
Pagi hari kondisi istana cukup menegangkan, para petinggi datang terburu-buru. Gulf yang sudah berada disinggasananya menatap para petinggi itu masuk.
"Kalian berani membuatku menunggu?!!" Tanya Gulf dengan keras. Semuanya langsung terdiam.
"Oh aku lupa mungkin kalian terlalu sibuk semalam bukan?" Para petinggi saling menatap, mereka sedikit tidak mengerti dengan apa yang Gulf ucapkan.
"Maaf yang mulia. Kami salah membuat anda menunggu. Kami pantas dihukum" Ucap salah satunya.
"Yang mulia redakan emosimu atau semuanya akan ketakutan" Ucap Weir.
"Apa kau pikir aku menakutkan? Aku mencoba bersikap tegas dengan kalian. Apa yang kalian lakukan berkumpul di rumahmu semalam?" Beberapa orang cukup terkejut mendengarnya.
"Oh hahaha" Weir tertawa membuat Gulf semakin kesal.
"Saya tidak tahu anda dapat informasi darimana. Tapi kami hanya berkumpul untuk minum semalam. Jika yang mulia ingin ikut lain kali saya akan mengundang anda. Maaf saya kira yang mulia mungkin tidak mau berkumpul dengan pria tua seperti kami" Ucap Weir dengan smirknya yang mengesalkan.
"Kau yakin? Bukan pembicaraan tentang rencana pemberontakan?" Semuanya terkejut dan langsung berlutut. Weir yang malas pun ikut berlutut.
"Yang mulia. Jangan katakan seperti itu. Kami tidak mungkin merencanakan pemberontakan. Kami setia denganmu"
"Kalian pikir aku bodoh? Penjagaan di rumahnya begitu ketat. Apalagi jika bukan karena kalian membicarakan hal penting"
"Maaf yang mulia tapi rumahku selalu dijaga dengan ketat. Aku hanya ingin melindungi keluargaku, apalagi akhir-akhir ini banyak kejadian pembunuhan" Ucap Weir. Para petinggi mengangguk merasa alasan Weir masuk akal.
"Baiklah. Kalau begitu bagaimana jika kita lakukan penggeledahan?" Semuanya terkejut termasuk Weir namun bisa menyembunyikannya.
"Tunggu yang mulia. Tapi tidak ada alasan dan bukti aku melakukan kejahatan. Tidak masuk akal jika dilakukan penggeledahan untuk alasan yang tidak jelas"
"Jadi maksudmu aku hanya mengatakan omong kosong?" Weir terdiam.
"Yang mulia. Bisakah kita mendengarkan orang yang memberikan informasi padamu? Mungkin dia hanya ingin menjatuhkan tuan Weir, maka mengatakan seperti itu pada anda" Gulf terdiam. Ia tidak bisa mengatakan jika ia melihatnya langsung.
"Dia sudah pergi jangan membahasnya"
"Lihat, bahkan untuk saksi pun tidak ada. Apa yang di katakannya tidak ada bukti yang jelas" Ucap Weir.
"Yang mulia. Kita tidak bisa melakukan penggeledahan jika tidak ada saksi atau bukti yang jelas" Bisik Bright yang sedari tadi setia disampingnya. Gulf mengepalkan tangannya kesal.
"Baiklah kau lolos kali ini. Ingat! Jika kalian ketahuan merencanakannya, aku tidak segan-segan menghukum mati kalian" Ucap Gulf langsung pergi di ikuti Bright meninggalkan para petinggi yang riuh berdiskusi.
...****************...
"Apa yang kau lihat semalam?" Tanya Bright.
"Mereka jelas-jelas datang tengah malam ke rumah Weir. Apalagi jika bukan sedang merencanakan pemberontakan" Ucap Gulf kesal.
"Tenanglah. Akan aku coba selidiki nanti" Ucap Bright. Seseorang pun mengetuk pintu dan Bright membukanya.
"Maaf tuan ada seseorang yang mencari yang mulia. Dia sedang menunggu di ruang tamu" Ucap seorang pelayan.
