KING GULF

KING GULF
Chapter 29



Nick menghampiri Weir yang tengah berada di kursi sang raja. Ia tampak menikmatinya, namun itu selalu menjadi pemandangan yang menjijikan untuk Nick. Jika tak ada kontrak yang mengikatnya, ia pasti sudah akan menyerang manusia dihadapannya itu.


"Oh tuan Nick ada apa kau menemuiku? Padahal aku bisa datang ke tempatmu" Ucap Weir segera mendekatinya. Pertemuan terakhir dengannya membuat ia memiliki rasa takut sekarang.


"Ya. Aku harus pergi"


"Pergi? Kemana?"


"Aku akan mencari rajamu"


"Apa? Kenapa kau mencarinya? Bukankah tujuan kita untuk menjadikan aku seorang raja? Sekarang dia menghilang. Akan sangat mudah untukku menggantinya" Ucap Weir sedikit khawatir, ia tidak ingin Gulf kembali.


"Aku menginginkannya"


"Tapi aku sudah memberi banyak orang-orang. Untuk apa dia?"


"Raja kalian memiliki pesona tersendiri, jadi aku menginginkannya"


"Kau menyukainya?"


"Menurutmu?"


"Tidak! Maksudku, orang-orangku sedang mencarinya jadi kau tidak perlu repot-repot mencarinya"


"Sudah kubilang, manusia tidak akan menemukannya, sebaiknya kau cari para pemburu yang kabur itu. Manusia memang sangat lambat. Aku pergi" Ucap Nick meninggalkan Weir yang tampak khawatir. Ia tidak boleh membeiarkan Gulf ditemukan.


...****************...


Up terdiam setelah Bright menceritakan semuanya, termasuk Gulf yang seorang vampir.


"Aku tahu ini seperti tidak masuk akal, tapi itu kenyataannya" Ucap Bright. Ia tidak bisa memprediksi reaksinya, tidak ada keterkejutan sedikit pun, seakan ia sudah tahu mengenai keberadaan vampir.


"Perth kau ingat kejadian dua bulan lalu di beberapa kuil?" Tanya Up.


"Maksudmu..."


"Ya, aku rasa itu ulah para vampir"


"Apa yang terjadi?" Tanya Bright yang tidak mengerti.


"Sempat terjadi pembunuhan dan sampai sekarang belum di ketahui pembunuhnya. Kondisi mayat juga sangat aneh. Sekarang jika ceritamu benar, maka aku sangat yakin"


"Kalau begitu kalian membutuhkan para pemburu untuk menanganinya" Ucap Bright.


"Pemburu?"


"Ya pemburu vampir. Kau tahu sebuah tempat yang dekat dengan perbatasan kerajaan Traipipattanapong. Tempat yang selalu dijaga ketat"


"Setahuku mereka pemburu binatang liar" Ucap Perth.


"Ya memang, tapi selain itu mereka juga seorang pemburu vampir. Aku mengenal mereka, setelah aku kembali kesana akan aku bicarakan dengan mereka"


"Kau tidak bisa menanganinya Perth?" Tanya Up membuat Perth terdiam. Pasalnya ia sendiri tidak tahu seperti apa vampir itu.


"Jangan menyalahkannya. Bukan soal kemampuan, tapi para vampir bisa menghilangkan keberadaannya. Karena itu mereka jadi berbahaya, walaupun kita mengirimkan seseorang yang sangat kuat sekali pun"


"Hm. Apa ayahku tahu semua ini?" Gumamnya.


"Perth, siapkan semua kebutuhanku. Besok, kita akan berangkat menuju kerajaan Traipipattanapong" Bright yang mendengarnya terlihat sangat senang.


"Tapi bagaimana dengan kaisar?"


"Aku tahu apa yang harus aku bicarakan sekarang" Up pun segera pergi menuju kamar ayahnya.


...****************...


Up melihat ayahnya yang tengah menikmati secangkir teh hangatnya. Ia duduk di depan ayahnya.


"Pho, aku akan berangkat besok pagi" Ayahnya menyimpan cangkir teh dengan keras, membuat suasana menjadi sedikit tegang.


"Kau..."


