KING GULF

KING GULF
Chapter 49



Nick bisa merasakan energi kental yang masuk kedalam tubuhnya. Energi seorang vampir yang kuat memang yang terbaik. Ia terdiam ketika merasakan sebuah kertas mantra menempel di punggungnya.


Kertas mantra yang menempel tak berpengaruh dan ia berbalik melihat orang yang berani menyerangnya. Walau sedikit buram, Gulf masih dapat melihat Mew dengan tatapan marahnya.


Nick tersenyum melihat Mew dihadapannya.


"Oh siapa ini? Haruskah aku ucapkan selamat datang karena telah bergabung?"


"Lepaskan dia!" Nick melirik Gulf yang tampak lemas. Ia pun melepaskan cengkramannya dan beralih merangkul pundaknya.


"Kau menginginkannya? Dia milikku sekarang" Nick mencium leher Gulf sembari menatap Mew, membuat kemarahan Mew semakin memuncak. Dengan cepat ia maju mengeluarkan semua kekuatan dan mantra yang ia punya. Nick menahan serangan itu.


Gulf tergeletak, mencoba untuk memulihkan energinya dan ia merangkak untuk mendapatkan kembali pedangnya.


Pedang sudah ditangan dan ia merasa kekuatan dari pedangnya memberikan energi untuknya. Gulf berdiri untuk ikut membantu Mew, tapi ia merasa seseorang mendekatinya. Gulf berbalik dan melihat seorang wanita yang tidak ia kenal. Wanita itu tertawa melihatnya dan ia mengatakan sesuatu yang tidak bisa Gulf dengar. Setelah itu wanita yang ia lihat berlari kabur, Gulf mengejarnya hingga ke sisi lain hutan.


Gulf melihat wanita itu yang ada di atas pohon dan ia kembali tersenyum hingga Gulf menyadari sudah masuk kedalam perangkap wanita itu. Badannya sangat kaku sulit untuk digerakan. Sebuah formasi sihir dapat ia lihat dan langsung mengurungnya.


"Siapa kau?!" Naak mendekatinya. Gulf mencoba menghancurkan kurungan itu.


"Ku kira Nick sudah menangkapmu. Tapi ternyata aku terlalu berekspektasi besar padanya. Tapi beruntung aku lebih dulu menangkapmu" Suara tawanya benar-benar mengganggu. Gulf terus menerus mencoba menebas kurungan itu, tak peduli wanita itu yang terus berbicara.


Gulf duduk terdiam, Naak menatapnya penasaran.


"Apa kau sudah menyerah? Ya baguslah kau cukup pintar untuk tidak membuang-buang energimu" Naak bersiap mengikat tali di kurungan itu untuk segera membawanya pergi namun


Jlebb!


Sebuah pisau yang bergerak sendiri menusuknya.


"Kau!"


"Jangan pikir aku tidak punya cara lain" Gulf tersenyum dan kurungan itu pun melebur seiring Naak yang mulai tak sadarkan diri dan mati. Gulf mencabut pisau miliknya dan ia memperhatikan tubuh Naak yang mengeluarkan bau yang aneh baginya.


...****************...


Kondisi Mew kurang baik sekarang. Luka disekujur tubuhnya benar-benar menghambatnya. Lagi-lagi ia terlempar membentur pohon. Mew duduk dan bersandar menatap Nick yang mendekati siap mengakhiri pertarungan dengannya.


"Matilah!" Teriak Nick mengangkat pedangnya. Satu ayunan pedang dan


Trang!


Gulf menahan pedang Nick dengan pedangnya. Nick tampak tersenyum dan menekan pedangnya.


Krekkk!


Pedang Gulf retak membuatnya terkejut


Ia pun menendang Nick untuk menjauhkannya. Sekilas ia melihat Mew yang terluka parah, ia harus segera menolongnya. Gulf yang tak fokus kembali menahan pedang Nick yang hampir menebasnya.


"Menyerahlah!"


Tak!


Sreett!


Gulf maupun Mew terkejut pedang Gulf patah dan pedang Nick menyayat dada Gulf.


"Tidak! Gulf!" Teriak Mew. Nick tertawa melihat pemandangan di depannya sekarang.