"Baiklah akan aku sampaikan. Terimakasih"
...****************...
Gulf dan Bright menuju ruang tamu dan mereka melihat Mew yang tengah menunggunya.
"Oh tuan Mew anda disini" Ucap Bright dibalas senyuman oleh Mew sedangkan Gulf yang masih kesal hanya menekuk wajahnya dan langsung duduk di sofa.
"Ada apa kau kesini?" Tanya Gulf langsung. Mew sedikit khawatir melihat Gulf.
"Aku kira kau masih ingin bertemu dengan P'Mile" Gulf menghela nafasnya, karena kesal ia hampir melupakan itu.
"Jika kau tidak bisa sekarang, aku rasa besok aku bisa menjemputmu lagi"
"Tidak. Aku akan pergi sekarang" Gulf langsung pergi diikuti Mew meninggalkan Bright yang kebingungan namun ia tak berani bertanya dengan kondisi Gulf sekarang dan hanya membiarkannya.
...****************...
Sepanjang perjalanan Gulf tampak diam, Mew yang ada dibelakangnya pun menyamakan jalannya.
"Jika kau ada masalah kau bisa bercerita padaku. Mungkin aku bisa membantumu?" Gulf menatap Mew kesal.
"Apa yang bisa kau bantu?! Semuanya bukan urusanmu! Sialan!" Mew seketika terdiam cukup terkejut dengan kata-kata kasar yang diucapkan Gulf, namun ia harus mengerti Gulf sedang dalam kondisi kurang baik.
...****************...
Mew dan Gulf sampai di mansion dan langsung menuju ruangan Mile. Keduanya pun masuk dan disambut hangat oleh Mile.
"Selamat datang. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda yang mulia. Maaf kami tidak menyambutmu dengan baik. Orang-orangku sedang sibuk berburu" Ucap Mile dan Gulf pun hanya mengangguk melihat sekeliling ruangan.
"Mari silahkan duduk" Ajak Mile. Gulf hendak duduk namun ia terhenti, perasaannya tiba-tiba tidak enak dan sedikit sesak. Mile dan Mew hanya melihatnya yang terlihat gelisah.
"Yang mulia?"
"Gulf" Mew mulai khawatir melihat wajah Gulf yang menjadi pucat. Gulf merasa tidak enak berada di ruangan itu.
"Maaf aku lupa ada urusan lain. Mungkin lain kali kita bicara" Ucap Gulf langsung pergi. Mew melihat Mile yang sama bingungnya dan Mile pun menyuruhnya untuk mengejar Gulf.
...****************...
Gulf berpegangan pada pepohonan ketika ia merasa kakinya terasa lemas.
"Gulf kau tidak apa-apa? Ada apa? Kau sakit?" Tanya Mew yang datang. Gulf mengatur nafasnya, kakinya lemas dan ia pun duduk di ikuti Mew disampingnya.
"Bagaimana sekarang?"
"Sudah lebih baik"
"Baguslah nanti aku tanya P'Mile, mungkin dia tahu sesuatu" Gulf mengangguk dan kembali berdiri setelah dirasa ia sudah membaik.
"Maaf sebelumnya aku berkata kasar padamu" Mew menatapnya dan ia tersenyum.
"Tak apa aku mengerti"
"Sial! Para orang tua itu membuatku pusing!"
"Apa karena kejadian semalam?"
"Ya, aku yakin mereka merencanakan sesuatu"
"Kau khawatir?" Gulf melirik Mew. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar. Apa yang aku khawatirkan? Jika mereka merencanakan sesuatu, tentu saja aku bisa membuat rencana mereka hancur.
"Apa? Khawatir? Mana mungkin. Aku hanya malas berurusan dengan mereka" Gulf berjalan cepat mendahului Mew yang terdiam. Sangat jelas dia khawatir.
...****************...
Mile menatap cincin yang selalu ia pakai, ia penasaran kenapa saat ada Gulf cincin ini bereaksi. Sudah sangat lama cincinnya tidak bereaksi, sampai ia mengira jika cincin itu sudah tidak berfungsi.
