
Nick dan beberapa anak buahnya kini sudah bersiap. Mereka berjajar di depan pintu masuk klan Nattawin. Beberapa orang keluar dari penghalang itu.
"Apa maumu?"
"Aku memiliki sedikit urusan di dalam. Bisakah kau mengizinkan aku masuk?"
"Tidak. Sebaiknya kau pergi" Penjaga itu berbalik hendak masuk kembali namun saat itu juga kepalanya terpenggal. Yang lainnya terkejut dan langsung mengacungkan pedangnya. Para vampir saling bertarung sedangkan Nick melempar sebuah benda yang langsung menghancurkan penghalang klan Nattawin. Dengan mudah ia memasuki kawasan Nattawin dengan vampir-vampirnya.
Tak lama setelah Nick masuk, pasukan klan Nattawin menyerangnya. Bagi Nick tidak ada yang sulit melawan vampir-vampir itu. Hingga ia mendapat serangan pisau kecil yang menghujaninya. Hanya beberapa yang menggoresnya dan ia menatap vampir yang menyerangnya.
"Kau berani memasuki kawasan kami?! Matilah!" Pete menembaknya dengan kekuatannya. Nick terus menghindarinya dengan santai. Senyuman Nick yang meremehkan Pete membuat emosinya semakin memuncak. Pete gencar menembakinya hingga Nick menyerangnya dengan sekali ayunan pedangnya dan Pete terpental dengan luka yang cukup parah.
Nick mendekati Pete yang tengah menahan sakit. Ia menginjak perut Pete dan bersiap untuk menusuk dadanya dengan pedang miliknya.
"Kau pikir vampir rendahan sepertimu bisa membunuhku? Katakan dimana pedangnya? Jika kau memberitahuku, aku tidak akan membuatmu merasakan sakit" Pete menertawakannya.
"Aku lebih baik mati daripada memberitahumu" Raut wajah Nick berubah dan ia pun bersiap mengangkat pedangnya untuk segera menusuk Pete.
Pete tidak menyangka hari ini akan menjadi akhir untuknya. Ia pun memejamkan matanya. Namun tiba-tiba Nick terlempar ke arah lain. Pete kembali membuka matanya saat ia tidak merasa injakan kaki Nick dan melihat Apo yang mengikat Nick dan melemparnya ke segala arah.
"Berani-beraninya kau menghancurkan kawasanku!" Nick berusaha bertahan, rantai yang melilitnya menyakitinya membuat ia kesulitan untuk mengayunkan pedangnya.
Apo menariknya untuk mendekat dengan pedang yang sudah siap untuk menusuk Nick. Kini jaraknya yang semakin dekat, tiba-tiba
Boom!
Sebuah bom meledak mengenai Apo, ikatan rantai yang melilit Nick terlepas. Ia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang menolongnya. Asap yang ditimbulkan dari bom itu membuat pandangannya terganggu, hingga ia akhirnya dengan jelas melihat vampir gila yang menolongnya.
Kenapa dia ada disini?
Apo mendapat luka diwajahnya tapi dengan cepat kembali pulih. Dengan kesal ia mencari pelaku yang telah menyerangnya. Seketika ia terdiam, melihat orang yang tengah tertawa menatapnya. Bagaimana orang yang ia kira mati, kini ada di hadapannya.
"Naak..." Nick melihat Apo yang terkejut menatap vampir gila itu.
Apa mereka saling mengenal?
"Lama tidak bertemu phi" Naak menyapa Apo.
Nick tidak ingin berpikir terlalu banyak, dengan cepat ia pergi untuk mencari pedang ayahnya. Pete yang menyadari kepergian Nick segera bangun.
"Tuan! Nick melarikan diri!" Apo tersadar dengan lamunannya dan segera ia pergi, namun Naak melemparinya suatu benda yang mengeluarkan asap. Apo yang menghirup asap itu seketika terjatuh. Badannya tampak tak bertenaga entah apa yang terjadi padanya kini. Pete berniat menolongnya tapi Apo memberi isyarat untuk segera mengejar Nick.