Mew menghampiri Gulf yang terluka. Gulf meringis namun ia mendorong pelan Mew memintanya untuk menjauh. Ia menatap Nick marah.


"Apa kau masih tidak ingin bersamaku?" Nick tertawa puas.


"Phi pergilah"


"Apa?! Tidak. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri"


"Ku bilang pergi!" Gulf mencengkram baju Mew dan melemparnya untuk segera menjauh.


Luka Gulf sudah pulih kembali. Ia mengumpulkan energinya, namun ia merasa pisau kecilnya bergetar. Seketika pisau itu keluar sendiri dan


Jleb!


Apa-apaan ini? Kenapa bisa jadi begini?


Gulf menatap pisau kecilnya menancap tepat di dada Gulf. Mew yang melihatnya panik. Tentu saja seorang vampir akan mati jika jantung mereka tertusuk. Gulf sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi hingga kesadarannya pun hilang. Mew menghampirinya mencoba untuk membangunkan Gulf.


"Ah kenapa jadi membosankan? Dia lebih memilih mati dibandingkan bersama denganku?"


Sreet!


Grep!


Sebuah rantai mengikat Nick. Ia melihat di sekitarnya pemburu dan vampir kini mengepungnya. Para pemburu menembakkan sebuah anak panah ke sekitar Nick membentuk sebuah formasi.


"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan" Nick tidak bisa bergerak rantai yang dikendalikan Apo mengunci pergerakannya.


"Phi Mew lakukan!" Teriak Khom. Mew melihat formasi yang sudah dibuat teman-temannya. Ia melepaskan Gulf dan mengambil sebuah kertas mantra melumurinya dengan darah dari lukanya. Mew memejamkan matanya sembari membaca sebuah mantra untuk mengaktifkan formasi itu.


Dibelakangnya, pisau yang menancap di dada Gulf tampak menyerap darah yang keluar dan saat itu juga Gulf membuka matanya. Ia melihat Nick yang berteriak kesakitan. Pisau besar keluar dari tanah membentuk formasi yang telah dibuat dan memotong beberapa bagian tubuh Nick, hingga pedangnya terlempar jauh. Sekeras apapun ia berusaha untuk menghindarinya, ia tidak bisa pergi ataupun melompat ke atas.


Mew membuka matanya melihat para pemburu dan vampir bersorak untuk keberhasilannya.


Tidak bukan itu!


Gulf tampak panik dan mencari kesekitarnya. Hingga tak lama sorakan itu berlangsung.


"Awas!!" Teriak Pete melihat pedang Nick melayang menuju Mew. Mew terdiam, kecepatan pedang itu tidak akan memberikannya cukup waktu untuk menghindar. Seiring dengan melesatnya pedang itu. Semua orang dapat melihat sebuah potongan tangan yang menggenggam pedang itu tumbuh dan mengembalikan tubuh Nick dengan cepat.


Mew dapat melihat tawa puas Nick, hingga tubuh seseorang menghalanginya.


Gulf dengan cepat mencabut pisau didadanya berniat untuk menghancurkan pedang Nick, namun pisau yang dicabut berubah menjadi pedang yang besar. Tanpa berpikir lagi Gulf menebasnya dengan kuat hingga pedang dan tubuh Nick pun akhirnya hancur.


"Pedang itu..." Apo tidak menyangka bisa melihat pedang yang selama ini ia pikir sudah menghilang.


Mew yang masih terkejut berdiri dan menarik Gulf ke dalam pelukannya. Pedang yang di pegang Gulf terlepas dan ia pun membalas pelukan Mew.


"Aku kira aku sudah kehilanganmu. Syukurlah" Pelukan Mew semakin erat membuat Gulf tersenyum.


"Sudah kubilang tidak akan terjadi apa-apa padaku"


Apo dan yang lainnya menghampiri keduanya. Mereka tampak tak peduli dan masih tak melepaskan pelukannya.


"Bisakah kalian lanjutkan nanti? Kita masih harus membereskan kekacauan ini dan kau manusia harus mendapatkan pengobatan secepatnya" Apo sedikit menyindir keduanya yang masih bisa berpelukan di depan semua orang. Gulf hampir melupakan Mew yang tengah terluka dan ia pun melepaskan pelukannya.


"Benar. Kita harus mengobati lukamu"


"Aku tidak apa-apa ini hanya luka kecil"


...****************...