"Aku akan pergi ke kerajaan Traipipattanapong, aku sudah tahu semuanya. Kau tidak perlu khawatir, tidak akan terjadi apa-apa" Ayahnya cukup terkejut Up sudah mengetahui tentang para vampir. Ia pun menghela nafas.


"Kau tidak akan bisa menangani mereka. Mereka makhluk yang berbahaya"


"Pho tenang saja. Disana aku akan bersama seseorang yang bisa menangani para vampir. Boleh aku bertanya sesuatu?" Tidak ada tanggapan dari ayahnya itu.


"Aku hanya penasaran, tapi dulu kematian ratu Traipipattanapong sedikit tidak wajar. Orang-orang berkata jika beliau terkena penyakit aneh, tapi aku merasa ada yang janggal. Apa semua ini karena ratu seorang vampir? Apa yang sebenarnya terjadi?" Ayahnya menghela nafasnya sedikit berat. Ia harus mengingat kembali memori masa lalu yang cukup rumit dan mengerikan itu.


"Kukira aku tidak akan membahas ini lagi. Kau ingat dulu saat aku pergi kesana untuk menjenguk ratu yang sakit?" Up mengangguk.


"Sebenarnya dia sehat, sangat sehat tapi adikku Gil. Dia terlalu gelap mata, dia menginginkan kekuasaan hingga merelakan istrinya untuk dijadikan tumbal sebuah ritual"


"Dia sangat mencintai istrinya, tapi setelah mengenal seorang vampir bernama Mick dia berubah"


"Lalu kenapa kau masih membenci Gulf. Kau tahu sendiri jika Gulf tidak membunuh ayahnya dengan sengaja"


"Emm. Aku tidak membencinya, hanya saja aku sudah tidak mau berurusan dengan para vampir lagi. Jadi sebaiknya kau tidak pergi"


"Aku harus pergi pho. Selain untuk membantu Gulf aku juga ingin meminta bantuan para pemburu untuk membunuh vampir yang ada di wilayah kita"


"Aku tidak tahu persis. Tapi sekitar dua bulan lalu ada pembunuhan dibeberapa kuil yang belum kita temukan pelakunya. Aku merasa jika itu mungkin saja ulah para vampir"


"Tidak mungkin. Wilayah kita dilindungi, harusnya vampir tidak bisa masuk"


"Maka sebaiknya aku pergi pho. Seorang pemburu bisa memastikannya" Ayahnya pun menatap Up. Ia sebenarnya tidak ingin anaknya itu berurusan dengan makhluk kejam itu. Tapi jika kerajaannya saat ini terganggu oleh para vampir, ia pun hanya bisa mengizinkan Up untuk pergi.


...****************...


Sementara itu..


Ladang bunga matahari yang sangat luas terlihat sangat indah dengan cuaca yang cerah hari ini. Mew yang berada di tengah ladang itu sedikit kebingungan, ia bertanya-tanya kenapa ia ada di tempat ini. Sepanjang ia memandang hanya bunga matahari yang ia lihat, hingga ia melihat seseorang yang tengah memegang setangkai bunga matahari. Mew tersenyum melihat orang itu, ia pun sedikit berlari untuk menghampirinya.


"Gulf!" Panggil Mew. Gulf yang merasa di panggil menoleh dan tersenyum. Mew yang senang dengan responnya, mempercepat larinya dan langsung memeluk Gulf.


"Phi kau membuatku sesak" Ucap Gulf, namun Mew tidak melepaskan pelukannya.


"Aku merindukanmu"


"Emm.. Aku juga merindukanmu phi" Mew melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Gulf dari dekat. Menatap wajah Gulf yang sangat ia cintai. Perlahan Mew mendekatkan wajahnya hingga bibir keduanya pun bertemu.


Beberapa saat kemudian Mew melepaskan ciumannya, memeluk pinggang Gulf sesekali mencium leher Gulf.


"Aku mencintaimu" Ucap Mew, Gulf hanya tersenyum.


"Aku juga mencintaimu" Mew sangat senang sekarang, walaupun sedikit tidak percaya apa yang dikatakan Gulf sekarang. Biasanya dia akan menghindarinya. Ia pun kembali menatap Gulf.


"Dimana kita sekarang?"