Naak mendekatinya tersenyum. Apo menatapnya dengan penuh kemarahan. Apo berusaha untuk bangun, namun Naak menginjak punggungnya hingga ia tidak bisa bergerak.
"Sebaiknya kita lupakan masalalu. Aku ingin bertanya tentang seseorang yang memilik darah setengah vampir. Bagaimana dengannya? Apa di kuat?" Apo tidak menjawabnya, ia masih berusaha untuk bangun.
"Kau bekerjasama dengan Nick?"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa aku juga harus menjawabnya?" Apo tertawa mendengarnya.
"Untuk apa kau menanyakannya? Jika kau menginginkannya, sebaiknya kau menyerah. Dia bukan lawanmu"
"Walaupun aku bukan lawannya, aku bisa mengalahkannya. Menang kalah bukan karena kekuatan tapi otak yang cerdas. Kau lihat sekarang, kau bukan lawanku tapi aku bisa membuatmu seperti ini" Apo membuat sebuah pisau dengan kekuatannya.
Jleb!
"Akkhhh!!" Teriak Naak kesakitan. Apo menusuk kaki Naak dan dengan cepat berusaha untuk berdiri dan ia pun mencengkram lehernya kuat.
"Kenapa kau bekerja sama dengannya?" Naak kesakitan tapi ia masih bisa tertawa melihat Apo yang penuh emosi.
"Kau masih mempunyai tenaga setelah menghirup asap ini. Memang tidak salah kau adalah pemimpin klan. Kau tidak merindukanku?" Naak meraih pipi Apo dan perlahan mengelusnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan dan jawab pertanyaanku"
"Aku hanya menolong seseorang yang meminta pertolongan. Aku tidak memihak siapapun" Apo menguatkan cengkramannya hingga Naak sudah tampak tak kuat menahannya. Dengan tangan gemetar ia meraih bubuk yang ada di kantong belakangnya dan meniupnya ke mata Apo. Seketika pandangannya buram dan darah keluar dari matanya. Cengkramannya terlepas, Naak pergi untuk membantu Nick.
...****************...
Pete berlari dengan cepat untuk mencari keberadaan Nick. Sebuah sabetan pedang menyayat punggungnya, hingga ia tersungkur. Pete melihat Nick yang mendekatinya.
"Tunjukkan padaku dimana pedang itu!" Pete bersiaga untuk menyerang, ia mengeluarkan pedangnya. Satu ayunan darinya memunculkan beberapa pisau kecil yang melayang ke arah Nick.
"Menyerahlah. Kau bukan lawanku, atau memang kau ingin mati? Baiklah akan ku kabulkan" Dengan kekuatannya Nick menarik Pete yang langsung berada di cengkramannya. Ia hendak memutuskan leher Pete, namun seseorang menghentikannya.
"Berhenti!" Nick menatapnya kesal. Naak datang menghentikan aksinya.
"Tidak ada gunanya membuang tenagamu untuk membunuhnya. Kau ingin pedang ayahmu? Aku tahu dimana tempatnya" Nick melepaskan Pete dan segera mengikuti Naak. Sekilas Pete melihat Naak yang menatapnya.
Setelah melihat Naak, Pete langsung teringat dengan kondisi Apo saat ini. Dengan segera ia kembali ke tempat sebelumnya.
...****************...
Dalam perjalanannya Pete melihat Apo yang tengah berlari. Ia pun menghentikannya dan terkejut melihat mata Apo yang berdarah dan ia berlari dengan mata tertutup. Apo hampir menyerangnya ketika Pete belum mengeluarkan suaranya.
"Tuan ini aku Pete. Ada apa dengan matamu?" Apo menurunkan kembali pedangnya.
"Pete? Bagaimana Nick? Dimana dia?"