Gulf membawa Mew ke dalam kamar ibunya untuk membantu Mew mengobati lukanya. Sedari tadi Mew hanya tersenyum dan menatap Gulf yang fokus mengobati lukanya, bahkan ia melupakan rasa sakit ditubuhnya.


"Berhenti menatapku. Aku tidak akan menghilang" Ucap Gulf yang menyadari tatapan Mew.


"Aku bersyukur vampir itu sudah dikalahkan. Terimakasih, lagi-lagi kau menolongku"


"Aku yang seharusnya berterimakasih"


"Sesuatu? Katakan apa yang kau inginkan, nanti aku akan menyuruh Bright menyiapkannya untukmu"


"Tidak. Kau tidak perlu menyuruhnya dia tidak akan bisa mendapatkannya" Gulf semakin tidak mengerti.


Cup!


Gulf terkejut karena Mew menciumnya.


"Kenapa kau terkejut? Itu bukan ciuman pertama kita kan?" Gulf masih menatapnya terdiam.


"Ah baiklah. Kau masih saja menghindariku" Mew tampak merajuk dan Gulf masih tidak tahu dengan perasaannya. Tapi Mew yang menciumnya tidak membuatnya membencinya. Ia menyukainya. Hingga Gulf pun memberanikan diri menarik dagu Mew.


Cup!


Gulf membalasnya dengan sebuah kecupan.


"Kau puas? Aku sudah memberikannya. Jangan merajuk lagi" Mew tersenyum dan ia pun merangkul pinggang Gulf untuk mendekatkannya.


"Berikan aku lebih" Mew menekan bibir Gulf dengan bibirnya. Gulf tidak menolak dan ia pun membalas ciumannya.


Mew menekan tengkuknya untuk memperdalam ciumannya. Ia merindukan bibir ini. Kini ia bisa dengan puas menciumnya ******* bibirnya dan lebih lagi, tanpa Gulf yang mendorongnya.


Tok tok tok


Gulf melepaskan ciumannya, ia penasaran siapa yang datang. Namun Mew menahan pinggangnya dan kembali menarik dagunya.


"Biarkan saja" Gulf menurutinya dan kembali membalas ciumannya.


Tok tok tok


Ketukan pintu semakin keras, Gulf sedikit memaksa untuk menyudahi aktivitasnya itu. Hal itu membuat Mew kesal. Ia akan mengutuk orang yang berada di belakang pintu itu karena telah berani mengganggu waktunya.


"Masuklah"


Apo dan Pete memasuki kamar Gulf dan Mew menelan kembali kata-katanya. Ia pikir hanya seorang pelayan, tapi jika yang masuk adalah Apo, ia pun hanya bisa diam.


"Kenapa kalian lama sekali" Keduanya saling melirik tak menjawab, hingga Pete meletakan pedang suci Gulf yang sudah patah. Ia hampir melupakannya. Bagaimana ini? Pedang suci adalah simbol untuk seorang raja.


"Phi kau bisa memperbaikinya?"


"Aku sudah membawanya ke pandai besi, tapi dia bilang ada bahan khusus di dalam pedang ini. Apa kau tidak tahu siapa yang membuat pedang ini?" Jika dipikirkan Gulf sendiri tidak mengetahuinya pedang ini dibuat oleh siapa.


"Aku tidak tahu. Tapi mungkin orang-orang istana tahu, aku akan menanyakannya nanti" Apo mengangguk.


"Dimana pedang besar yang kau gunakan tadi?" Gulf mengambil sebuah pisau dari balik bajunya.


"Pisau ini yang tiba-tiba berubah menjadi pedang besar itu" Seakan ingat sesuatu, Mew membalikkan badan Gulf untuk menghadapnya.


"Benar. Sebelumnya dadamu tertusuk, kau terluka?" Mew menyentuh dadanya, tapi tidak ada luka sedikit pun.


"Aku tidak apa-apa"


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kau tahu? Pedang itu adalah pedang milik ibumu. Sudah sangat lama sekali kita mencari pedang itu. Aku tidak menyangka bisa melihatnya tadi" Gulf melihat pisau di tangannya, ia sendiri tidak terlalu mengerti dengan apa yang terjadi tadi.