"Kau lupa phi? Kita ada di......." Ucap Gulf. Mew mengerutkan dahinya ia tidak bisa mendengar Gulf.


"Kau bilang apa?"


"Aku bilang kita di...." Masih tetap tidak terdengar membuatnya merasa sedikit aneh. Ia merasa ada yang salah dengan situasinya. Gulf yang terus menerus memanggilnya pun tidak terdengar olehnya. Seketika pandangannya hilang, ia tidak bisa melihat apapun.


"Phi bangun" Suara Gulf begitu keras terdengar oleh telinga Mew. Ia pun membuka matanya hingga ia terkejut melihat sekelilingnya.


Tidak ada siapapun.


Dimana ini?


Ladang bunga yang indah, kini berubah menjadi sebuah tempat yang mengerikan. Sangat gelap, banyak orang yang tergeletak mati. Jelas-jelas Mew mendengar suara Gulf tapi dia tidak dapat menemukannya. Hingga ia merasakan seseorang ada dibelakangnya. Mew berbalik dan saat itu juga...


Jleb!!


Sebuah pedang menembus dadanya membuatnya terkejut, apalagi melihat orang yang menusuknya.


"Gulf apa yang kau..." Gulf tersenyum. Darah segar mengucur dari luka di dadanya.


"Sebaiknya kau mati phi" Mew membulatkan matanya. Ia menatap Gulf yang mengelus pipinya dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia dengar. Gulf mencengkram lengannya, memanggilnya namun tetap tak terdengar.


...****************...


"Phi!! Bangun phi!!" Mew yang ada di dalam sebuah pelindung membuka matanya perlahan, namun seakan kesadarannya tidak ingin muncul. Tubuhnya tidak bisa bergerak sekarang dan kembali tak sadarkan diri.


"Phi!!" Panggil Win. Ia melihat Mew yang tak meresponnya, semakin membuatnya khawatir. Kali ini Win tidak tahu bagaimana mengeluarkannya, para penjaga yang ia temui semuanya adalah orang-orang Nick. Walaupun sedikit bergidik takut, namun ia memberanikan diri untuk melihat Mew dengan alasan tuan Weir yang memintanya.


...****************...


Nick dan Kao berjalan di tengah hutan. Kao sengaja memanggilnya untuk menunjukkan sesuatu.


"Tuan aku rasa ini gerbang menuju klan Nattawin" Ucap Kao. Nick mengamatinya, ia melihat ada sebuah penghalang di hadapannya. Ia menyentuhnya, namun tidak bisa ia buka.


"Mereka memang sangat ahli untuk membuat penghalang. Bagaimana kita bisa membuatnya keluar?" Gumamnya.


"Kau berjaga disini, jika ada yang keluar kau harus segera menangkapnya dan membawanya padaku" Kao pun memberi hormat.


...****************...


Jauh di sebuah pegunungan, Boat dan yang lainnya hanya terdiam, tidak saling mengobrol hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Beberapa orang diantaranya masih terluka. Boat melihat teman-temannya, ia pun berdiri merasa ia tidak bisa jika harus diam saja. Ia mendekati Sean yang ada di dekatnya.


"Sean bagaimana kondisimu?" Tanya Boat.


"Aku baik, hanya beberapa luka goresan. Tidak fatal" Boat mengangguk.


"Semuanya dengar. Aku tahu kita semua sangat kehilangan Ohm teman seperjuangan kita. Tapi kita juga tidak bisa hanya diam saja. Apalagi p'Mew saat ini membutuhkan kita"


"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita semua terluka" Tanya Jom.


"Untuk sekarang istirahatlah, aku akan turun untuk mencari obat-obatan dan makanan" Ucap Boat.


"Boat aku akan ikut denganmu. Terlalu berbahaya jika pergi sendiri" Ucap Sean. Mereka berdua pun turun gunung menuju kota.


...****************...


Win keluar dari ruang bawah tanah, ia harus memikirkan bagaimana cara mengeluarkan Mew dari benda aneh yang menyelubunginya.


"Win apa yang kau lakukan? Kau dari penjara bawah tanah?" Tanya First. Win cukup terkejut, ia tidak menyangka First akan keluar dari istana dengan cepat. Apa yang harus ia katakan sekarang?