"Dia pergi bersama Naak"
"Aku mengkhawatirkanmu"
"Pete kau benar-benar! Aku akan mengejarnya" Tanpa sempat mencegahnya, Apo pergi dengan cepat. Pete sedikit bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Hingga ia pun pergi menuju istana Gulf.
...****************...
Setelah mendengar Nick yang menyerang klan Nattawin, Gulf bergegas dengan Pete. Kecepatan vampir tidak bisa disamakan dengan manusia, Mew sedikit tertinggal walaupun ia sudah menggunakan kekuatannya untuk berlari, namun ia berusaha untuk segera sampai dan membantu Gulf bersama para pemburu lainnya.
Nick dan Naak memasuki sebuah ruangan dan langsung disambut dengan sebuah pedang yang tersegel. Nick menatap pedang itu puas, ia kini bisa menguasai pedang ayahnya.
"Kenapa kau membantuku?"
"Aku hanya bosan dan aku rasa mengikutimu akan menyenangkan"
"Bukan karena vampir itu? Kau tampak akrab dengannya" Naak tertawa mendengarnya.
"Hanya kenalan lama. Tapi tenang saja aku tidak mendukung siapapun disini. Sebaiknya kau ambil pedang itu" Nick masih penasaran tapi bukan waktunya untuk menanyakan tentang itu. Ia pun menghancurkan segelnya dan mengambil pedangnya. Kekuatan yang dimiliki pedang itu menyerap ke dalam tubuhnya, yang membuat Nick menjadi semakin kuat.
Apo melempar rantainya untuk menangkap Nick, namun karena ia tidak bisa melihat, lemparannya sedikit meleset. Nick tertawa dan mengayunkan pedangnya yang membuat sayatan besar di dada Apo juga membuatnya terlempar. Naak menatapnya namun ia pun tidak mempedulikannya dan hanya duduk bersantai melihat pertunjukan di depannya.
Mata Nick yang merah, kini mendekati Apo, siap untuk mengakhiri hidupnya. Tiba-tiba Nick merasakan sesuatu di belakangnya dan dengan cepat ia menghindari pedang yang melayang ke arahnya. Nick tersenyum melihat orang yang mendatanginya ia pun menggiringnya ke tempat lain. Naak cukup terkejut dengan aura yang dikeluarkan Gulf saat menyerang Nick. Tawanya berkembang dan ia pun beranjak pergi untuk membuat rencananya sendiri.
Dengan pandangan buram Apo melihat Naak yang berlari ke arah lain.
"Pete kejar dia! Hentikan rencananya" Pete yang membantu Apo pun segera mengejar Naak.
...****************...
Nick berlari dengan terus menghindari serangan yang diberikan Gulf padanya. Ia sangat senang bisa kembali bertarung bersamanya. Keduanya berlari sampai ke tengah hutan yang sangat lebat. Pohon-pohon yang tumbuh berdekatan dijadikan tempat persembunyian Nick. Gulf mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia menebang beberapa pohon yang menghalanginya, namun ia tidak menemukan Nick.
"Nick! Keluar kau!" Teriak Gulf. Nick tampak menikmati waktunya bersama Gulf.
"Kau merindukanku?" Tanya Nick namun Gulf tidak melihat keberadaannya.
"Jangan bermain-main denganku!" Gulf mengeluarkan auranya dan seketika banyak vampir yang berlarian untuk mencari keberadaan Nick, hingga ia menemukannya yang tengah melawan vampir-vampir yang ia kendalikan.
Sekali tebasan, para vampir itu mati. Gulf tahu tidak berguna melawannya dengan vampir-vampir itu. Ia pun maju mengayunkan pedangnya. Dengan cepat Nick menahannya, keduanya saling beradu pedang. Tidak seperti dulu, Nick sangat kuat dengan pedang yang dipakainya sekarang.
...****************...
Sementara itu di sisi lain, Pete menahan Naak yang tengah berlari.
"Hey Pete. Lama tidak berjumpa" Naak tersenyum padanya.