"Aku tidak tahu pasti tapi tiba-tiba pisau itu bergetar dan menusukku. Setelah itu aku.. Yah seperti yang kalian lihat pisau itu berubah dan aku berhasil menghacurkan pedang itu"


"Pisau ini mengenalimu dengan menyerap darahmu. Darah ibumu tentu saja mengalir di dalam tubuhmu sehingga kini pisau itu mengikatmu dan sudah seutuhnya menjadi milikmu"


"Tapi ada yang tidak aku mengerti. Saat itu aku yakin menghancurkan tubuhnya hingga jantungnya pun hancur" Ucap Mew memotong pembicaraan Gulf dan Apo.


"Sumber kehidupannya beralih ke pedangnya. Sehancur apapun tubuhnya jika pedang itu tidak di hancurkan, dia tidak akan mati" Jelas Gulf. Ia sendiri baru mengetahuinya saat beradu pedang dengan Nick. Saat itu, sudah berkali-kali ia menusuknya bahkan memenggalnya, tapi Nick selalu kembali seperti semula.


...****************...


Gulf dan para pemburu kembali ke istana yang langsung disambut oleh Bright. Ia sangat khawatir saat rajanya itu harus pergi tanpa dirinya. Tapi kini ia bersyukur bisa melihatnya kembali dengan sehat tanpa luka sedikitpun.


"Yang mulia selamat datang" Bright memberi hormat padanya.


"Siapkan kamar untuk mereka" Bright pun mengangguk.


"Yang mulia tuan Pond ingin bertemu denganmu"


"Ada apa?"


"Dia bilang menemukan tuan Weir"


"Apa?! Bawa dia padaku" Bright pun pergi mengantar para pemburu sebelum menemui tuan Pond. Mew tidak mengikuti Bright melainkan ia mengikuti Gulf.


...****************...


Keduanya berada di kamar Gulf. Entah kenapa Gulf malah membawanya ke kamarnya.


"Apa kau yakin tidak apa-apa aku beristirahat disini?"


"Ini kamarku. Jadi aku bebas menampung siapa pun" Mew memeluknya dari belakang.


"Katakan saja kau ingin tidur denganku" Gulf merasakan panas diwajahnya. Ia hanya ingin Mew beristirahat dengan tenang tanpa gangguan apapun.


"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" Mew tertawa seketika ia ingat dengan leher Gulf yang saat itu telah disentuh oleh Nick. Mew membalikkan tubuh Gulf dan saat itu juga ia mencium leher Gulf menghisapnya sampai terlihat tanda merah.


"Phi apa yang kau lakukan?!"


"Dimana saja dia menyentuhmu?"


"Apa maksudmu?"


"Nick menciummu saat itu. Kau tidak ingat?" Gulf menyentuh lehernya. Ia tentu saja mengingatnya.


"Dia hanya menciumku sekali kenapa kau begitu gelisah"


"Kau milikku. Aku tidak suka orang lain menyentuhmu" Gulf rasanya ingin tertawa melihat tingkah Mew yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Baiklah aku mengerti. Kau bisa istirahat dulu, aku masih harus menemui tuan Pond"


"Aku temani?"


"Tidak. Kau tetap disini" Mew menunduk terdiam.


Cup!


Gulf mengecupkan bibirnya.


"Aku tidak akan lama" Mew tersenyum dan Gulf keluar dari kamarnya.


...****************...


Gulf masuk keruangannya dan sudah ada tuan Pond dan Bright yang menunggunya.


"Kudengar dia sudah ditemukan. Dimana dia?"


"Dia ada di kantor keamanan kota dan dia sudah mati"


"Apa?!"


"Kemarin aku mengantar saudaraku ke sebuah penginapan. Kemudian saat itu terdengar suara teriakan dari dalam sebuah kamar. Pengurus penginapan itu mencoba membuka kamar itu dan aku juga karena penasaran ikut melihatnya. Aku melihat mayat dengan tubuh yang hitam sampai kami pun tidak mengenalinya tapi melihat baju yang dikenakannya aku rasa itu tuan Weir. Prajurit sudah membawanya untuk mencoba mengidentifikasinya. Sebaiknya yang mulia juga melihatnya"


"Bawa aku kesana" Gulf pun segera pergi.