup acara malam ini.


"Terimakasih telah menemani ku, aku harap ini awal baik untuk kita berdua kembali menjalin hubungan seperti dulu" ucapnya serius sembari berusaha menggenggam tangan ku.


"Maaf Devan, tidak harus seperti ini ..." ucapku menepis halus tangannya yang menempel dengan telapak tanganku.


Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!


Ig : @_fadhz


Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!