...****************...
Dalam perjalanan mereka melewati sebuah desa kecil. Gulf memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Beberapa ada yang terduduk di tanah seperti pengemis.
Gulf dan Mew mengunjungi sebuah restoran yang cukup besar, namun tidak banyak pengunjung di dalamnya. Sang pelayan langsung menghampiri keduanya.
"Tuan anda ingin pesan apa? Kami memiliki arak terbaik disini dan juga hidangan manis khas desa ini"
"Baiklah kau bawa makanan dan araknya kesini" Ucap Mew.
"Baik tuan" Dengan semangat pelayan itu langsung pergi ke dapur.
Mew menatap Gulf yang melihat keluar sedari tadi.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Mew.
"Setahuku desa ini dulu tidak seperti ini"
"Apa maksudmu?"
"Desa Khon terkenal dengan araknya, bahkan beberapa arak biasanya dikirim langsung ke istana untuk jamuan undangan dari kerajaan lain" Pelayan datang dengan beberapa makanan dan arak.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Gulf.
"Tentu tuan"
"Ada apa dengan desa ini? Sepertinya banyak yang berubah" Pelayan itu langsung terdiam.
"Sebenarnya beberapa hari ini muncul penyakit aneh. Sehingga para petani tidak bisa bekerja dan hasil yang sudah di panen ditarik ke istana, persediaan untuk kami sendiri tidak cukup untuk dibagikan kepada semua orang"
"Apa maksudmu penyakit aneh?" Tanya Mew.
"Kami juga tidak tahu beberapa orang tiba-tiba mengalami demam tinggi dan kejang juga saluran pembuluh darah mereka membengkak seperti akan keluar benar-benar mengerikan. Dokter sudah berupaya dan tidak ada yang bisa menanganinya. Sehingga sudah banyak orang yang mati karena penyakit itu" Gulf sedikit tidak mengerti. Kenapa tidak ada laporan tentang ini?
"Lalu kau bilang persediaan disini tidak cukup. Tapi kau masih bisa berjualan?" Tanya Gulf.
"Ah itu.... Tuanku memiliki hubungan yang cukup baik dengan para petinggi dari istana, sehingga kami dikirim beberapa bahan baku kesini. Tuan-tuan ini faktanya jangan sampai terdengar oleh raja serakah itu, atau tidak akan ada lagi kiriman" Bisik pelayan itu.
Brakk!!
Pelayan maupun Mew terkejut dengan gebrakan meja yang dilakukan Gulf.
"Siapa yang memberikannya?! Siapa tuanmu?! Suruh dia kemari! Itu sangat tidak adil! Kau tidak lihat orang-orang diluar kelaparan!!!" Teriak Gulf membuat sang pelayan terdiam ketakutan.
"Gulf tenanglah" Mew mencoba menenangkannya.
"Kau bilang aku tenang?! Sedangkan rakyatku...." Ucapan Gulf terhenti ia hampir saja membuka identitasnya sendiri. Karena kesal Gulf pun pergi.
"Maafkan temanku. Dia hanya tidak bisa melihat orang lain menderita" Ucap Mew. Pelayan itu hanya mengangguk.
"Kalau begitu aku ambil arak ini dan ini uangnya aku harus pergi sekarang"
"Terimakasih tuan hati-hati"
Mew berjalan dengan cepat berusaha mengejar Gulf yang sudah lebih dulu pergi.
"Gulf kau tidak apa-apa?" Tanya Mew melihat Gulf yang tengah menatap hamparan ladang.
"Dasar orang-orang licik! Mereka berani bertindak tapi menyalahkan istana"
"Sebaiknya kau kembali dulu ke istana dan pikirkan langkah selanjutnya" Ucap Mew. Gulf mengatur nafasnya untuk menenangkan emosinya dan langsung pergi.
...****************...
"Aakkhhh!!!" Sebuah teriakan menghentikan Mew dan Gulf mereka melihat sekelilingnya mencari sumber suara teriakan itu.