"Naak sebaiknya kau hentikan rencanamu" Naak tertawa.
"Sebelumnya aku sudah menolongmu. Kau tidak mau berterimakasih padaku?" Tidak ada jawaban, Pete pun mengeluarkan pedangnya dan langsung menyerangnya. Naak masih bisa menghindarinya, ia berlari dengan sebuah tombak yang baru ia buat. Naak melubangin tanah hingga menjadi titik-titik yang bisa dihubungkan. Naak berhenti berlari dan berbalik melihat Pete yang ada diposisi yang pas menurutnya. Tiba-tiba Pete terikat dan tidak bisa bergerak.
"Tunggu lah Pete. Nanti ikatanmu akan terlepas dengan sendirinya"
...****************...
Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di perjalanan, akhirnya Mile dan yang lainnya sampai di mansion. Tubuhnya benar-benar lelah karena terus memacu kudanya. Tidak langsung ke kamarnya, namun ia lebih memilih masuk ke ruangannya. Ia berjalan menuju sofa. Langkahnya terhenti melihat mejanya. Ia mengambil buku yang ada di meja itu. Mile ingat posisi foto yang ada di dalam buku itu dan kini telah berubah.
Siapa yang memasuki ruanganku?
Jika dipikirkan, saat sampai ia melihat mansionnya yang tampak sepi dan harusnya Mew sudah ada di mansion. Ia kembali keluar mencoba memanggil seseorang.
"Tuan Mile kau memanggilku?"
"Mansion tampak sepi kemana mereka?"
"Oh. Tuan Mew membawa mereka ke kerajaan Traipipattanapong setelah mendapat surat. Aku dengar kerajaan itu berurusan dengan vampir bernama Nick" Mile mengerti dan langsung menyuruhnya kembali.
Mile mengambil foto yang terselip di buku itu.
Dia melihatnya.
...****************...
Mew dan para pemburu lainnya melihat banyak mayat vampir yang berserakan di perbatasan klan Nattawin. Ia melihat penghalang pun sudah hancur, membuatnya semakin khawatir dengan kondisi Gulf saat ini.
"Kita berpencar dan cari raja Gulf!" Perintah Mew. Para pemburu pun segera berpencar.
...****************...
Gulf terjatuh dengan kepala terbentur hingga mengeluarkan darah, namun dengan cepat luka itu kembali menutup. Energinya benar-benar terkuras. Ia menatap Nick, bagaimana bisa dia masih baik-baik saja saat Gulf sudah berkali-kali menusuk jantungnya. Nick yang menggunakan pedang itu jelas-jelas semakin meningkatkan kekuatannya.
Gulf melirik pedangnya terlepas dari tangannya. Ia harus segera mengambilnya dan kembali menyerangnya. Nick mendekatinya.
"Menyerahlah dan ikut denganku" Nick mengangkat dagu Gulf.
"Kau hanya perlu berdiri disampingku. Kau bisa melihatku menjadi raja vampir dan kau akan menjadi pasanganku. Tidak salah orang-orang mengatakan jika raja dari kerajaan Traipipattanapong memiliki pesona yang menawan" Nick mendekatkan wajahnya, ia merasa puas melihat wajah Gulf. Tangan Gulf diam-diam mengeluarkan pisau yang tersimpan di pahanya.
Tangan Nick memukul tangan Gulf hingga pisau itu terlempar ketika Gulf mencoba untuk menusuknya. Tindakan Gulf membuat Nick marah dan ia mencengkram leher Gulf.
"Kau masih menolakku? Aku sudah berbaik hati padamu" Gulf mencoba melepaskan tangan Nick. Ia mengumpulkan kekuatannya untuk membuat sebuah pisau, tapi cengkraman dileher Nick menyakitinya sehingga ia kesulitan untuk mengeluarkan kekuatannya. Nick menyedot energi Gulf hingga tubuhnya terasa tak bertenaga. Sial! Apa akan berakhir seperti ini?!