
Aku terbangun tatkala sinar matahari menyinari wajahku. Membuatku sedikit terusik. Hari ini jadwal ku piket, sudah saatnya aku berangkat pagi.
Melihat tidak ada sarapan di meja, aku berniat untuk membuat sarapan ala kadarnya saja. Aku mulai mencari bahan-bahan untuk membuat sarapan simpel.
Hari ini aku hanya membuat roti bakar saja. Hanya beberapa lembar roti yang di panggang di atas teflon kemudian di beri selai dan sudah jadi, sangat mudah bukan?
Aku menikmati nya, cukup enak. Kemudian aku membawa sisa nya ke sekolah, untuk Mita pikir ku.
Selama ini aku tidak pernah berhemat bila berurusan dengan uang. Aku tidak perduli karena selama ini aku merasa cukup. Tapi melihat keadaan Mita, membuatku berfikir untuk ke depannya bahwa aku harus berhemat.
Aku tidak mungkin mengandalkan gaji ku sebagai guru ini dan juga yang kiriman dari orang itu meskipun hal itu sangat cukup. Tapi jauh dari hati kecil ku berkata aku harus merubah diri ku.
Tanpa sadar aku telah sampai di tujuanku. Aku melangkah perlahan sembari menghirup udara pagi. Ini sudah menjadi kebiasaan ku setiap hari.
Aku melangkah memasuki ruangan, kali ini aku membersihkan ruangan itu dengan cepat. Mencuci peralatan dan gelas yang kami gunakan. Membereskan buku-buku dan perlengkapan.
Menyapu dan mengepel. Membereskan dan menata kursi dan meja. Cukup membuatku hitung hitung olahraga pagi.
Kemudian mendata kehadiran siswa siswi dari absen yang biasa mereka kumpulkan. Aku menyeduh teh hangat.
Tok tok!
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu. Aku terheran, kalau itu Mita pasti ia akan langsung masuk tanpa mengetuk, lalu itu siapa?
Perasaan ku mulai tidak enak. Pikiranku melayang dan mengarah kepadanya. Tapi pasti tidak mungkin bukan?
Dengan perlahan aku mulai membuka pintu untuk menjawab rasa penasaran ku. Cklekk!
"Edwin!"
Terlihat jelas dan nyata di depanku adalah Edwin. Ia tersenyum kemudian menyerahkan sesuatu kepadaku. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan ku begitu saja.
Aku terpaku dan terdiam, tumben ia tidak berbicara dan tidak menggangu kehidupan ku? ada apa? apakah pengaruh Devan secepat itu?
Hati ku mulai bertanya-tanya, kemudian pandangan ku mengarah kepada sesuatu yang ia berikan. Absen kelas dan? coklat?
Mita datang menghampiri ku, kemudian mengajakku untuk masuk. Aku menyembunyikan coklat yang ia berikan kemudian mengajak Mita untuk memakan roti bakar buatan ku.
"Enak banget lho Flo! kamu buat sendiri?" ucapnya dengan mulut yang masih mengunyah makanan
"Oh iya, kirain beli hehe"
"Sering sering ya! enak soal nya" sambungnya
"Iya kalau aku ngga sibuk dan gak lupa"
Saat asik bercengkrama, tiba-tiba seseorang datang dan masuk setelah mengetuk pintu. Aku tidak tahu siapa namanya, tetapi ia adalah gadis yang aku temui untuk mencari ruangan Bu Wati waktu itu.
"Ada perlu apa Nin?" ucap Mita bertanya kemudian ia bangkit mendekat ke arahnya
"Itu, Flowie di panggil sama Ibu Wati" ia menunjuk diriku
Aku bangkit dan permisi dari Mita kemudian mengikuti langkahnya untuk pergi membawa ku. Sesampainya di sana, aku di tinggalkan seorang diri di dalam ruangan itu.
"Ada apa bu memanggil saya?"
"Pak Ridwan menelpon saya dan ternyata asisten nya yang menelpon dan memberitahu kepada saya untuk memanggilmu. Ia memberitahu bahwa Pak Ridwan masuk rumah sakit"
"Apaa?!" aku terkejut mendengar kabar itu
Tanpa pikir panjang aku segera pamit undur diri kemudian pergi meninggalkan sekolah. Aku berpikir kenapa ia tidak menghubungi ku secara langsung? apa mau nya si?
Aku menancap gas dan melajukan kendaraan ku untuk segera pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana aku segera bertanya kepada petugas administrasi untuk bertanya dimana ruangan orang itu.
"Kek, kakek kenapa?" tanyaku setelah menemukan ruangan nya
"Kenapa tidak menghubungi secara langsung? kenapa membuatku panik?"
"Kakek anda terjatuh saat pergi ke kamar mandi tadi malam, kemudian ia kami larikan ke rumah sakit. Nomor anda tidak aktif sejak semalam, membuat saya terpaksa menghubungi kepala yayasan" ucap pria berusia 37 tahun di hadapan ku ini
Aku melihat kondisi kakek yang kritis. Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menangis menunggunya sadar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa.
Jangan lupa like, vote dan dukungannya ya!
Ig : @_fadhz
Semoga bahagia selalu ya, semangat!!!